Wisata Budaya: WARUGA, Sawangan

Masih ingat dengan pelajaran sejarah yang menyebutkan kata WARUGA? Ini temannya punden berundak-undak, menhir, dll. Ingatkah? Yang masih ingat, masih ingat juga waruga itu apa? Dimana letaknya?

Merajuk pada postingan sebelumnya tentang Manado, Waruga ini HANYA dapat ditemukan di Manado. Hanya masyarakat Manado pada jaman dulu yang melakukan tradisi ini. Setidaknya di Indonesia.

Selamat Datang! :)

Selamat Datang! :)

Pada perjalanan kali ini di Manado, saya mengunjungi cagar budaya waruga yang terletak di Air Madidi, Desa Sawangan. Perjalanannya sungguh mendaki gunung lewati lembah. Alhamdulillah ada kendaraan jadi gak harus naik kendaraan umum. Untuk yang mencari cara ke cagar budaya ini tapi naik kendaraan umum, silahkan di cari di google yaa. Sepertinya ada yang pernah menuliskannya :)

Satu kata tentang kompleks ini: SEPI. Ya namanya juga kuburan batu sih ya, ngarep apaa? Tapi tadinya saya pikir akan ramai loh, karena ini cagar budaya, karena ini obyek wisata. Tapi nihil. Cuma saya (dan pak supir) nampaknya saat itu pengunjungnya *gak tau kalau ada yang gaibnya*. Hii.

Cagar budaya ini masuk dalam pemeliharaan balai penelitian Gorontalo. Dipugar pada tahun 1977-1978 dan diresmikan pada 23 Oktober 1978 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I saat itu yaitu pak DR. Daoed Joesoef.

Waruga itu sendiri adalah kuburan batu peninggalan zaman Megalitikum. Komplek ini pun isinya kuburan batu beraneka macam. Karena sepiiii (betul-betul gak ada orang) saya memberanikan diri untuk masuk ke kompleksnya dengan membuka pintu pagarnya. Tapi ternyata di kunci. Gak berapa lama, tiba-tiba ada bapak-bapak yang lari dari ujung jalan kemudian membuka kunci tersebut dan mempersilakan saya dan pak supir masuk (Iya, pak supir yang selama perjalanan malas-malasan itu pun akhirnya semangat turun karena katanya sebagai orang Manado dia malu karena gak tahu cagar budaya ini. Ini pertama kalinya dia kesini, hihihi). Bapak yang lari tadi memperkenalkan diri sebagai pak Anton, penjaga Waruga. Hehehe, maaf ya pak, main asal buka aja :D

Bapaknya Lari dari Ujung, hihihi. Maaf, pak :D

Bapaknya Lari dari Ujung, hihihi. Maaf, pak :D

Komplek Cagar Budaya Waruga

Komplek Cagar Budaya Waruga

Ukuran Waruga Berbeda-beda

Ukuran Waruga Berbeda-beda

Di pintu masuk komplek ini ada relief pada tembok kanan-kirinya. Relief sebelah kiri dari jalan masuk menggambarkan proses pembuatan waruga sedangkan relief sebelah kanan menggambarkan macam-macam mata pencaharian atau profesi dari masyarakat Minahasa saat itu.

Sebagai seorang penjaga waruga, pak Anton menjelaskan kepada kami tentang asal muasal waruga. Jadi waruga ini adalah tempat penguburan mayat Minahasa. Dulu setiap keluarga punya waruga di depan rumahnya. Waruga ini dibuat oleh laki-laki kepala keluarga walaupun dia belum meninggal. Katanya sebagai penanda akan datangnya kematian makanya dibuat sendiri dan akan digunakan untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Batu-batu yang akan digunakan adalah batu solid yang dibawa dari gunung api ke kampung, dengan cara dijinjing lalu dengan peralatan seadanya, batu itu dikerok/dicoak, sebagai tempat tubuh orang yang meninggal. Dijinjing sodara-sodara, ngebayanginnya aja udah ngeri, itu berat banget.

Satu waruga dapat berisi 1-7 orang anggota keluarga (tapi tidak sekaligus, sesuai dengan urutan matinya). Hal ini ditandai dengan garis-garis yang terdapat pada sisinya.

