Si Anak Dokter

Bapak: Teteh, katanya Mio mau makan bareng jumat malem ini?
Saya: Iyaa. Bisa kan?
Bapak: Mau makan dimana? Pio nanti abis magrib ada op sebentar…, kalo makan di nyunnyan episentrum gimana..? Atau di …?
Saya: Boleh, dimanapun deh asal ‘personel’nya lengkap :)
Bapak: Pio dari Pondok Indah kira2 jam 7.30.., jadi nyusul dan sampai ditempat kira2 jam 8.45
Saya: Makan dulu sedikit ya sebelum nyusul. Udah mau jam 9, kemaleman kalo perutnya kosong apalagi abis operasi.

Cuplikan percakapan itu terjadi via BBM Group yang bertuliskan “Family”. Itu lah Bapak saya, selalu mau menyenangkan keluarganya walaupun capek.

“Kenapa gak mau jadi dokter, my? Padahal kan Bapak lo dokter. Dokter spesialis bedah pula.”

Pertanyaan tipikal yang selalu ditanyakan kepada saya. Seakan-akan jika orangtuanya dokter maka anaknya juga seharusnya (dan seringnya) jadi dokter juga.

Adanya dokter dalam keluarga memang membawa pandangan tersendiri bagi saya. Tentang bagaimana dokter yang seharusnya. Tentang arti dedikasi. Arti berbagi. Tentang pandangan dan prinsip-prinsip idealisme itu juga saya dapat dari dokter yang ada di rumah ini.

Dulu, waktu saya SD sering terbersit rasa cemburu. Iya, anak sekecil itu bisa punya rasa cemburu. Saya cemburu. Cemburu karena saya tidak punya waktu main yang lebih dengan ayahnya, tidak seperti teman-teman saya. Cemburu karena bapak saya lebih perhatian kepada pasien-pasiennya. Bahkan anak sekecil itu berpikiran bahwa ayahnya lebih memilih ke rumah sakit daripada di rumah. Sedangkan saya kecil tidak boleh sama sekali pergi ke rumah sakit. Belakangan saya tahu kalau rumah sakit itu sumbernya penyakit. Dulu di pikiran saya, rumah sakit itu seperti tempat pengobatan. Yang datang kesitu pasti sembuh, pasti sehat. Berarti itu bersih, higienis karena bisa menyembuhkan. Tentu saja saya salah.

Bapak saya adalah orang yang super idealis. Bahwa pekerjaan dokter adalah berusaha menyembuhkan. Apapun. Bukan hanya ke manusia tapi ke hewan sekalipun. Waktu bapak saya masih praktek di rumah, sering sekali pasien yang datang tidak dimintai bayaran oleh bapak saya. Akhirnya mereka memberikan hasil bumi dan tani atau apapun sebagai bentuk rasa terima kasih.

Menjadi dokter sekali lagi adalah tentang dedikasi. Dan menjadi bagian dari keluarga dokter adalah tentang permainan hati.

Dulu juga pernah, mau ke undangan bareng tiba-tiba bapak saya ditelpon harus ke rumah sakit untuk melakukan tindakan gawat darurat. Belok lah mobil ke rumah sakit dan batal ke undangan. Pernah juga liburan batal karena satu hal yang datang tiba-tiba.

Buat keluarga saya, sabtu minggu bukan lah liburan. Karena keluarga jarang sekali kumpul lengkap. Liburan akan menjadi liburan ketika jumlah personel keluarga lengkap. Liburan sekolah? Bagi saya dan adik-adik saya sama saja rasanya. Bapak saya tetap ke ‘kantor’ karena memang kerjaannya tidak bisa ditinggalkan. Kecuali kalau bapak mengambil cuti panjang. Dan itu harus sekalian pergi ke tempat yang jauh, terpencil, atau ke luar negeri. Supaya bapak tidak bisa cepat-cepat pulang karena ada panggilan. Percaya deh, kalau liburannya di Jakarta, Bandung, atau Bogor dan sekitarnya pasti masih dibela-belain datang.

