Baby Blues, is it real?

20170621_085023

Hi guys!

Tadinya mau sharing tentang proses kelahirannya si #DearArsyanendra, tapi baca grup Whatsapp-nya ibuk-ibuk ada yang ngepost tentang Baby Blues. Jadi kayaknya mau sharing sedikit tentang Baby Blues dan Post Partum Depression aja dulu, sharing tentang proses kelahirannya ditunggu setelah postingan ini yaa..

Jadi awalnya ada seorang ibu minta saran bagaimana mengatasi Baby Blues-nya karena sampai bayinya usia 10 bulan dia masih ketakutan setiap bayinya nangis. Bukan karena ketakutan tidak bisa menghentikan tangisan bayinya, tapi ketakutan kalau bayinya akan “diambil” orang lain kalau dia menangis. Jadi yang dia lakukan setiap kali bayinya menangis adalah : Mengunci Pintu. Setakut itu. Ini didukung oleh setiap kali bayinya menangis, sang Eyang selalu ambil paksa bayinya, beliau gendong dan nyuruh ibunya jauh-jauh.

Saya sewaktu baca WAG itu, rasanya sedih banget. Baby Blues itu real yaa teman-teman. Dan saya rasa sih setiap ibu baru pasti mengalami. Yang beda hanya kadarnya aja. Bayangkan saja, disaat hormon masih belum stabil, bekas jaitan masih berasa sakitnya, penyesuaian terhadap berat badan yang menyusut sekian kilo, trus ditambah begadang sepanjang malam karena bayik yang on terus misalnya, gak ada helper, ditambah masih repot urus-urus rumah termasuk menu masakan sehari-hari, ribut-ribut kecil sama suami karena proses adjustment itu, dan yang lainnya. Ibarat ibu baru itu seminggu pertama, mandi sehari sekali aja udah wah. Percaya deh, tangisan bayi itu adalah hal yang paling dihindari oleh ibu baru. Apalagi ketika intervensi yang dilakukan oleh lingkungan sekitarnya membuat rasa intimidasi itu kian menjadi. Seperti ambil paksa si bayi.

Dan saya rasa, di dunia manapun itu, gak akan ada seorang ibu yang terima bila di klaim bahwa dia gak becus ngurus anak. Sesukses atau se-gak sukses apapun anaknya. Setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan berusaha semampu dan semaksimal yang ia bisa sesuai dengan kapasitasnya.

Menurut penelitian, Baby Blues Syndrome itu akan hilang 7-14 hari pasca melahirkan. Tapi PPD (Post Partum Depression) itu bisa lama sekali dan kalau tidak ditangani dengan serius bisa mengakibatkan efek yang berkepanjangan, untuk diri si ibu, ayah, juga anak.

Pengalaman saya terhadap baby blues dan PPD ini, mungkin sekitar dua bulan awal pasca melahirkan saya masih mengalaminya dan perlahan memudar seiring kembalinya saya ke rumah sendiri. Dua bulan awal itu saya tinggal di rumah orangtua. Mungkin untuk saya yang tipenya dominan introvert ini memang lebih nyaman untuk tinggal di rumah sendiri daripada numpang di orangtua. Walaupun semuanya ada yang urus selama berada disana, tapi setiap bayi nangis pun ada rasa ketakutan bahwa akan ada yang masuk kamar walaupun saya gak sampai kunci-kunci pintu. Alhamdulillah banget Arka bukan tipe anak yang nangisnya melengking meraung-raung. Jadi walaupun ngajak begadang semalaman, dia gak sampai ngebangunin seluruh rumah. Alhamdulillah.

Gak pernah ada di pelajaran di sekolah ataupun kuliah yang mengajarkan kita, perempuan, untuk “How to Become a Mother” selain proses biologisnya: Sex-Hamil-Melahirkan-Menyusui. Gak pernah ditekankan dengan sangat bahwa what matter the most itu adalah kondisi psikis sang ibu, Bukan hanya fisiknya. Saya percaya, happy mom leads to happy baby, and leads to happy family. So for Mom out there, please be happy. Find your own happiness. If it seems too hard to find after your post-partum series, create one. Mungkin dengan nonton drama-drama Koreya bisa membantu? Mungkiiin :)

Ini ada sedikit tips/saran untuk menghadapi Baby Blues/PPD berdasarkan pengalaman pribadi saya:

