Alergi dan Ibu Hamil

Allergies word cloud

Semenjak hamil, banyak sekali perubahan yang saya rasakan. Entah itu terhadap ketahanan fisik maupun emosi dan mental. Saya mulai banyak ‘mendengar’ badan sendiri. Kalau dulu biasanya dihajar aja alias gak dirasa-rasa kalau capek, pusing, dll. Sekarang gak bisa lagi. Harus mau terus berkomunikasi dengan makhluk kecil yang ada di dalam perut saya ini. Continue reading

Advertisements

Pemberian tanpa pamrih. Adakah?

Entah mengapa, saya berpikir bahwa kalimat

harus memberi tapi tanpa mengharapkan balasan (pamrih)

itu nonsense. Saya berpikir dan merasa bahwa setiap pemberian selalu pamrih, apapun bentuknya dan sekecil apapun itu. Gak mungkin setiap orang dengan baiknya memberikan sesuatu ke kita tanpa mengharapkan balasan. Oke, mungkin disini itu saya yang statusnya curigaan terus. Tapi coba yuk dipikir bareng-bareng.

Siapa yang bisa memberi tanpa pamrih?

Sahabat. Karena dia selalu ada untuk kita. Pasti dia menginginkan yang terbaik untuk kita.

Hmm, gak juga. Gak semua orang yang mengaku sahabat dapat memberikan tanpa mengharap balasan.

Tapi kalau dia memang sahabat yang baik pasti dia akan melakukan semua hal yang baik untuk kita

Pernahkah kita bertanya kenapa dia mau dan rela memberikan kepada kita semua perhatian itu? Jawaban yang sering ditemui adalah “karena lo pasti akan melakukan hal yang sama kalau ada sesuatu yang menimpa gw”. Yang berlaku disini adalah hubungan timbal balik. Lo baik, gw baik. Lo gak peduli, gw juga bakalan gak peduli.

Siapa lagi yang bisa memberi tanpa pamrih?

Orang tua, karena dia yang melahirkan dan membesarkan kita

Pernahkah kita bertanya kepada mereka apa yang mereka harapkan saat memberikan kita cukup kasih sayang, harta, pendidikan, moral, dan materi itu? Rata-rata orang tua ketika mereka menyekolahkan anaknya tidak serta merta tanpa pamrih. Ada harapan-harapan tak tertulis yang ada di niat mereka.
“Sekolah supaya mendapatkan hidup yang layak, sehingga bisa menyekolahkan adik2nya dan menafkahi keluarganya kelak” — di kasus ini berarti orangtua berharap dibalas, tapi dengan bentuk ‘pengembalian’ lewat orang lain.
“Di beri pengetahuan agama yang cukup, supaya nanti kalau orangtuanya sudah meninggal ada yang ingat untuk mendoakan” — di kasus ini pengembaliannya berupa doa supaya orangtuanya ‘selamat’.
Masih banyak pengharapan-pengharapan yang lainnya. Pamrih kah? Buat saya hal seperti ini masih bisa dikatagorikan sebagai pamrih. Pamrih yang tak tersirat.

Lantas siapa lagi yang bisa memberi tanpa pamrih?

TUHAN. Karena dia Maha Kaya. Maha Pemurah. Masa iya itungan sama umatnya?

Nampaknya Tuhan pun tidak akan memberikan barang sedikit pun kepada umatnya tanpa pamrih. Setiap pemberian Tuhan, saat ini saya maknai sebagai ‘titipan’, bahwasanya selalu ada hak orang lain dalam setiap kenikmatan yang kita terima. Sadar atau tidak sadar, dalam kitab suci pun telah dikatakan bahwa ketika kita diberi sedikit saja nikmat, maka wajib bagi kita untuk bersyukur. Untuk berterima kasih kepada siapa pun yang telah memberikan kesenangan kepada kita. Selalu ada ‘ancaman’ untuk menarik kembali kenikmatan itu apabila kita tidak dapat mensyukurinya untuk melakukan hal yang lebih baik lagi. Bila diberi rezeki, wajib untuk mensedekahkan 2,5% dari apa yang kita dapat. Itu juga menurut saya bentuk pamrih.

