1st Year, Passed

22

Hari ini, tepat 1 tahun dari kami berdua mengikat janji sehidup semati. Saling menemani dalam suka maupun duka, saling memberi semangat, dan bersama-sama bekerja keras untuk menjadikan keluarga kecil kami keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah. Yang selalu bahagia, selalu merasa cukup dan dicukupkan, selalu penuh rasa syukur.

Sudah 1 tahun. Continue reading

Belajar Untuk (Tidak) Egois

RaditAmy

Apa yang berbeda dari kehidupan sebelum dan setelah menikah?

Hmm, kalau kalian tanya pendapat saya, jawaban saya pasti kata ini : “Banyak”. Banyak yang berbeda. Banyak yang berubah. Terutama kalau kamu tipe pasangan yang setelah menikah memutuskan untuk keluar dari rumah orang tua, keluar dari zona nyaman kamu dan memutuskan untuk living your own life with your beloved spouse. Kalau masih tinggal serumah dengan orang tua sih mungkin gak terlalu berasa yaa.. Continue reading

Dear Kid #4 – Precious

20140902-231937.jpg

Dear kid,

You may think that nothing in this world is precise. There is, my dear. The only thing that precise… is time.

Wise men say that you can not turn back time no matter what, so you have to work hard to make your time valuable, to turn it into money. Me, myself, I won’t say like that. I don’t want you to chase only money instead of experiences. I suggest you to get a lot of experiences, talk to as many person as you can, see what’s on their mind, and go travel around the world. You may surprise for what you’ve might find, but there’s life. It is there to make some surprises. We are expecting them! Continue reading

Rantau

“Lo suka merhatiin rambut bokap lo gak? Gw suka nih, akhir-akhir ini, entah kenapa gw jadi sering melankolis. Gw baru nyadar uban bokap gw tiap gw pulang tambah banyak. Gak enaknya merantau tuh gini sih, dalam beberapa hal lo pasti akan kehilangan momen-momen itu, terutama yang berhubungan dengan keluarga. Tiba-tiba bokap nyokap lo udah tua, tiba-tiba adek lo nikah, dan banyak tiba-tiba yang lain walaupun gak tiba-tiba juga kan ya, pasti ada prosesnya. Tapi gw kehilangan sebagian besar proses itu. Dan gw sedih, sedih banget…”

Saya tipe orang yang seringnya percaya bahwa apapun yang saya alami, pertemuan dengan siapapun itu, obrolan tentang apapun itu, gak ada yang serta merta. Tuhan punya segala cara untuk membuat makhlukNya bersyukur, dan ini adalah salah satu caraNya terhadap saya, untuk bersyukur. Penggalan kalimat-kalimat di atas adalah ucapan dari salah satu teman baik saya yang mungkin setengah dari hidupnya dihabiskan menjadi anak rantau. Dia yang asli Palembang, kuliah di Bandung, dan sekarang bekerja di Jakarta. Uniknya dari percakapan ini adalah, percakapan ini terjadi di saat saya merindukan masa-masa ngekos dan jauh dari keluarga, dimana saya seakan bebas melakukan segala kegiatan yang saya suka tanpa harus peduli pulang jam berapa, ditungguin apa nggak, dll-nya. Karena jujur, walaupun sudah umur segini, yang namanya pulang telat tetap saja menjadi masalah tersendiri karena selalu ada orang tua yang nungguin bahkan ngebukain pintu pagar (walaupun saya bawa kuncinya juga). Continue reading