Tahun Naga Air.

Yeah. Selamat datang tahun naga air!!

Seperti biasa, sesuai tradisi, karena saya masih mempunyai darah keturunan maka selalu ada kumpul-kumpul yang dilakukan di malam Tahun Baru Cina. Atau imlek, atau xinjia.

Kira-kira seminggu sebelumnya tahun baru ini, diadakan ‘sembahyang’an. Intinya kayak menyediakan makanan kepada leluhur yang telah meninggal. Nenek dan kakek dari garis ayah saya memang masih menganut kepercayaan Konghuchu. Walaupun anak-anaknya mereka tidak ada yang meneruskan kepercayaan ini. Dari garis ayah saya ada bermacam-macam kepercayaan, karena pada dasarnya kakek dan nenek saya tidak pernah memaksakan kehendak anak-anak mereka untuk memeluk kepercayaan yang sama.

Yang penting hubungan sesama manusianya baik, kata mereka.

Yang menarik di sembahyangan ini adalah pengaturannya. Sampai saat ini saya selalu tertegun dan berdecak wah dengan pengaturannya.Gak hapal-hapal. Tapi kakak perempuan satu-satunya ayah saya, hapal. Mangkok nasi harus ditaro di sebelah mana, bebek dan ayam bentuknya kayak apa, dimasaknya gimana, warna apa, ditaronya di sebelah mana. Trus ada daun yang cuma digunakan selama sembahyangan ini dan harganya melonjak naik kalo mau imlek. Selembar daunnya 2.500 rupiah! Sedangkan 1 batangnya ada sampai 4 lembar. Dan yang dibutuhkan ada sekitar 3 batang. Fiuh. Mahal.

Image

Trus ada satu lagi, masalah kertas. Yang kayak di film-film vampir itu loh. Yang ada kertas yang dibakar-bakar. Kertas itu diputer-puter di telapak tangan sampai akhirnya melintir sendiri dan mengatur sendiri jarak kanan-kirinya seperti apa.

Image

Yah, kemampuan ini cuma saya keluarkan setahun sekali, sama kayak bikin anyaman ketupat. Lewat dari situ, lupa lagi. Hahaha.

Saya bersyukur, mempunyai keluarga seperti ini. Keluarga besar yang kaya. Kaya pengalaman, kaya kultural, dan macem-macem yang selalu membuat saya bisa melihat hal dari sudut pandang lain. Selalu bisa membuat berpikir secara rasional dan melihat lebih luas dengan mata dan juga hati. Terima kasih ya Allah.

Saya akui tidak banyak yang seperti saya ini, hidup di lingkungan yang super beragam. Dan ini yang harus saya syukuri. Banyak-banyak. Tidak banyak juga orang yang bisa menerima perbedaan dalam lingkungan dekatnya. Saya bersyukur pula sudah diperkenalkan dan di’cemplung’kan ke dalamnya sedari dini.

Alhamdulillah.

~p.r.p.l.p.h.r.z

bukan aneh. hanya ‘sedikit’ berbeda.

“lo itu unik my. Disaat orang2 nonton pirates, lo nonton teater. Disaat orang2 nonton korea2an lo bikin pola”

– Adi Purwanto

Dipikir2 ini bener juga. Akhirnya saya mikir. Emang terlalu banyak yang aneh.

Dulu disaat jaman2nya handphone buat anak SMP, saya ingin kamera.
Saat rata2 ibu2 itu ingin anaknya sekolah yang deket2 saja dari rumah, saya pilih yang jauh. Akhirnya pulang-pergi naik bis kota di usia SMP dari kelas 1-3.
Saat temen2 seangkatan sibuk ngader angkatan bawah, saya milih magang di perusahaan. Biarin jadi anak magang yg super cupu gara2 baru tingkat 2, abis itu malamnya baru ngurusin kaderisasi himpunan.
Saat banyaknya temen2 jadi BP, saya milih MPA.
Saat orang2 sibuk les inggris, saya milih belajar bahasa yg sama sekali asing buat saya, bahasa Perancis.
Saat orang2 mulai beralih belajar bahasa Perancis atau Jerman, saya lagi pusing2nya ngapalin kanji Mandarin.
Saat orang2 rencana pergi nonton di bioskop, saya malahan sibuk nanyain temen2 yg minat nonton teater.
Saat temen2 sibuk wisata belanja, saya malahan ngebolang buat wisata budaya.
Saat ada pilihan untuk pergi makan di luar, saya milih makan di rumah.
Dan lain-lainnya.

Dipikir2 emang aneh sih. Dulu itu sering banget terucap dari mulut Ibu.

Kamu kok beda dari yang lain. Kalo sakit, diem. Kalo mau sesuatu, mikir dulu bisa dapet apa nggak. Kalo tau gak bakalan dapet, gak bakalan ngomong mau. Ini diajakin jalan sama temen kamu sendiri malahan minta gak diijinin sama orang tuanya. Supaya punya alesan buat gak pergi.