Jumlah Isi Waruga

Jumlah Isi Waruga: 3 Mayat

Jumlah Isi Waruga:

Jumlah Isi Waruga: 7 Mayat (Maksimal)

Waruga ini akan diletakkan menghadap Utara sesuai dengan kepercayaan masyarakat pada jaman itu. Setelah meninggal, jasadnya si mayit akan di angkat dan diletakkan di dalam waruga dengan posisi didudukkan di atas sebuah piring (atau periuk atau semacamnya) dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut seperti posisi seorang bayi dalam rahim ibu. Batu ini adalah morfologi rahim ibu tempat manusia dilahirkan dan kesanalah mereka akan berpulang yang diyakini oleh masyarakat Minahasa dulu.

Khusus untuk mayit perempuan, diletakkan periuk kembali di atas kepalanya. Katanya sih supaya segala perhiasan yang dikenakan oleh si mayit akan berada di dalam periuk (atas dan bawah) sehingga tidak mudah diambil orang. Sedangkan bagi mayit laki-laki akan membawa senjata seperti tombak dan alat-alat perang lainnya.

Yang saya kagum adalah pada relief tembok digambarkan proses pemindahan jasad mayit oleh kerabatnya yang dilakukan dengan cara.. di GENDONG. Iya di gendong, perhatikan gambar di bawah ini yaaa…

Relief di Tembok, Sejarah Waruga

Relief di Tembok, Sejarah Waruga

Perhatikan gambar ke-3 dari kanan. Digendong kan? Berarti memang benar orang-orang jaman dulu super kuat dan super guedeee.

Waruga tidak digali ke dalam tanah tetapi berdiri di atas tanah dengan lebar 1 meter dan panjang 1-2 meter.

Waruga di komplek ini bermacam-macam. Ada yang terdapat ukiran pada tutupnya, ada yang tidak. Ada yang untuk satu orang, ada yang untuk sekeluarga. Ukiran pada tutupnya pun bermacam-macam, ada yang menandakan profesinya ada pula yang menandakan daerah asalnya. Profesi bidan, misalnya; terdapat ukiran bayi kecil-anak2-remaja-sampai dewasa. Saat dewasa, tokoh di ukiran tersebut mengenakan pakaian suster dengan alatnya. Profesi penari, tokoh di ukirannya sedang menari.

Waruga Proses Bayi (1 sisi)

Waruga Proses Bayi (1 sisi)

Relief Penari

Relief Penari

Ada pula yang digambarkan sesuai dengan proses kematiannya. Ada ukiran di waruga yang menggambarkan seorang ibu dengan bayinya, itu diyakini sebagai kuburan wanita yang meninggal saat melahirkan bayinya.

Di komplek waruga ini juga terdapat waruga dengan motif ukiran cina, spanyol, dan jepang. Cina khasnya naga, spanyol khasnya orang tinggi besar mengenakan jas, jepang khasnya orang dan matahari, dll. Ini menandakan pada masa itu (waruga dipercaya muncul sejak 1600 AD), sudah ada pendatang dari daerah Cina Daratan (Mongolia), Spanyol, dan Portugal. Mereka semua sudah ada di tanah Minahasa jauh sebelum kita menyadarinya. Ini dibenarkan oleh pak Anton.

“Lihat saja sekarang, orang-orang asli Manado itu khas. Tinggi, kulit kekuningan, pipi tinggi, belum lagi hidungnya, khas orang Mongol”.

waruga cina

Relief Naga, Khas Cina/Mongol

Betul juga sih, ada miripnya memang. Kemudian pak Anton menambahkan mengenai salah satu tari tradisional di Manado yang bernama tari Kabasaran. Pak Anton menyebutkan nama lainnya (tapi saya lupa, hiks). Tarian itu merupakan kombinasi dari tari-tarian yang juga dipertunjukkan oleh masyarakat Spanyol. Itu adalah tari perang tapi lazim digunakan juga sebagai tarian selamat datang. Tarian ini pernah dipertunjukkan dihadapan beberapa kepala negara yang pernah datang berkunjung ke cagar budaya ini, di antaranya ialah Ratu Jualiana dan Pangeran Bernard, serta Ratu Beatrix dari Belanda, dll.