Family time = quality time. Sulit, makanya menjadi sangat berharga. Sungguh.

Dan kenapa saya tidak mau jadi dokter? Balik lagi ke kata dedikasi, kerja keras, dan mau berbagi. Suatu saat nanti saya akan menjadi seorang ibu. Itu kodrat mutlak. Saya tidak mau setengah-setengah. Menjadi dokter, berbagi segalanya termasuk mengorbankan waktu dengan anak saya nantinya? Big no. Gak mau. Terus kalau misalnya nanti suami saya pindah kerja atau ditempatkan di luar kota pastinya saya akan dan harus ikut. Keluarga besar saya mengajarkan seperti itu.

Saya bisa jadi seperti ini karena didikan ibu dan pandangan terhadap bapak saya. Bapak saya tidak mengijinkan istrinya bekerja dengan orang lain. Bapak gak mau melihat istrinya jadi bawahan orang lain. Saya mensyukuri itu.

Dengan bapak dan adik laki-laki saya yang berprofesi sebagai dokter, well I think I already get use to it.

Kayak saat ini,
“Pio dari Pondok Indah kira2 jam 7.30.., jadi nyusul dan sampai ditempat kira2 jam 8.45”
Dan saya hanya berdoa dalam hati, “hati-hati di jalan. Semoga Allah melindungi kita semua. Dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun.”

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Tahun Naga Air.

Yeah. Selamat datang tahun naga air!!

Seperti biasa, sesuai tradisi, karena saya masih mempunyai darah keturunan maka selalu ada kumpul-kumpul yang dilakukan di malam Tahun Baru Cina. Atau imlek, atau xinjia.

Kira-kira seminggu sebelumnya tahun baru ini, diadakan ‘sembahyang’an. Intinya kayak menyediakan makanan kepada leluhur yang telah meninggal. Nenek dan kakek dari garis ayah saya memang masih menganut kepercayaan Konghuchu. Walaupun anak-anaknya mereka tidak ada yang meneruskan kepercayaan ini. Dari garis ayah saya ada bermacam-macam kepercayaan, karena pada dasarnya kakek dan nenek saya tidak pernah memaksakan kehendak anak-anak mereka untuk memeluk kepercayaan yang sama.

Yang penting hubungan sesama manusianya baik, kata mereka.

Yang menarik di sembahyangan ini adalah pengaturannya. Sampai saat ini saya selalu tertegun dan berdecak wah dengan pengaturannya.Gak hapal-hapal. Tapi kakak perempuan satu-satunya ayah saya, hapal. Mangkok nasi harus ditaro di sebelah mana, bebek dan ayam bentuknya kayak apa, dimasaknya gimana, warna apa, ditaronya di sebelah mana. Trus ada daun yang cuma digunakan selama sembahyangan ini dan harganya melonjak naik kalo mau imlek. Selembar daunnya 2.500 rupiah! Sedangkan 1 batangnya ada sampai 4 lembar. Dan yang dibutuhkan ada sekitar 3 batang. Fiuh. Mahal.

Image

Trus ada satu lagi, masalah kertas. Yang kayak di film-film vampir itu loh. Yang ada kertas yang dibakar-bakar. Kertas itu diputer-puter di telapak tangan sampai akhirnya melintir sendiri dan mengatur sendiri jarak kanan-kirinya seperti apa.

Image

Yah, kemampuan ini cuma saya keluarkan setahun sekali, sama kayak bikin anyaman ketupat. Lewat dari situ, lupa lagi. Hahaha.

Saya bersyukur, mempunyai keluarga seperti ini. Keluarga besar yang kaya. Kaya pengalaman, kaya kultural, dan macem-macem yang selalu membuat saya bisa melihat hal dari sudut pandang lain. Selalu bisa membuat berpikir secara rasional dan melihat lebih luas dengan mata dan juga hati. Terima kasih ya Allah.