Lantas, jelekkah pamrih itu?

Tidak. Sama sekali tidak. Saya justru sangat bersyukur dengan adanya pamrih ini. Kita akan selalu menyadari bahwa apa yang kita terima pada akhirnya harus kita berikan lagi, walaupun dalam bentuk yang berbeda. Bahwasanya tidak ada yang kekal, tidak ada yang abadi, itu benar. Dan sebaik-baiknya orang adalah orang yang pandai bersyukur.

Seandainya semua orang menyadari konsep pamrih ini, maka tidak akan ada lagi kerusakan-kerusakan yang terjadi. Tidak akan ada lagi hewan yang kehilangan habitatnya. Karena biar bagaimana pun, kita hidup dari alam. Alam rusak, kita pun rusak. Tidak akan bisa hidup dengan kondisi yang semakin buruk ini. Sekecil apapun yang kita ambil dan kita terima, hukmnya adalah harus untuk mengembalikannya.

Semoga konsep ini saya pegang teguh sampai mati.
Amin.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Nasehat si teteh.

Adik saya yang paling kecil akan menghadapi ujian akhir SD. Entah mengapa sekarang nampak sulit sekali untuk masuk ke SMP unggulan atau favorit, ribet. Banyak tesnya. Anak-anak SD yang lain ribut dan heboh cari tempat bimbingan belajar ke sana ke sini.

Pikiran saya menerawang ke memori masa lalu, tentang bagaimana saya dulu. Dulu saya tidak pernah ikut bimbingan belajar selama SD masuk ke SMP. Bukan karena tempat bimbel belum menjamur seperti saat ini, tapi karena tidak ada dananya dan saya tidak berani minta untuk dimasukkan ke bimbingan belajar macem-macem itu. Sempat ada rasa minder karena teman-teman saya bimbel dimana-mana, bahkan kadang sampai 2 tempat sekaligus. Saya? Tidak sama sekali. Takut? Iya. Takut sekali. Takut mereka dapat sekolah dan saya tidak.

Ibu saya bahkan sempat menakut-nakuti bahwa apabila saya tidak masuk ke SMP ungggulan atau favorit, maka saya akan di sekolahkan ke sekolah dekat rumah yang paling saya gak mau. Haha. Ini mungkin trik dari ibu saya, tapi membuat saya termotivasi.

Adik perempuan saya tidak mau mengikuti bimbingan belajar apapun selain yang ditawarkan di sekolah. Bukan karena tidak ada dana dan semua yang serba terbatas, tapi karena malas dan tidak ada teman barengan buat les. Semua teman-temannya les, tapi jauh dari rumah dan sekolah. Akhirnya dia memutuskan untuk belajar di rumah sama saya setiap hari jumat-minggu. Saya menyanggupi.

Masalah mulai muncul karena dia bukan tipe orang yang disiplin. Cenderung mood-moodan. Disaat belajar, ada saja distraksinya. Musik lah, film lah, makan lah. Ya memang tidak bisa disalahkan juga, karena tempatnya di rumah jadi dia cenderung lebih santai. Tapi saya pikir tidak bisa seperti ini. Bayangkan untuk menunggu dia mau belajar saja saya sampai ketiduran.

Motivasi. Satu kata, tapi semua orang harus punya.

Akhirnya suatu hari saya, adik saya, dan ibu saya ngobrol di meja makan. Membicarakan tentang sekolah si adik. Dan pikiran saya kembali berkelana ke masa lalu, dan menanyakan satu hal, apa. Apa motivasi saya dulu sehingga saya bisa lulus dengan NEM paling tinggi di SD saya dan se kecamatan di Duren Sawit juga diterima di 2 tempat, SMP unggulan dan SMP favorit sekaligus tanpa mengikuti bimbingan belajar satu pun.

Jawabannya cuma satu, DISIPLIN.

Tenyata dulu saya sangat disiplin dan strict kalo udah soal belajar. Semua biku soal-soal saya kerjakan. Dari SD saya sudah terbiasa untuk bangun jam 3 pagi. Solat tahajud jam 3 kemudian belajar sampai subuh, tidur lagi stengah jam kemudian mandi, sarapan, dan siap-siap ke sekolah. Terus seperti itu. Pulang sekolah juga belajar. Malam tidak belajar, jadwalnya nonton TV atau baca buku cerita.