Foto Petinggi-Petinggi Negara yang pernah Mengunjungi Situs Cagar Budaya Waruga

Foto Petinggi-Petinggi Negara yang pernah Mengunjungi Situs Cagar Budaya Waruga

Dalam prosesnya, setelah mayat diletakkan di dalam waruga, waruga tersebut akan ditutup dan di seal menggunakan semen atau semacamnya dan tidak akan dibuka-buka sampai waktu yang lama. Ini mengakibatkan bagian dalam waruga seperti mengalami pembakaran secara natural oleh sinar matahari. Proses penguburan dengan waruga saat ini sudah dihentikan karena sempat ada waruga yang seal-nya tidak tertutup rapat, mengakibatkan uap panas keluar dan membawa wabah penyakit seperti kolera. Akhirnya pemerintah Belanda saat itu melarang penguburan dengan metode waruga. Selanjutnya mayat di kubur di dalam tanah.

Bagian Dalam Waruga yang Hancur

Bagian Dalam Waruga yang Hancur saat Pemindahan

Mau tau setinggi dan sebesar apa waruga ini? Nih saya kasih pembandingnya, abisnya gak bawa meteran. Hehehe.

Pembanding: Saya dengan tinggi 156 cm

Pembanding: Saya. H: 156 cm, W: 50 kg.

Iya itu gak tau kenapa fotonya jadi gak proporsional gitu, tapi yaudah lah yaa. Setidaknya kebayang kan? :D

Gak jauh dari komplek, terdapat museum berisi peninggalan sejarah. Kata Pak Anton, seluruh waruga yang ada di komplek ini sudah gak ada tulang belulangnya. Semua mayat sudah dikuburkan dan semua peninggalan mereka diamankan di museum ini. Psst, katanya ada peninggalan yang berupa keramik yang tahan panas dan dingin serta catnya tidak mengelupas sama sekali loh. Ini asli made in China kayaknya, atau seenggaknya made by Chinese people. Soalnya teknologinya gak ditemukan di Minahasa dan keramik semua orang juga tahu asalnya dari negeri porselen yaitu China. Koleksinya gak terlalu lengkap, karena yang bagus-bagusnya ditaro di Museum Pusat.

Rumah Adat Minahasa sekaligus Museum Waruga

Rumah Adat Minahasa sekaligus Museum Waruga

Kata Pak Anton, rumah adat seperti ini adalah yang asli khas Minahasa. Yang ada di TMII juga katanya, karena didatangkan langsung dari Manado sini. Jangan salah, rumah-rumah seperti ini sudah jarang ditemukan bahkan di Manado sendiri. Rumah khas Minahasa mempunyai 2 buah anak tangga yang saling berhadapan, bagian dalamnya luas tanpa sekat, dan bagian bawahnya kosong, persis seperti gambar. Bahkan katanya ada orang-orang bule yang memesan khusus dari Woloan kemudian dibawa ke negaranya dan dipasang disana. Semakin bangga gak sih jadi orang Indonesia? :)

Di dalam museum Waruga, terdapat peninggalan-peninggalan masyarakat Minahasa jaman dulu seperti macam-macam senjata, alat makan, sampai perhiasan. Yang bikin takjub adalah UKURANNYA.

Piring Keramik

Piring Keramik

Senjata dan Alat Perang

Senjata dan Alat Perang

Macam-Macam Perhiasan

Macam-Macam Perhiasan

Gelang. Amazed Banget Sama Ukurannya!!!

Gelang. Amazed Banget Sama Ukurannya!!!

Takjub banget dengan ukuran gelang dan kalungnya. Udah ukurannya jumbo, semuanya dibuat dari batu. Kebayang gak sih pakai perhiasan yang super besar dan super berat? Tinggi gelang ini sekitar 10-15 sm dengan diameter sekitar 10 cm. Mamam banget.

Foto sama Pak Anton, Makasih Banyak yaa Pakkk! :)

Foto sama Pak Anton, Makasih Banyak yaa Pakkk! :)

Waruga ini ternyata masuk dalam daftar kebudayaan di UNESCO. Jadi sebagai orang Indonesia, jangan hanya tahu Borobudur saja yaa ;) yuk lihat langsung apa yang pernah ada dalam buku sejarah kita. Lihat langsung jadi bisa bercerita lebih banyak. Siapa tahu jadi makin hapal sama sejarah sendiri. Hehehe.

