Monolog #1

Pikiran kembali berkelana
Mempertanyakan arti semua pertanda
Akankah karena kurangnya doa
Atau karena belum maksimalnya usaha
Atau mungkin karena bukan itu yang terbaik untuk kita?

Pilihan terpampang di depan mata
Mungkinkah hati jadi lebih terbuka
Dalam melihat semua sisi dunia

Orang bijak suatu hari berkata
Semakin tinggi posisi kita
Semakin luas melihat kita
Iya, itu seharusnya

“Yang takut ketinggian dilarang mendaki”
Kataku, harus mendaki!
Agar tahu potensi diri
Sejauh dan setinggi apa kendali

Mungkin puncak hanyalah tujuan
Ketika sampai pun akan ada pertanyaan
Akankah berdiam sampai matahari terbenam
Ataukah kembali karena hidup harus dilanjutkan

Tapi yang namanya pendaki tidak boleh takut jatuh
Seperti pengelana yang tidak boleh takut tersesat

Jakarta, 14 Februari 2014
00:30 WIB

~p.r.p.l.ph.r.z

Advertisements

Tentang Tanya

Ketika pikiran berkelana
Terhempas raga ke udara
Dunia seperti berhenti berputar
Menyisakan impian yang tak pernah pudar

Pertanyaan itu selalu sama
Tentang siapa mencari apa
Kebutuhan raga dan dunia
Tapi bukankah itu semua fana?

Ketika hati ikut berbicara
Persetan dengan logika
Semua yang tak kasat mata
Menjadi rasa yang teramat nyata

Ah, lagi-lagi tentang hati
Yang berbicara bukanlah materi
Pertahankan nilai Ilahi
Karena itulah segala yang pasti

~p.r.p.l.ph.r.z

Harapan

Ketika tiba masanya
Sekuat apapun badan meminta
Tumbang sudah segala
Hanya ikhlas yang dipaksa merela

Tak peduli ia siapa
Dari mulai profesional muda
Sampai rakyat jelata
Semua tak terbenteng kata

Sakit itu penggugur dosa
Walau kadang datang bersama duka dan nestapa
Tapi kesempatan itu selalu ada
Untuk diri sendiri berbicara

Entah bermonolog entah berdialektika
Yang jelas semua turut berkata
Tumpah ruah rasa segala
Membuncah tak terkira

Sehat itu mahal harganya
Bertaruh dengan sepenuh jiwa
Walau seperti mengawang raga
Tapi semoga hati tetap terjaga

~p.r.p.l.p.h.r.z
RSCM Gedung A Ruang 320
17:35 WIB

Pak Tua

Pak Tua mengurut pelan keningnya
Mengerjap-ngerjapkan mata yang sudah tak lagi awas
Terlihat guratan-guratan disekitarnya
Tanda usia sudah lewat mawas

Pak Tua bertanya pada diri sendiri
Apa yang selama ini ia cari
Mungkin berusaha membahagiakan diri
Namun yang terlihat apakah hanya sebatas materi?

Mematut sembari bergumam
Mengingat segala idealisme di masa terang
Tetap berjuang. Tetap berkorban
Rela kehilangan demi prinsip yang tak terbantahkan

Pertahankan!
Maka kenyataan hidup bisalah diubah, katanya
Pak Tua pun tersenyum di usia senja
Manggut-manggut mengerti satu hal ia

Bahwasanya selamanya ideal kepunyaan Sang Pencipta
Selalu ada godaan. Selalu ada tantangan
Dualisme pun telah mendarah daging
Ia paham itu sekarang

Tapi tak pernah ada kata menyesal
Karena telah mempertahankan apa yang ia anggap benar
Justru sekarang ia boleh tersenyum bangga
Karena berhasil menyeimbangkan semesta

 

~p.r.p.l.p.h.r.z
Jakarta, 14 Januari 2012
Diantara hiruk pikuk lalu lalang orang dan kepulan asap

Cerita Si Buku Merah

Buku merah diberikan kepada saya
Sebagai hadiah wisuda katanya
Perlu cara gila
Agar tidak dilupakan begitu saja

13 lembar sudah terisi
Kebanyakan tentang hati
Tapi kemana pun ia mencari
Belum ditemukan jawaban yang pasti

Buku merah masih terus menunggu
Untuk diisi lembaran baru
Tanda dilibatkan dalam setiap waktu
Tapi hei, siapa aku?

~p.r.p.l.p.h.r.z
October 19, 2012