Dan satu yang membuat itu menjadi kebiasaan yang terus saya lakukan adalah,

Kalau merasa malas atau bosan atau capek, maka bayangkan apa yang teman-teman saya lakukan saat ini. Masih mau kalah? Kalau mereka belajar sampai jam 11 malam di tempat bimbel, saya juga bisa tapi di rumah. Sama saja.

Pada akhirnya semua hanya tinggal efektivitas dari sebuah waku yang relatif. Kapan berhenti. Kapan memulai. Terus belajar dan bekerja. Atau menyerah kalah karena satu kata, capek.

Pada akhirnya, nasihat ini buat saya juga. Walaupun adik saya langsung menjadi giat belajar dan aktif menanyakan segala hal kepada saya, saya tetap merasa nasihat ini saya keluarkan untuk diri saya sendiri. Yah, kembali harus melakukan self-motivation. Haha.

Sampai bertemu di Sabuga, 13 Juli 2012!!!

~p.r.p.l.p.h.r.z

ibu-ibu PKK

Suatu sore,

A: lo tau gak kenapa ada yang namanya ibu-ibu PKK?

B: kenapa emang?

A: karena ibu-ibu rumah tangga itu gak ada kerjaannya.

Saya: masa? Kan mereka ngurus anak.

B: iya trus masak, nyuci baju, gitu2. Banyak tau kerjaannya.

A: ya trus abis itu ngapain? Itu mah paling jam 12an siang juga udah selesai. Coba aja perhatiin ibu-ibu yang jemput anaknya ke sekolah. Tasnya anaknya dibawain, kayak yang bangga banget. Tapi abis itu? Palingan pulang ke rumah trus baca koran sambil ngopi2.

Menurut saya, gak ada yang salah dengan predikat ibu rumah tangga. Tidak ada salahnya menjadi seorang ibu yang menjemput anaknya trus ngebawain tasnya. Tidak ada salahnya menjadi seorang ibu yang selalu masak cuma demi memastikan bahwa makanan yang dimakan super gizinya. Tidak ada salahnya cuci baju sendiri. Tidak ada salahnya juga ngecekin tiap hari anaknya punya PR atau nggak, ngapain aja di sekolah, main apa, belajar apa.

Ibu saya seorang ekonom yang akhirnya memilih untuk menjadi ibu rumah tangga walaupun sebegitunya ingin kerja supaya dapetin uang lebih dan tidak mengandalkan suami. Ibu saya memasak sendiri masakan untuk dimakan oleh suami dan anak-anaknya. Masakannya enak! Percaya atau tidak, saya tidak pernah diberi uang jajan sampai kelas 4 SD. Itu pun dikasih buat naik becak ke sekolah dan semata2 supaya anaknya ‘ngerasa’ punya uang dan gak beda dari temen2nya. Ibu saya dulu cuci baju sendiri. Baju-baju saya kecil juga dijahit sendiri oleh ibu saya. Ibu saya sampai saat ini masih antar jemput adik saya yang paling kecil di SDnya.

Ibu. Panggilan itu entah kenapa berwibawa sekali. Penuh hormat. Mengurus anak itu gak mudah. Super sulit. Harus hati-hati berbicara, bersikap, bertindak, bahkan berpikir sekalipun bila itu menyangkut seorang anak. Saya bisa berbicara seperti ini karena saya punya adik yang bedanya 10 tahun dengan saya. Mandiin, ngasih makan, nidurin, cebokin, semuanya saya lakukan buat si adik. Dari awal ibu saya memang sudah bilang seperti ini:

“Ines itu adik kalian berdua. Umur kalian beda jauh sama dia. Jadi tolong bantu urusin, didik yang bener. Jadiin dia lebih hebat dari kalian berdua”

Dulu saya dan adik saya manggut2 aja. Si bayi Ines masih kecil mungil pipi temben rambut keriting. Kalo kepanasan pipinya merah. Cantik, sangat cantik. Mirip bule. Siapa yang gak seneng disuruh jaga bayi seperti ini?

