Belajar Untuk (Tidak) Egois

RaditAmy

Apa yang berbeda dari kehidupan sebelum dan setelah menikah?

Hmm, kalau kalian tanya pendapat saya, jawaban saya pasti kata ini : “Banyak”. Banyak yang berbeda. Banyak yang berubah. Terutama kalau kamu tipe pasangan yang setelah menikah memutuskan untuk keluar dari rumah orang tua, keluar dari zona nyaman kamu dan memutuskan untuk living your own life with your beloved spouse. Kalau masih tinggal serumah dengan orang tua sih mungkin gak terlalu berasa yaa..

Dari awal saya dan Radit memilih untuk tinggal berdua saja setelah menikah. Bukannya kami tidak mau tinggal dengan orang tua, tapi menurut kami pasangan yang sudah menikah itu selayaknya ‘keluar’ dari rumahnya masing-masing karena toh gak bisa ada 2 matahari dalam 1 atap kan? Gak bisa ada 2 pemimpin di keluarga yang sama. Dan kalau saya pribadi sih lebih melihat keluar dari rumah ini sebagai proses perkenalan lagi. Saling kenal sifat & kebiasaan satu sama lain, sama-sama saling isi rumah dengan segala macam perabotannya (yang gak murah itu loh), sama-sama membangun visi & misi keluarga kecil kami, dll.

Mudah?

Perlu saya akui bahwa ini gak mudah SAMA SEKALI. Saya dan Radit sempat mengalami kesulitan di saat-saat awal (sekarang juga masih terus belajar sih). Yang kata orang-orang “marriage starts after honeymoon” itu berasa, banget. Sempat stress juga walaupun dulu-dulu denial gak stress. Sampai akhirnya kita berdua sepakat untuk ‘pacaran’ terus, tapi akibatnya pos keuangan berdua cepet banget habisnya, hehehehe.

Menjalani kehidupan berdua memang butuh komitmen, kerja sama, dan KOMUNIKASI. Tiga poin ini menurut saya yang paling penting. Sesayang-sayangnya kita dengan pasangan kita, gak mungkin kalau gak diimbangi dengan 3 hal ini. Awal menikah mungkin posisi cinta berada sedikit di atas logika. Setelah menikah, yakin deh logika kamu yang berperan aktif melampaui si cinta.

Dan satu lagi, menikah seharusnya membuat kita menjadi tidak egois terhadap kepentingan yang sifatnya keluarga. Atau setidaknya berkurang lah keegoisannya. Kalau dulu bisa semaunya sendiri, termasuk mengatur jadwal pergi harian, jadwal makanan harian, dll. Sekarang gak bisa sebebas itu. Semuanya perlu dibicarakan dulu. Diatur dan direncanakan bersama-sama. Harus saling mendengar, harus mau mengalah dan berkompromi. Kebutuhan keluarga diatas kebutuhan pribadi. Ini PR-nya saya banget. Karena sudah teruji di keluarga ayah ibu saya kalau anak-anaknya adalah anak-anak keras kepala. Kadang malu juga sih, saya yang mukanya sering ditekuk dan suami masih aja sesabar itu. Harus semangat untuk berubah!

Ini baru antar 2 orang. Si istri dan si suami. Gimana nanti ada si anak yaa. Semoga kita berdua gak sekaku itu dalam mengurus anak. Semoga saya juga bisa mengurus anak tanpa bantuan nanny. Jujur saya deg-degan, hahaha. But then again, “gak boleh egois” kayaknya akan semakin lekat dengan si saya deh. Harus ingat terus-terusan.

Dear anak ibuk yang masih di dalam perut, we’ll see you very very soon yaa, nak!

Until then, keep healthy and stay kickin’ inside my belly. So that I know you’re there :*

~A

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s