Rantau

“Lo suka merhatiin rambut bokap lo gak? Gw suka nih, akhir-akhir ini, entah kenapa gw jadi sering melankolis. Gw baru nyadar uban bokap gw tiap gw pulang tambah banyak. Gak enaknya merantau tuh gini sih, dalam beberapa hal lo pasti akan kehilangan momen-momen itu, terutama yang berhubungan dengan keluarga. Tiba-tiba bokap nyokap lo udah tua, tiba-tiba adek lo nikah, dan banyak tiba-tiba yang lain walaupun gak tiba-tiba juga kan ya, pasti ada prosesnya. Tapi gw kehilangan sebagian besar proses itu. Dan gw sedih, sedih banget…”

Saya tipe orang yang seringnya percaya bahwa apapun yang saya alami, pertemuan dengan siapapun itu, obrolan tentang apapun itu, gak ada yang serta merta. Tuhan punya segala cara untuk membuat makhlukNya bersyukur, dan ini adalah salah satu caraNya terhadap saya, untuk bersyukur. Penggalan kalimat-kalimat di atas adalah ucapan dari salah satu teman baik saya yang mungkin setengah dari hidupnya dihabiskan menjadi anak rantau. Dia yang asli Palembang, kuliah di Bandung, dan sekarang bekerja di Jakarta. Uniknya dari percakapan ini adalah, percakapan ini terjadi di saat saya merindukan masa-masa ngekos dan jauh dari keluarga, dimana saya seakan bebas melakukan segala kegiatan yang saya suka tanpa harus peduli pulang jam berapa, ditungguin apa nggak, dll-nya. Karena jujur, walaupun sudah umur segini, yang namanya pulang telat tetap saja menjadi masalah tersendiri karena selalu ada orang tua yang nungguin bahkan ngebukain pintu pagar (walaupun saya bawa kuncinya juga).

Teman saya tiba-tiba membahas kehidupan perantauannya dia dan mulai menyesali kenapa hidup berjauhan dari keluarganya selama kurang lebih setengah hidupnya. Adiknya yang menikah tanpa ia tahu sudah seserius apa hubungan si adik tersebut dengan calonnya, uban sang ayah yang selalu bertambah setiap ia pulang kampung, kerutan-kerutan yang ada di wajah orangtuanya dan fisik yang tak lagi bugar seperti dahulu kala.

Kehilangan momen.

Mungkin memang kata-kata itu yang pas untuk menggambarkan situasinya. Ada momen-momen penting yang mungkin tidak akan pernah terulang yang terjadi dalam hidup orang-orang tersayang kita. Dan memang, alangkah bahagianya jika kita bisa menjadi saksi dari setiap detiknya… Walaupun kami berdua sama-sama sepakat bahwa ada trade-off dari perantauan ini dan ada keuntungan tersendiri bagi siapa-siapa yang mengalaminya, tapi tetap saja perasaan itu ada. Perasaan ingin ikut serta. Perasaan tidak ingin ditinggalkan. Perasaan ingin dilibatkan. Perasaan yang ingin dianggap penting dan berarti oleh orang-orang yang kita sayangi.

Dan selepasnya obrolan ini, keinginan itu sirna sudah. Saya gak mau ngekos lagi. Titik. Gak mau hidup berjauhan dengan mereka-mereka yang saya sayangi. Apalagi di bulan Ramadhan ini, yang sungguh merupakan momen tersendiri untuk berkumpul bagi keluarga saya… Saya adalah orang yang beruntung. Harus disyukuri :)

Untuk teman-teman yang mungkin masih dalam perantauan, entah itu kuliah ataupun kerja, di dalam negeri ataupun di luar negeri, tetap semangat ya! Akan ada masanya kok untuk kembali pulang ke rumah dan berkumpul bersama orang-orang tersayang, insya Allah :)

Selamat malam, selamat beristirahat dan jangan lupa niat puasa serta bangun sahur esok pagi.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

2 thoughts on “Rantau

  1. Amyyy…baca ini jadi keinget satu2-nya alesan aku pgn balik indonesia. Kalo boleh dibilang, mau ninggalin EU susah bangeeet. Bahkan tawaran kerja disini pun juga tempting. Tapi…kok tapi…

    • Iyaa bell tempting banget pasti yaa, EU tempat2nya menarik banget. Ini jg gara2 temenku curhat jdnya kepikiran. Disyukuri aja bell, dipuas2in slama masih disana yaa ;) happy traveling!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s