Kemudian si bayi bertambah besar. Jadi bandel. Suka jalan2. Makannya lama. Kalo nangis kenceng banget bisa bangunin seisi rumah. Lari2an dalem rumah. Semua tembok dicorat-coret pake crayon. Gambar macem-macem. Warna-warni. Mulailah saya dan adik saya kewalahan. Si adik Ines jadi sering juga dimarahi. Tapi nampaknya frekuensi marah saya lebih sedikit daripada adik saya yang laki2, jadi sampai saat ini alhamdulillah dia masih hormat kepada saya.

Dulu, Ines gak pernah mau ditinggal di rumah kecuali ada ibu atau saya. Kalau gak ada kita berdua dia gak mau ditinggal dan maksa ikut walaupun ke kios2 panas berdebu. Dulu saya pernah tanya, kenapa dia gak mau ditinggal bareng kakaknya yang laki2 tapi sama saya dia mau? Dan jawabannya, “karena teteh udah kayak ibu, ngerasa aman”. Dari situ saya mikir. Gak boleh ada perbuatan saya yang salah dimata dia. Gak boleh. Supaya saya masih bisa nasehatin dia, ngobrol panjang lebar sama dia, dll.

“teh, ines mau tanya. Ini sih biar ines ada bayangan aja. Teteh dulu kapan pertama kali pacaran?”

Dan saya takut. Saya gak mau melihat dia melakukan semua kesalahan yang dulu pernah saya lakukan atau mungkin lebih parah. Gak pengen dia sakit, gak pengen ngelihat dia nangis, gak pengen ngelihat dia dijahatin orang, gak pengen dia ngerasain semua hal yang gak enak. Mungkin itu yang Ibu saya rasakan ketika ngelihat saya dan adik-adik saya. Itu juga ngebuat banyak orangtua yang ngemanja anaknya, semata-mata hanya untuk “supaya anak saya gak merasakan apa yang saya rasakan dulu”. Ketika lo membesarkan seorang bayi, ngelihat tumbuh kembangnya dia, ngelihat baju-bajunya sudah sempit, celananya sudah kependekan yang artinya dia tumbuh. Lo akan kaget setengah mati nantinya kalau tiba-tiba si anak sudah bisa ngebalikin semua omongan yang kita keluarin, bisa berdebat dengan lantang, merasa paling benar, paling tahu segala sesuatu, dan belum lagi kalau si anak sudah gak mau diatur dan memilih pindah daripada tinggal serumah. Pasti yang tersisa di ingetan lo adalah anak kecil lucu manis yang belum bisa apa-apa, bahkan buat makan aja dia nangis, mau pipis nangis, dia ibaratnya lumpuh total. Ini makanya ada omongan ‘daddy’s little girl’ atau ‘momyy’s little boy’ dan sebagainya. Sampai kapan pun seorang anak akan jadi anak. Selamanya ‘little’.

Adik saya sudah beranjak besar. Puber. Dan perbedaan umur dia yang jauh dengan ibu-bapak saya ngebuat dia sedikit tidak berani untuk bercerita macam2. Kedua kakaknya protektif. Adik saya yang laki2 walaupun terlihat cuek, dia protektif sangat. Karakter kami bertiga berbeda dan cuma ibu yang bisa mengerti itu. Ibu yang seperti apa? Ibu yang selalu ada buat anak-anaknya kapanpun mereka butuh. Tau anaknya sedang seperti apa tanpa harus mereka yang lebih dulu cerita. Ibu yang ketika saya galau selalu menelepon padahal saya gak sms atau telepon lebih dulu. Ibu yang peka, yang bisa memancing percakapan supaya bisa mengalir sehingga si anak nyaman dan tidak merasa terintimidasi. Iya, ibu yang selalu mau belajar dari kelakuan anak-anaknya. Ibu yang tidak pernah merasa paling pintar. Ibu yang kalo temen saya bilang, ibu-ibu PKK.

I really admire you, Ibu.

*dan bener aja, selesai nulis ini, ibu saya telepon. :”)

~p.r.p.l.p.h.r.z