Kesampingkan dulu aja rasional dan gak rasionalnya. Karena kata salah satu guru besar favorit saya:

Selalu ada yang rasional dalam setiap hal yang irasional. Pertanyaannya adalah rasio siapa yang dipakai.

– Prof. Jakob Sumardjo

Cheers!

~p.r.p.l.p.h.r.z

Manado kali ke Dua. Highlight: AIR MADIDI

Postingan ini seharusnya saya buat langsung sekembalinya saya dari Manado, tapi ditunda-tunda terus jadilah baru dibuat sekarang (salah satu resolusi 2014: gak menunda sesuatu, hehe).

Manado Tua *look at the clear and bright sky!!!*

Manado Tua *look at the clear and bright sky!!!*

Bulan Oktober 2013 yang lalu, alhamdulillah saya berkesempatan untuk kembali mengunjungi Manado. Ini kunjungan saya yang ke dua berarti. Kunjungan yang pertama di tahun 2010. Ayah saya kongres di sana dan kami murni berwisata air. Semuanya tentang eksplorasi kekayaan bawah laut Manado dan tentu saja, kuliner. Saat itu teman ayah saya, seorang dokter anak terkemuka di Manado masih hidup. Beliau membawa kami semua pergi mengunjungi pulau pribadinya. Iya, beliau punya pulau pribadi yang dari pulaunya bisa terlihat gemerlap lampu Filipina. Setelah ditanya kenapa punya pulau sendiri, jawabnya adalah karena ia HARUS membelinya. Karena kalau tidak, pulau tersebut akan dijual oleh pemerintah propinsi kepada asing. Jadi ia menyelamatkan pulau tersebut dan mengubahnya menjadi pulau resort pribadi walaupun banyak bule curi-curi untuk menyelam di pulaunya (karena bawahnya memang indaahhh, bunaken aja kalah). Sayang mimpinya beliau untuk membeli semua pulau tersebut belum tercapai, karena sudah lebih dulu dipanggil oleh Tuhan. Rest in peace disana ya, Om :)

Ah, memori :”)

Bagian timur Indonesia memang terkenal dengan kekayaan bawah lautnya. Indah dan banyak yang belum terjamah. Tak jarang dijadikan destinasi penyelaman baik untuk turis lokal maupun internasional. Tapi saya sudah bertekad, pada kunjungan ke dua ini saya tidak akan hanya melihat lautnya saja, tapi juga harus wisata budaya dan mencoba mengunjungi tempat-tempat yang beum pernah saya kunjungi selama disini. Manado itu tidak terlalu besar sebenarnya (dibanding Jakarta) atau mungkin karena tidak sepadat Jakarta ya makanya saya berpikir kalau Manado itu tidak terlalu besar. Tapi serius, selama saya disana, saya seperti hapal jalan karena melawati jalan yang sama berulang-ulang kali.

Jadi ini tempat-tempat yang saya kunjungi selama di Manado kali ke dua:

1. Klenteng Ban Hin Kiong

Klenteng Ban Hin Kiong

Klenteng Ban Hin Kiong

ban hin kiong

Sejarah Klenteng Ban Hin Kiong. I spy: ME! Ehehehe

Kelenteng ini merupakan kelenteng tertua di Manado. Ini menjadi saksi sejarah bahwa masyarakat keturunan Tionghoa sudah ada di Indonesia bahkan jauhhhh sebelum Indonesia merdeka. Kelenteng ini sendiri dibangun pada tahun 1819. Kelenteng yang sekarang merupakan hasil renovasi dari kelenteng sebelumnya. Kelenteng ini berwarna merah khas, dan terletak di jalan raya D.I Panjaitan.