Saya akui tidak banyak yang seperti saya ini, hidup di lingkungan yang super beragam. Dan ini yang harus saya syukuri. Banyak-banyak. Tidak banyak juga orang yang bisa menerima perbedaan dalam lingkungan dekatnya. Saya bersyukur pula sudah diperkenalkan dan di’cemplung’kan ke dalamnya sedari dini.

Alhamdulillah.

~p.r.p.l.p.h.r.z

“mau ikut teteh aja”.

Jakarta, 23 Desember 2011.

Malam ini ibu saya secara random cerita begini:

Teh, masa kemaren-kemaren itu mbak (pembantu) bilang begini…
Mbak: Bu, kalau nanti teteh nikah trus punya rumah sendiri, saya mah mau ikut teteh aja ya bu.
Ibu saya: hah?? Trus nanti ibu ditinggalin sendirian gitu?
Mbak: iya, ibu nanti cari aja yang lain ya bu *ketawa*
Ibu: -_-“

Saya yang diceritakan cerita seperti itu cuma ketawa-ketawa saja. Mbak saya sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Umurnya dia lebih muda dari saya sekitar 2 tahun. Makanan yang saya makan saya bagi ke dia, barang yang sudah tidak saya perlukan tapi masih layak pakai juga saya kasih ke dia. Keluarga ini memang gak hitungan kalau sama si Mbak. Baru maupun lama.

Belum selesai rasa kaget campur haru itu, adik saya yang paling kecil tiba-tiba bilang..

Iya tuh, ke Ines juga bilang begitu. Masa bilang gini…
Mbak: nes nes, nanti kalo teteh nikah mbak mau ikut teteh aja.
Ines: yah, mbak kok gitu siihhhh
Mbak: iya nes, mbak udah bilang sama mamah kok
Ines: trus kalo mbak ke teteh, ines sama siapa?
Mbak: ines kan udah gede, nanti mah bisa ngapa2in sendiri.
Ines: -_-“

Kadang hal-hal sederhana yang kita lakukan bisa berdampak yang cukup besar bagi orang lain. Dan saya semakin ditunjukkan hal tersebut. Dari apa yang saya lakukan, lumayan kan dapet mbak yang sudah mau ikut kalau nanti misalnya saya punya keluarga. Udah pinter banget lagi masaknya. Diajarin dari mulai awalnya gak bisa apa-apa sampai udah bisa berinisiatif sendiri dengan apa yang harus dilakukan. Alhamdulillah banget dia mau ikutan susah nanti. Hahahaaa..

Saya belajar..
Semua yang kita lakukan pasti dibalas. Sekecil dan sesederhana apapun itu. Pasti. Karena itu hukum Tuhan.

~p.r.p.l.p.h.r.z

kasih + sayang = kangen.

Seorang orang tua pasti mempunyai caranya sendiri untuk mengungkapkan perasaannya kepada anaknya. Orangtua saya juga mempunyai caranya sendiri untuk mengungkapkan perasaan kepada saya. Cara yang Bapak saya tunjukkan pasti berbeda dengan yang Ibu saya tunjukkan.

Malam ini, saya menangis. Seriusan menangis, sampai sesenggukan.

Sebelumnya, sore tadi, saya les Mandarin seperti biasa. Ditengah-tengah kelas, Ibu saya menelpon. Saya lantas meminta ijin kepada laoshi untuk mengangkat telpon diluar. Setelah diangkat, Ibu saya marah-marah ditelpon itu. Memang pas hari ini BBM saya habis masanya, jadi gak bisa BBMan sama ibu seperti yang biasa dilakukan. Ibu saya marah-marah, bilang kalau saya tidak menepati janji untuk pulang ke Jakarta hari ini. Belakangan saya tahu, ini murni miskomunikasi sebenarnya. Saya yang disini menunggu adik dan ibu saya yang katanya mau datang sekalian si adik mau jalan-jalan di Bandung. Ibu saya menunggu saya pulang ke Jakarta karena ternyata si sekolah adik saya yang paling kecil itu lagi ada peninjauan dari diknas. Jadilah adik saya tidak boleh bolos, sehari pun.

