“Tuhan selalu baik, my”

Hari ini, selagi menunggu pembimbing 2 datang ke ruangan, saya duduk di depan ruang Tata Usaha.

Datanglah pak Richard, sambil lewat dia bertanya:

Pak Richard: kapan lulus, my?
Saya: doakan saja secepatnya, Pak.
Pak Richard: kok doain? Jangan minta doain sama saya, my. Tuhan selalu baik.

Jleb.

Iya, Tuhan selalu baik. Hanya saja manusia lah dengan segala asumsinya seringkali menyalahartikan sesuatu yang Tuhan berikan.

Pada akhirnya, apa yang Tuhan berikan, di posisi apapun kita, itu adalah yang terbaik. Untuk diri kita.

“Tuhan selalu baik”.
Harus selalu berpikiran seperti itu.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Satu Derajat

Hari minggu yang lalu saya melakukan proses alignment sebagai proses kecil dari rangkaian pekerjaan thesis.

Alignment ini semacam proses kalibrasi pelurusan garis laser. Jadi laser yang ditembakkan harus dapat dibagi menjadi 2 garis laser dengan sudut 90 derajat. Sulit. Tapi menggunakan laser hijau, garis-garis itu dapat dengan mudah dilihat walaupun proses alignment masih sulit dilakukan.

Melihat ada 2 titik yang berasal dari sumber yang sama, pikiran saya berpikir ke hal yang lain.

Misalnya ada dua buah garis lurus yang berhimpitan seperti segaris. Kapan kita tahu bahwa dia segaris dan sampai pada satu titik yang sama? Jawabannya adalah harus ditarik garisnya sampai tak hingga mungkin yaa.. Kalau derajat sudut kedua garis itu nol, maka selamanya akan tetap menjadi satu garis. Tapi kalau ada beda satu derajat sedikiittt saja, lama kelamaan akan terpisah. Semakin jauh ke dua garis itu terpisah maka semakin besar jarak yang dibutuhkan untuk kembali menjadi satu garis. Hal segaris ini penting sekali di thesis saya, salah derajat sedikit hasilnya tidak akan muncul.

Tapi ternyata tidak hanya untuk penelitian, analogi ini berlaku dan bisa dikaitkan untuk segala hal yang melibatkan dua pihak. Pertemanan, persahabatan, keluarga, bisnis, partnership bahkan relationship sekalipun.

Sekalipun berusaha, adanya perbedaan satu derajat itu akan terus ada. Semakin berusaha, akan membuat semakin jauh. Dan saya secara randomnya kepikiran tentang “Jurusan Tiga Angka” jaman SMA dulu.

Saat ini, teori ini juga berlaku pada saya. Tiga bulan telah dengan jelas memperlihatkan adanya perbedaan satu derajat di awal tadi yang mungkin sekarang sudah menjadi gak tau berapa derajat. Rasanya semakin jauh…

Semoga apapun itu, titik mana pun akhirnya yang kita tempuh masih dalam satu kertas yang sama ya. Dengan kadar kebersihan yang sama pula, putih bersih. Terima kasih untuk analogi satu derajatnya, @adipsujarwadi. Dan terima kasih juga untuk tiga bulannya.

Until we meet again, take care. =”)

~p.r.p.l.p.h.r.z

Pelajaran hari ini: DELTA

Mentoring hari ini berasa banget, alhamdulillah. Berasa, karena saya banyak ngomong disini (biasanya juga iya sih, hehe). Banyak bicara tentang pengalaman pribadi.

Mentoring ini dibuka dengan pembicaraan tentang ayat-ayat yang membahas terpecahnya umat Muslim menjadi berbagai macam golongan. Sampai disini saya masih mendengarkan, teman saya Astri yang menunjukkan ayat-ayatnya. Kemudian pembicaraan ini mengalir sampai pada akhirnya berbicara mengenai jilbab atau hijab. Bicara tentang ini mau gak mau kembali bersinggungan dengan kata “hidayah”.

Saat mendengarkan tentang jilbab ini, saya teringat pembicaraan tentang ini juga bersama seorang teman saya. Dia yang sudah tau keheterogenan keluarga besar saya bertanya,

Kenapa lo pake jilbab, my?

Pertanyaan aneh? Mungkin aja. Tapi memang karena keheterogenan super yang terdapat pada keluarga besar saya pertanyaan ini wajar sekali dilontarkan.

Selalu ada aksi-reaksi sebab-akibat terhadap apa yang kita lakukan. Perjalanan menuju perubahan ke arah yang lebih baik selalu butuh pengorbanan yang tidak mudah. Banyak hal yang harus dikorbankan. Salah satunya mungkin kenyamanan. Kita harus adaptasi lagi dan harus menerima konsekuensi atas semua yang kita lakukan, atas pilihan-pilihan yang kita ambil.
Kadang menyenangkan, kadang tidak. Tapi percaya aja selalu ada jalannya. Selalu akan ada lingkungan yang menjaga kita, bila kita memilih lingkungan yang baik.

Dan hari ini saya belajar. Bahwasanya setiap orang dihargai karena semua ‘delta’ yang telah dia kerjakan. Karena semua pengorbanan yang telah dia berikan. Bila belum berbuah hasil yang diinginkan, berarti pengorbanan itu belum maksimal. Jika merasa telah berupaya maksimal tapi belum berbuah hasil pula, berarti bukan itu jalannya bukan itu yang terbaik. Dan setelahnya, pasti akan diperlihatkan arti kata ‘terbaik’ itu.

Terima kasih teman-teman yang sudah berbagi pengalaman hari ini. =)

~p.r.p.l.p.h.r.z