Sembahyang di Klenteng

Sembahyang di Klenteng

Saat saya mengunjungi klenteng tersebut, orang-orangnya sangat ramah. Seorang ibu bahkan berdiri untuk menawarkan saya duduk. Mungkin dia memperhatikan saya yang sibuk ambil gambar sana-sini, dan membaca semua tulisan di papan pengumuman kemudian kasian, hahaha. Saat itu sedang ada orang yang sedang sembahyang. Saya mengenal ritual itu karena masih khas dalam kehidupan saya. Ritual itu dilakukan oleh salah satu nenek saya sewaktu beliau masih hidup. Orang itu kemudian menyalakan dupa dan  memegang hio, menggerakkan tangan ke atas ke bawah, menulis di selembaran kertas, melemparkan koin, kemudian kalau koinnya belum sesuai dia akan mengulangi proses yang sama dari awal :)

2. Monumen Yesus Memberkati

Monumen Yesus Memberkati

Monumen Yesus Memberkati

Monumen Yesus Memberkati ini merupakan ikon kota Manado. Monumen ini terletak di komplek perumahan Citraland. Selama ayah saya kongres, saya dapat satu mobil dengan satu supir yang bebas digunakan kemana saja. Alhamdulillah! Selepasnya dari klenteng, kami melewati monumen ini. Dan si pak supir dengan inisiatifnya langsung menawarkan mau berhenti atau tidak. Saya mikir-mikir lagi karena monumen ini sudah pernah saya kunjungi sebelumnya. Trus dia bilang lagi, bisa naik katanya sampai ke atas. Saya belum pernah naik ke atas. Penasaran ada apa di atas langsung ingin naik. “Tapi naik sendiri ya, saya tunggu disini”, kata pak supir. No problemo, pak! Apa gunanya capek-capek jadi hamster lari di  treadmill kalau gak kuat naikin tangga-tangga ini, pikir saya.

Ternyata beneran tinggi. Saya kualat, haha. Di sepanjang tangga, ada gambar-gambar proses kelahiran, di salib, sampai kematian Yesus. Di paling atasnya, bersama dengan monumen yang supeeeerrrrrrr gede, ada patung-patung kecil lainnya yang mengelilinginya. Cuma saya gak tahu itu apa dan gak ada orang yang bisa ditanya. Si pak Supir pun ketika saya tanya begitu saya sampai lagi di bawah, ternyata gak tahu karena dia belum pernah naik. Hih, saya kirain dia males naik karena udah pernah naik sebelumnya, gak taunya karena gak kuat katanya -___-“

Sepanjang Jalan Menuju Monumen

Sepanjang Jalan Menuju Roma Monumen

Gambar Yesus di Monumen Yesus Memberkati 1

Gambar Yesus di Monumen Yesus Memberkati (1)

Gambar Yesus di Monumen Yesus Memberkati (2)

Gambar Yesus di Monumen Yesus Memberkati (2)

Pemandangan dari atas

Pemandangan dari atas

3. Monumen Titik Nol

Saya dapat informasi ini dari google. Tapi trus saya diketawain sama pak supir karena ini masuk dalam list kunjungan saya. Katanya, nanti juga kita lewat situ. Ternyata benar, itu sering kita lewati karena dekat dengan pusat kota. Saking dekatnya dengan pusat kota dan juga pusat kemacetan, trus gak jadi turun dan gak jadi ambil gambar… Tapi penampakannya sih kayak gini. Monumen titik nol dengan tulisan ZERO mengelilingi nya.

Manado Zero Point

Manado Zero Point

4. Tomohon (Flower Street, City Market, dll)

Inginnya ke Danau Linau, tapi trus melewati kota Tomohon. Disini udaranya sejuk, katanya kalau pagi penduduknya masih mengenakan jaket karena ini termasuk dataran tinggi-nya kota Manado. Sepanjang jalan banyak penjual bunga dan juga hasil-hasil kerajinan tangan berupa anyaman bambu. Ada pasar hewannya. Dan di pasar ini dijual hewan-hewan dalam keadaan hidup dan mati. Maksudnya tadinya hidup trus jadi mati karena dibunuh di tempat. Cara ngebunuhnya pun dengan cara si hewan di masukkan ke dalam karung, dan karungnya dipukul-pukul pake tongkat atau sejenisnya sampai apa yang ada di karung tidak bergerak lagi. Sadis? Lumayan sih, tapi itu jadi tontonan turis-turis disini. Saya sih gak berani. Gak tega T_T

5. Danau Linau

Danau ini katanya bisa berubah warna akibat adanya kandungan sulfur yang sangat tinggi. Saat yang paling baik untuk melihat perubahan warnanya adalah ketika siang hari atau sehabis hujan. Dan memang terlihat. Danau yang tadinya airnya berwarna hijau menjadi biru kemudian hijau lagi dengan gradasi yang seperti ‘berjalan’. Berkunjung ke danau ini tidak disarankan untuk yang gak kuat mencium bau belerang, karena memang bau banget.