  • Tentukan kamu tipe orang yang seperti apa. Apakah kamu termasuk yang nyaman berada disekitar orang banyak dan menjadi pusat perhatian? Atau kamu lebih ingin banyak quality time dengan anakmu tanpa adanya intervensi orang luar. Tentukan batasan-batasannya. Jangan lupa komunikasi dengan pasangan yaa. Dan minta pasanganmu untuk ‘pasang badan’ terhadap hasil keputusan kalian berdua. Menurut pengalaman, biasanya ibu baru itu kalah suaranya.
  • Kalau kalian memutuskan untuk tinggal sendiri, hire ART/helper. Atau ikut katering rumahan. Supaya gak repot-repot masak dan cuci-cuci.
  • Communication is the key! Apalagi ke pasangan ya. Super duper wajib. Setelah lahiran ini, saya pernah ada sesi curhat khusus ke suami tentang apa yang saya rasa setelah lahiran. Dan itu sih mewek-mewek banget ujung-ujungnya. Siapin tissue ya!
  • Jangan lupa tanya ke pasangan apa yang dia rasa setelah proses lahiran ini. Apa yang berubah dari sikap kamu ke dirinya. Dan apa yang dia harapkan dari diri kamu. PPD bukan cuma menyerang ibu-ibu aja yaa guys. Tapi bapak-bapak juga bisa kena PPD ini. So, communicate with each other ya.
  • Olah raga. Gerakin badan kalian. Dan ikut jemur pagi-pagi dengan bayi. Ini lumayan bisa naikin mood kamu.
  • Tidur.
  • Dengarkan musik-musik yang bisa bikin kamu rileks.
  • Ikut grup ibu-ibu post partum, atau birth club yang sesuai dengan anakmu. Ini lumayan bisa jadi motivasi dan tempat sharing semuanya. Literally, semuanya.
  • Don’t hesitate to share. Or seeking any advises. Orang-orang di luar sana pasti ada yang bisa bantu kamu.
  • Buat jurnal-jurnal kecil. Misalnya tentang perkembangan apa yang bayimu lakukan per harinya. Bukan hanya grafik KMSnya saja. Percaya deh, melihat kapan dia pertama kali tersenyum ketika diajak selfie, ketawa-ketawa, tengkurap sendiri, memiringkan tubuhnya, tengkurap, dan banyak hal yang pertama kalinya itu bisa bikin kamu termotivasi untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi. Karena anakmu tumbuh dan berkembang :)

Dan untuk para bapak juga orang-orang yang ada disekitar ibu baru, walaupun katanya depresi ini mostly karena hormonal, mungkin bisa dicoba beberapa hal ini untuk meminimalkan waktu terjadinya:

  • Tawarkan bantuan. Tawarkan tapi tidak ambil alih sepenuhnya. Give support but not take over. Misalnya ketika bayi nangis dan kondisi ibu udah awut-awutan gak jelas, bisa katakan “Boleh ku coba (sambil ulurin tangan, tapi gak nempel ke bayi), siapa tahu bisa tenang”. Tetap dengan muka se-empati mungkin dan jangan lupa senyum. Ibu baru, bisa jadi sangat posesif terhadap anaknya. Dipegang sedikit aja kadang ada yang marah. Apalagi ambil paksa. So, please ask very very veryyy nicely. Berlaku juga untuk siapapun yang mengunjungi bayi-bayi baru lahir yaa. Jangan lupa, ada emaknya disampingnya. Kalau kamu bukan si suami, atau dokter/suster rumah sakitnya, jangan coba-coba.
  • Daripada bilang, “ASInya gak ada gizinya”, “ASInya terlalu cair”, “Nangis terus bayinya. Laper kali. Kasih formula aja”, lebih baik coba dibuatkan makanan-makanan yang sekiranya bisa memperbaiki kualitas dan memperbanyak kuantitas ASI. Kirimkan kepada sang ibu. Suruh ibunya makan dan kalau perlu tunggu sampai makanan itu habis. Tahan komentar kalian tentang ASI. Tahan. Tahan. Masih susah juga? Gapapa nanti juga terbiasa. Please. Tahan.
  • Untuk bapak, tawarkan shift jaga bayi. Misalnya shift ibu dari pagi-malam, shift bapak malam-pagi. Atau seperti apa, kalian yang buat kesepakatannya. Walaupun bapak letih, tapi support dari bapak sekecil apapun itu sangat berati buat si ibu. She will feel loved! Jangan lupa, bikinnya berdua :)
  • Kalau misalnya bapak ada keperluan lain setelah pulang kantor yang mengharuskan tidak langsung pulang ke rumah. Jangan lupa bilang. Hal yang sederhana tapi mungkin saja terlewatkan.
  • Banyak cari informasi terutama yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Biar gak banyak kemakan mitos.

Sekiaann tipsnyaa. Kalau ada yang lain lagi nanti akan di update sharing-nya. Atau ada yang punya tips lain? Boleh di share di kolom comment di bawah yaa :)

Semoga sharing kali ini bermanfaat. Dan untuk ibu bapak di luar sana, yang sedang struggling terhadap proses adjustment ini, ingat saja bahwa “these too shall pass”. Dalam waktu singkat, si anak bayi yang tadinya masih merah dan sukanya nangis, udah umur setahun. Sudah bisa jalan, lari-lari, merengek, tertawa terbahak-bahak, dan bilang mama-papa. So don’t forget to embrace and cherish every moment, for these moments will never come twice in your life.

Cheers!

Amy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s