Saya yang masih bingung karena ditelpon ibu dengan nada suara tinggi langsung minta ijin menutup telpon dan akan menelpon balik nanti setelah kelasnya selesai. Ibu saya sepakat.

Setelah itu ternyata sms-sms berdatangan, dengan banyak tanda seru didalamnya. Untungnya capslocknya gak sekalian kepencet. Masih dengan nada yang sama. Saya balas sms itu, dengan mengatakan nanti setelah sampai di kosan saya telpon (karena pasti akan lama, pikir saya) dan juga mengingatkan untuk tidak memakai tanda seru yang banyak pada sms-sms berikutnya.

Kemudian sms-sms balasan berdatangan. 8 sms gak tanggung-tanggung. Tapi disini melunak. Gak lagi dengan nada tinggi. Gak lagi digunakan tanda seru yang super banyak. Ada permintaan maaf juga. Dan sms yang terakhir bilang kalo ternyata ibu saya kangen. Iya. Kangen. Padahal hanya 2 minggu saya gak pulang.

Sesampainya di kosan, saya telpon ibu. Telpon pertama di reject, mungkin kepencet atau kaget karena ada telpon saya tiba-tiba. Kedua kalinya saya telpon, langsung diangkat tapi gak ada suaranya. Ketika saya panggil, “Mam?”. Dan beliau hanya bilang “Ya.” sambil menangis. Iya, ibu saya menangis. Mendengar ibu saya menangis, dan karena hormon saya yang sedang tidak stabil juga, saya ikut menangis.

Ngobrol banyak sama ibu. Ibu saya bilang sebenenya kangen banget *masih sambil sesenggukan*. Pengen ketemu. Pengen jalan bareng. Pengen cerita-cerita. Semuanya cuma pengen sama saya. Ditemenin saya. Ibu saya sampai sudah bikin jadwal besok mau kemana, besoknya lagi mau kemana, besoknya besoknya lagi mau kemana, dan seterusnya. Mau nonton bareng, mau makan bareng, mau jalan-jalan bareng, mau belanja bareng, mau semua-semuanya bareng. Semua orang mendadak menanyakan saya kepada ibu saya, semakin pula ibu saya merasa kangen. Saya terenyuh. Saya juga. Bandung sudah tidak terlalu menyenangkan, beda dengan jaman-jamannya S1 dulu. Mungkin karena teman, mungkin karena kesibukan, entahlah. Yang jelas sudah kurang menyenangkannya. Kalau gak ada urusan di Bandung pun pasti saya pulang.

Mungkin orang lain berpikir, Bandung-Jakarta deket, gampanglah tinggal pulang. Kenapa jadi manja banget? Iya saya juga gak tau, tapi tiap orang tua berbeda kan. Ibu saya mungkin kesepian. Saya dan Ibu saya memang sangat dekat. Semua-semuanya diceritain. Cuma ibu saya tipe orang yang jaim. Beda sama Bapak saya. Bapak saya bisa aja tiba-tiba memeluk saya di depan umum. Tapi ibu? Yang ada saya yang memeluk ibu. Itu juga ibu saya gak pernah mau lama-lama. Belakangan saya tau, ibu saya gak tahan dibegitukan. Pasti nangis. Makanya daripada malu nangis depan umum makanya cenderung gak peduli.

Janji teteh mam, teteh pasti pulang abis ini semuanya selesai. trus nanti kerja di Jakarta biar bisa jalan-jalan bareng lagi, ngobrol-ngobrol bareng lagi, kulineran bareng lagi =”) janji! *cangkolan jari*

Semoga Tuhan selalu memberikan mereka berdua, kedua orang tua saya kesehatan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Semoga Tuhan selalu menjaga mereka berdua. Semoga ibu saya saat saya menuliskan ini sudah tidak menangis lagi walaupun kenyataannya saya disini masih menangis.