Dermaga Danau Linau

Dermaga Danau Linau

Lagi Renovasi *hiks*

Lagi Renovasi *hiks*

6. Danau Tondano

Ini murni danau aja sih. Yang terbesar di Manado. Tapi sayang sudah banyak eceng gondoknya. Dulu sempat pemerintah pusat menggalakan program kerajinan eceng gondok bagi para ibu-ibu, tapi katanya setelah ganti pemimpin, ganti pula program dan akhirnya ini gak digalakan lagi. Sayang banget. Soalnya eceng gondoknya bikin kotor dan ganggu pemandangan. Oiya, di danau ini ada restoran loh. Lumayan untuk mengisi perut setelah perjalanan jauh, namanya Restoran Tumou Tou.

7. Desa Sawangan, Air Madidi

INI!! Saya mau cerita yang banyak tentang ini! Tapi kayaknya di post terpisah lebih seru deh. Setelah postingan ini yaa *to be continue*.

8. Bunaken

Masih menjadi list wajib kunjungan di Manado. Tapi yang sekarang gak dibawa ke wall-nya karena trip yang ini banyakan ibu-ibu dengan anak-anak kecilnya. Tapi gak papalah, karena saya-nya juga lagi halangan makanya gak bisa nyebur *jadi gak iri*, hahaha.

boy with a flag

Local Boy with Indonesian Flag

Lihat deh langitnya, cerah banget kan? Such a good day to dive. Tapi perhatikan gambar yang bawah, ini sesaat ketika kami sampai di Marina lagi. Langit langsung abu kelabu..

Abu Kelabu

Abu Kelabu

9. Makam Tuanku Imam Bonjol

Seriusan saya baru tahu kalau makam Tuanku Imam Bonjol ada di Manado. Well, gak benar-benar Manado sih, lebih ke perbatasan kota karena ini di Minahasa. Jadi Sulawesi Utara itu terbagi menjadi 5 kecamatan tadinya, trus pemekaran sampai 9 kecamatan. Masing-masing ada yang namanya Manado Tua, Minahasa Utara, Minahasa Timur, dll; itu kata penduduk lokal. Tapi kalau dari Wikipedia sih namanya Bunaken, Malalayang, Mapanget, Sario, Singkil, dll; trus saya jadi bingung sendiri. Hahaha. Ya pokoknya begitulah, makam ini di luar kota Manado tapi masih di Sulawesi Utara.

Taman Makam Pahlawan Tuanku Imam Bonjol

Taman Makam Pahlawan Tuanku Imam Bonjol

Tempat Makam Tuanku Imam Bonjol

Tempat Makam Tuanku Imam Bonjol

Makam Tuanku Imam Bonjol

Makam Tuanku Imam Bonjol

Keterangan Lahir-Meninggal Tuanku Imam Bonjol

Keterangan Lahir-Meninggal Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol meninggal di pengasingan. Di dalam kompleks pemakaman ini tidak cuma makam yang dapat kita temukan, tapi juga tempat ibadat dari beliau. Beliau melakukan sholat di atas batu di tepian sungai. Batu tersebut besar dan panjang; dan terdapat bekas sujud karena terdapat cekungan di bagian yang dianggap tempat beliau meletakkan kening, lutut, dan juga jari-jari kaki serta tumit. Beliau meninggal di tahun 1854.

Tempat Solat

Tempat Solat

ibadah imam bonjol

Batu Tempat Solat Imam Bonjol

Batu Tempat Solat Imam Bonjol

Ini guedeee dan panjanggg banget, seriusan.

Ini guedeee dan panjanggg banget, seriusan.

Papan Pengumuman

Papan Pengumuman

Ada yang menarik dari kompleks pemakaman ini. Sejarah lokal mengatakan, pada tanggal 13 Februari 2006, kompleks ini terkena banjir dahsyat. Banjir ini membawa batu tempat beliau biasa beribadat dan secara kencang menghantam pabrik miras yang ternyata berdiri di sebrangnya. Minuman kerasnya semacam bir/tuak dengan merk cap Tikus kalau gak salah dengar sih. Wallahu’allam.

