Setiap Kali Mendengar Berita Duka

Setiap kali mendengar berita duka…

Suasana hati pasti akan ngedrop sesaat dan ada semacam flashback yang kembali ditarik paksa dari memori otak tentang siapa almarhum/almarhumah dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Umumnya yang baik-baik.

Setiap kali mendengar berita duka…

Yang selalu saya tanyakan adalah “bagaimana bisa?”. Bagaimana prosesnya dia meninggal. Proses perpindahan ini selalu unik setiap orangnya, dan tidak berpola. Semakin mengukuhkan bahwa Tuhan memiliki lebih dari 1001 cara untuk memanggil manusianya pulang. Kapan pun, dimana pun.

Setiap kali mendengar berita duka..

Saya selalu bertanya-tanya, akan seperti apa prosesnya nanti ketika akhirnya Tuhan memanggil saya pulang.

Setiap kali mendengar berita duka…

Saya bertanya kepada diri sendiri, apa yang nantinya akan saya tinggalkan dan bagaimana mereka menyikapi kepergian saya. Memori baik kah, impresi memuaskan kah, atau malah hutang janji yang belum terbayar.

Setiap kali mendengar berita duka…

Saya selalu bertanya, jikalau waktu saya telah tiba akan adakah yang mengantarkan saya ke tempat peristirahatan terakhir?

Setiap kali mendengar berita duka…

Saya selalu bertanya, apa yang sekiranya saya lakukan terakhir sesaat sebelum pergi nanti? ‘Pakaian’ apa yang saya kenakan? Apakah rapi dan pantas?

Setiap kali mendengar berita duka…

Selalu bermonolog…

Seperti tipikal orangtua di perantauan yang selalu berkata “pantang pulang sebelum jadi orang!”, namun waktunya sudah orangtua itu tentukan tanpa diketahui sang anak. Sang anak hanya tahu tugasnya adalah merantau, tujuannya satu: untuk dapat pulang ke kampung halaman membawa berita gembira bahwa dirinya telah sukses menjadi ‘seseorang’ yang pasti membanggakan bagi anak dan orangtuanya ketika masanya habis.

Akankah saya dapat pulang dengan perasaan sukacita nantinya ketika waktu yang ditentukan telah habis?

Dan seperti seorang perantau yang merindukan kampung halamannya, saya pun seharusnya selalu merindukan tempat berpulang karena nyatanya kehidupan memang hanyalah sebuah jalan untuk pulang.

Setiap kali medengar berita duka…

Saya semakin yakin bahwa quote ini benar:

When someone you love dies, you’re not sad and angry for them. You’re sad for you. You’re angry at yourself.

When you cry, you’re not crying for the person who died. They’re gone, they’re at peace. You’re crying for you, because you’re the one who lost a dear person and you’re the one who has to live with the hole they left you with. You’re the one who is going to live with the constant feeling that something will always be missing from your life.

You cry because it’ missing. You’re angry at yourself because you find out that you’re at fault for not looking into that person’s eyes the way you had to. You regret not spending time with them more often, not talking with them, not getting enough of them.

You regret not savoring every moment you could have had with them, because you know that they’ve taken a part of you that you might nevet get back.

The person who dies doesn’t have to worry about how the world will be without them.

You do.

-Lyra Klaude-

Pada akhirnya memang tentang apa, siapa, dan bagaimana yang ditinggalkan..

Innalillahi wa inna illaihi rajiun :(

Semoga Allah melapangkan kubur dan menerima segala amal ibadah.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Pemimpin dan Yang Dipimpin

Menjadi seorang pemimpin, menurut saya, syarat utamanya dan mutlak adalah adanya orang yang mau dipimpin. Tapi ternyata, syarat itu saja tidak cukup. Haruslah ada syarat-syarat lainnya seperti: tahu arah dan tujuan, tahu mau dibawa kemana, punya fasilitas (jabatan/kedudukan), punya orang sukses dalam bidangnya yang dapat ditanya (dalam hal ini mentor atau guru), dst.

Bingung?

Mungkin seperti ini ilustrasinya. Continue reading

Batas

Ketika yang terlihat normal sebenarnya bila dilihat lebih jauh dan ditilik maknanya adalah tidak normal. Ketika yang diteriakkan benar sebenarnya tidak benar. Ketika kaum mayoritas yang berkuasa memegang nilai-nilai yang tidak sesuai dengan norma-norma. Lantas haruskah kita bertanya kepada sesama, nilai apa yang kamu pegang? Atau: siapa yang kamu bela?

Akhir-akhir ini itu beberapa kalimat yang ada di kepala saya. Dan semua materi kuliah yang saya pelajari di semester terakhir pendidikan master saya berputar-putar di kepala (bukan, bukan tentang keteknikan). Tentang value, tentang nilai, tentang apa itu ada, dan apa itu tiada. Continue reading