Kasih + sayang = kangen. Kangen yang berlebihan = isak tangis.

Itu rumus yang saya dapatkan untuk malam ini.

Memang ya, setiap orang tua selalu mempunyai caranya sendiri untuk menunjukkan perasaannya kepada anaknya. Beruntunglah anak yang bisa menerjemahkan semua sikap dan perasaan orang tuanya. Karena biar bagaimana pun, gak akan ada yang namanya ‘mantan orangtua’.

Bismillahirrahmanirrahim, cepatkan dan cukupkan urusanku di kota ini Ya Allah. Supaya bisa cepat berkumpul kembali dengan mereka yang aku kasihi dan sayangi.

Nb: karena ini saya jadi berpikir, mungkinkah semua kesempatan sekolah ke luar negeri itu ada saja halangannya karena ini? karena banyak yang berharap saya tidak pergi? karena mungkin lebih baik bila saya disini daripada bepergian kesana kemari? iya. mungkin saja. karena ini.

~p.r.p.l.p.h.r.z.

bukan aneh. hanya ‘sedikit’ berbeda.

“lo itu unik my. Disaat orang2 nonton pirates, lo nonton teater. Disaat orang2 nonton korea2an lo bikin pola”

– Adi Purwanto

Dipikir2 ini bener juga. Akhirnya saya mikir. Emang terlalu banyak yang aneh.

Dulu disaat jaman2nya handphone buat anak SMP, saya ingin kamera.
Saat rata2 ibu2 itu ingin anaknya sekolah yang deket2 saja dari rumah, saya pilih yang jauh. Akhirnya pulang-pergi naik bis kota di usia SMP dari kelas 1-3.
Saat temen2 seangkatan sibuk ngader angkatan bawah, saya milih magang di perusahaan. Biarin jadi anak magang yg super cupu gara2 baru tingkat 2, abis itu malamnya baru ngurusin kaderisasi himpunan.
Saat banyaknya temen2 jadi BP, saya milih MPA.
Saat orang2 sibuk les inggris, saya milih belajar bahasa yg sama sekali asing buat saya, bahasa Perancis.
Saat orang2 mulai beralih belajar bahasa Perancis atau Jerman, saya lagi pusing2nya ngapalin kanji Mandarin.
Saat orang2 rencana pergi nonton di bioskop, saya malahan sibuk nanyain temen2 yg minat nonton teater.
Saat temen2 sibuk wisata belanja, saya malahan ngebolang buat wisata budaya.
Saat ada pilihan untuk pergi makan di luar, saya milih makan di rumah.
Dan lain-lainnya.

Dipikir2 emang aneh sih. Dulu itu sering banget terucap dari mulut Ibu.

Kamu kok beda dari yang lain. Kalo sakit, diem. Kalo mau sesuatu, mikir dulu bisa dapet apa nggak. Kalo tau gak bakalan dapet, gak bakalan ngomong mau. Ini diajakin jalan sama temen kamu sendiri malahan minta gak diijinin sama orang tuanya. Supaya punya alesan buat gak pergi.

– Ibu saya

Iya, dulu saya sering begitu. Diajak keluar, kalau beneran lagi males minta ibu atau bapak saya buat bilang ‘tidak’, supaya saya bisa jadiin itu alasan buat gak pergi. Supaya gak perlu bohong. Taktik. Hahaha. Ibu waktu ngomong gitu cuma bisa geleng2 kepala aja ngeliat kelakuan anaknya. Kayak sekarang ini di saat orang-orang menghabiskan waktu di kampus, saya malahan belajar jahit.

Entahlah. Rasa-rasanya emang ada yang beda sih. Tapi semua orang punya hak untuk berbeda kan? :)

Eh tapi, saya masih suka nonton di bioskop atau nonton serial drama korea kok. Hehehe.

~p.r.p.l.p.h.r.z