Kali yang sempat mengalami banjir

Kali yang sempat mengalami banjir

Btw, selama perjalanan di kota, saya sempat melewati jalan yang sekilas mengingatkan saya kepada jalan-jalan di Astana Anyar, Bandung. Bedanya, ada satu toko yang ramai berdiri orang-orang di luarnya sedangkan kondisi toko hanya terbuka 1 pintu saja. Mereka berteriak-teriak seram sekali. Saya tanya ke pak supir itu sedang ada apa. Beliau menjawab santai, katanya itu toko pabrik miras. “Biasa kak, pada minta gratisan”. Trus jadi ingat lagi perkataan teman saya orang Manado asli. Katanya kalau di Manado sana, kaya atau tidaknya seseorang itu dilihat dari dimana dia tidur. Kalau dia tidurnya di jalan berarti dia lebih kaya dibandingkan yang miskin. Karena katanya, yang kaya akan mabuk-mabukan sampai malam dan tidur di jalan. Entah ini anekdot atau kenyataan, tapi yang saya dengar seperti itu.

Akhirnya selesai juga perjalanan singkat ke Manado ini. Gak bisa lama-lama karena kongres ayah saya juga sudah selesai. Alhamdulillah wawasan saya bertambah. Tahun depan harus banyak-banyak travel keliling Indonesia! Insya Allah. Ada yang mau ikut? *cari temen* Karena agak susah sih travel sendirian. Karena lebih bahaya. Karena gak bisa moto diri sendiri (bisa sih, tapi kurang bagus aja gitu hasilnya, layar display-nya terbatas). Hahaha. Sayang saya baru tahu teknologi tongsis sepulangnya dari sini. Kalau tahu lebih dulu kan bisa lebih kece, ya gak sih.

2014 Wish: Keliling Indonesia!!!

2014 Wish: Keliling Indonesia!!!

OH IYA, ceklis saya nambah satu:

NAIK ANGKOT MANADO DI MANADO. Iya, angkot yang jep-ajep-ajep itu, yang full lampu disko dalemnya dengan musik yang hingar bingar. Saya sukses naik itu, tanpa nyasar, sendirian. How cool is that?!

Until I see you again, Manado. Please don’t be more crowded than this. 

PS: Sorry for the low-res photos. I uploaded this post with my super old laptop. And apparently, he was too tired to upload the high-res one and too sick to run photoshop. So I print-screened all the images and re-save them using paint. Yeah, lazy me.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Kenawa [Part 0]

“Mei ikut yuk! Ke Kenawa.”, ajakan teman dekat saya suatu hari.

Saya dengan kemampuan geografi yang sangat terbatas tidak ada ide sama sekali dimana Kenawa itu. Saya pun bertanya apakah masih di Indonesia apa bukan. Katanya, masih. Di NTB.

Penasaran, kemudian saya tanya mbah Google.

Dan munculah gambar-gambar breath-taking ini. Ya Allah… Indah. Continue reading

Wisata Religi (Part 3 — End)

Hari terakhir dari liburan di penghujung tahun 2012.

Matahari bersinar sangat terik hari ini. Madura pun seperti Madura pada umumnya, puanas pol. Pagi ini rencananya adalah ziarah terakhir ke makam Syaikh Kholil di Bangkalan. Bersyukur sekali, ternyata rumah temennya bapak ini di Bangkalan, dan dekat sekali dengan makamnya Syaikh Kholil. Bahkan nama jalannya pun jalan Syaikhonna Kholil. Continue reading

Wisata Religi (Part 2)

Ini hari ke-2. Dan agenda hari ini adalah ke BROMO!!! Woohooo! Dan ziarah ke-2, hehe.

Di Bromo…

Kami sekeluarga bangun pagi sekali. Jam 2 pagi sudah bangun karena paling lambat jam 3 pagi kami harus sudah keluar dari penginapan dan menuju Penanjakan. Masih sangat  gelap. Kami bersyukur, pagi ini hujan enggan turun sambil tetap berdoa agar awan dan kabut tidak menghalangi. Continue reading