– Ibu saya

Iya, dulu saya sering begitu. Diajak keluar, kalau beneran lagi males minta ibu atau bapak saya buat bilang ‘tidak’, supaya saya bisa jadiin itu alasan buat gak pergi. Supaya gak perlu bohong. Taktik. Hahaha. Ibu waktu ngomong gitu cuma bisa geleng2 kepala aja ngeliat kelakuan anaknya. Kayak sekarang ini di saat orang-orang menghabiskan waktu di kampus, saya malahan belajar jahit.

Entahlah. Rasa-rasanya emang ada yang beda sih. Tapi semua orang punya hak untuk berbeda kan? :)

Eh tapi, saya masih suka nonton di bioskop atau nonton serial drama korea kok. Hehehe.

~p.r.p.l.p.h.r.z

si saya dan si adik

Menonton kembali team medical dragon,

saya jadi ingat pembicaraan saya dengan si adik.

Si saya yang dulu ingin jadi seorang dokter bedah jantung karena termotivasi melihat dokter yang ngebedah jantungnya ayah. Sosok yang begitu berwibawa, walaupun sangat hormat kepada ayah saya, karena ayah saya juga seorang dokter bedah. Bedah urologi. Mereka kolega katanya. Sejawat. Si saya dulu yang begitu inginnya menyelamatkan orang banyak secara jantung merupakan organ tunggal kompleks yang dapat memompa dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Organ kehidupan. Saya yang dulu mempelajari lebih awal anatomi tubuh manusia dan sering berdiskusi dengan bapak. Memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama setiap ada telepon masuk. Mendengarkan seluruh instruksi yang bapak berikan via telepon ke perawat maupun dokter jaganya. Istilah kateter, albumin, prostat, dan kawan2nya sangat tidak asing bagi si saya kecil.

Continue reading

Untuk Ayah, Calon Ayah, dan Bakal Calon Ayah =)

Ada satu cerita menarik yang mungkin dapat menjadi inspirasi. Enjoy!

=================================================

Suatu ketika, ada seorang anak perempuan memandang ayahnya yang sedang duduk di beranda. Sang ayah tengah mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut. Badannya terbungkuk-bungkuk, sedangkan suara terbatuk-batuk.

Si anak lalu bertanya pada ayahnya, “Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk ?”
Ayahnya menjawab, “Sebab aku laki-laki.” Anak wanita itu lalu bergumam, “Aku tidak mengerti, Ayah.” Si anak keningnya berkerut, tercenung karena jawaban ayahnya.

Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut sang anak sambil menepuk-nepuk bahunya. Kemudian sang ayah berkata, “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki.” Demikian bisik Ayahnya, yang membuat anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian si anak menghampiri ibunya. Dia bertanya kepada Ibunya : “Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian membungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?”
Ibunya menjawab, “Anakku, jika seorang laki-laki itu benar-benar bertanggung- jawab terhadap keluarganya, memang akan demikian.” Hanya itu jawaban sang ibu.

Tahun demi tahun berlalu, si anak wanita kemudian tumbuh dewasa. Tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan menjadi kerut-merut dan badannya menjadi bungkuk.

Hingga pada suatu malam, si anak bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Suara tersebut ternyata adalah jawaban dari rasa kepenasarannya selama ini.

“Saat Ku-ciptakan laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga. Dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi. “

“Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya. ”
Continue reading

Rumah Kasur

Jadi, ceritanya kemarin si adik abis rekaman. Hahaha. Gaya bener deh =D and believe me, it took a long time to finish it.

Rekaman apa?

Karena si adik masih kelas 3 SD makanya dia masih disuruh ngisi acara untuk perpisahan kelas 6 hari selasa besok. Dia dan teman-temannya bakalan nari disitu. Katanya sih judulnya ‘Ali Baba’¬† (jadi inget dulu sering banget diminta nari untuk perpisahan jaman SD =P), nah untuk lagunya dari gurunya minta anak2 untuk rekaman. Jadi mereka akan nari dengan backsound dari mereka sendiri. Hihi. Kebayang dong ribetnya. Ada yang suaranya cempreng banget, gede banget, bahkan ada yang semi teriak2 gitu. ;) Alhasil, waktu yang dibutuhin lebih lama jatohnya..

Ada satu cerita dari si adik yang bikin saya senyum2.

Adik (A) : “Teh, masa tadi kan Ines rekaman teh. Di rumahnya Pak Kasur, yang suka buat lagu2 anak kecil itu loh teh. Ternyata rumahnya beneran dari kasur, Teh. Dindingnya empuk gitu, jadi kalo nabrakin badan gak sakit. Temen2 Ines pada tabrak2an gitu. “

Hihihi. Padahal yang dia maksud itu dinding2 khusus untuk rekaman. Penuh busa. Kedap suara. =D

Trus mulai deh cerita2 gimana serunya tadi rekaman. Untung dia pulang seneng. Gak bete gara2 lama. Still, enjoy is the point. Lucky her.

sister ^^my lil sist =)

~p.r.p.l.p.h.r.z