Hi, How Are You?

how-are-you

Pic courtesy to google

Setelah saya masuk ke lingkungan pekerjaan konsultan yang mayoritas kliennya adalah warga negara selain Indonesia dan setiap harinya pasti ada skype call dengan klien-klien tersebut, baik itu dari internal maupun eksternal perusahaan, pertanyaan “Hi, how are you” ini pasti ditanyakan sebagai pembuka percakapan.

Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan pertanyaan ini. Kalimat pertanyaan ini pun sudah sejak lama diajarkan di sekolah-sekolah dan biasanya diajarkan setelah kalimat perkenalan nama, dll. Jadi seharusnya semua orang yang belajar bahasa inggis pasti familiar dengan pertanyaannya. Yang menurut saya berbeda antara kita dan mereka (si native speaker itu) adalah respon terhadap pertanyaan tersebut.

Dulu sekali, awal belajar bahasa inggris, tipikal jawaban dari pertanyaan ini adalah “I’m fine, thank you. And you?” ya gak sih?

Tapi ternyata gak sesederhana itu.

Orang-orang bule memaknai pertanyaan ini dengan serius. Setidaknya itu respon orang-orang bule yang saya skype call dengan mereka. Mereka bisa cerita panjang lebar tentang level stressnya, tentang pekerjaannya, tentang penyakitnya, tentang keluarganya, tentang keterlambatannya ke kantor yang berakibat dimarahi oleh boss-nya, tentang lab check-nya, dan tentang apapun yang berkaitan dengan dirinya dan yang mempengaruhi emosinya hari itu.

Dan ketika mereka bertanya kembali pun, mereka sincere. Betul-betul bertanya kabar kita hari ini.

Ketika kita menjawab “hmm, yea not too bad”, mereka akan menunggu kita untuk bercerita lebih panjang lagi. Iya, mungkin buat kita (atau mungkin hanya saya saja yaa), pertanyaan ini adalah basa-basi semata. Tapi buat mereka, itu adalah salah satu usaha mereka untuk mengenal kita lebih dekat. Lebih jauhnya untuk menilai kita orang seperti apa. Apakah tipe yang mengeluh atau tipe lainnya. Karena mereka hanya bisa berhubungan dengan kita via skype call itu tadi, paling mentok-mentok video/conference call kan.

Jadi, kalau ada yang bertanya “hi, how are you?” kepada kamu, coba untuk tidak mengeluarkan kalimat balasan “I’m fine, thanks” yaaa. Unless, kamu benar-benar dalam kondisi yang se-fine itu. Gak ada salahnya membuka diri terhadap orang yang diseberang headphone itu kok. Siapa tahu karena mereka mengerti kondisi dan posisi kamu, mereka jadi bisa lebih memposisikan diri mereka sendiri terhadap kamu kan?

Well, ini cerita saya tentang pengalaman ber-“hi, how are you?” ria. Kalau kamu, pernah ada pengalaman serupa kah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s