Wisata Budaya: WARUGA, Sawangan

Masih ingat dengan pelajaran sejarah yang menyebutkan kata WARUGA? Ini temannya punden berundak-undak, menhir, dll. Ingatkah? Yang masih ingat, masih ingat juga waruga itu apa? Dimana letaknya?

Merajuk pada postingan sebelumnya tentang Manado, Waruga ini HANYA dapat ditemukan di Manado. Hanya masyarakat Manado pada jaman dulu yang melakukan tradisi ini. Setidaknya di Indonesia.

Selamat Datang! :)

Selamat Datang! :)

Pada perjalanan kali ini di Manado, saya mengunjungi cagar budaya waruga yang terletak di Air Madidi, Desa Sawangan. Perjalanannya sungguh mendaki gunung lewati lembah. Alhamdulillah ada kendaraan jadi gak harus naik kendaraan umum. Untuk yang mencari cara ke cagar budaya ini tapi naik kendaraan umum, silahkan di cari di google yaa. Sepertinya ada yang pernah menuliskannya :)

Satu kata tentang kompleks ini: SEPI. Ya namanya juga kuburan batu sih ya, ngarep apaa? Tapi tadinya saya pikir akan ramai loh, karena ini cagar budaya, karena ini obyek wisata. Tapi nihil. Cuma saya (dan pak supir) nampaknya saat itu pengunjungnya *gak tau kalau ada yang gaibnya*. Hii.

Cagar budaya ini masuk dalam pemeliharaan balai penelitian Gorontalo. Dipugar pada tahun 1977-1978 dan diresmikan pada 23 Oktober 1978 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I saat itu yaitu pak DR. Daoed Joesoef.

Waruga itu sendiri adalah kuburan batu peninggalan zaman Megalitikum. Komplek ini pun isinya kuburan batu beraneka macam. Karena sepiiii (betul-betul gak ada orang) saya memberanikan diri untuk masuk ke kompleksnya dengan membuka pintu pagarnya. Tapi ternyata di kunci. Gak berapa lama, tiba-tiba ada bapak-bapak yang lari dari ujung jalan kemudian membuka kunci tersebut dan mempersilakan saya dan pak supir masuk (Iya, pak supir yang selama perjalanan malas-malasan itu pun akhirnya semangat turun karena katanya sebagai orang Manado dia malu karena gak tahu cagar budaya ini. Ini pertama kalinya dia kesini, hihihi). Bapak yang lari tadi memperkenalkan diri sebagai pak Anton, penjaga Waruga. Hehehe, maaf ya pak, main asal buka aja :D

Bapaknya Lari dari Ujung, hihihi. Maaf, pak :D

Bapaknya Lari dari Ujung, hihihi. Maaf, pak :D

Komplek Cagar Budaya Waruga

Komplek Cagar Budaya Waruga

Ukuran Waruga Berbeda-beda

Ukuran Waruga Berbeda-beda

Di pintu masuk komplek ini ada relief pada tembok kanan-kirinya. Relief sebelah kiri dari jalan masuk menggambarkan proses pembuatan waruga sedangkan relief sebelah kanan menggambarkan macam-macam mata pencaharian atau profesi dari masyarakat Minahasa saat itu.

Sebagai seorang penjaga waruga, pak Anton menjelaskan kepada kami tentang asal muasal waruga. Jadi waruga ini adalah tempat penguburan mayat Minahasa. Dulu setiap keluarga punya waruga di depan rumahnya. Waruga ini dibuat oleh laki-laki kepala keluarga walaupun dia belum meninggal. Katanya sebagai penanda akan datangnya kematian makanya dibuat sendiri dan akan digunakan untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Batu-batu yang akan digunakan adalah batu solid yang dibawa dari gunung api ke kampung, dengan cara dijinjing lalu dengan peralatan seadanya, batu itu dikerok/dicoak, sebagai tempat tubuh orang yang meninggal. Dijinjing sodara-sodara, ngebayanginnya aja udah ngeri, itu berat banget.

Satu waruga dapat berisi 1-7 orang anggota keluarga (tapi tidak sekaligus, sesuai dengan urutan matinya). Hal ini ditandai dengan garis-garis yang terdapat pada sisinya.

Jumlah Isi Waruga

Jumlah Isi Waruga: 3 Mayat

Jumlah Isi Waruga:

Jumlah Isi Waruga: 7 Mayat (Maksimal)

Waruga ini akan diletakkan menghadap Utara sesuai dengan kepercayaan masyarakat pada jaman itu. Setelah meninggal, jasadnya si mayit akan di angkat dan diletakkan di dalam waruga dengan posisi didudukkan di atas sebuah piring (atau periuk atau semacamnya) dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut seperti posisi seorang bayi dalam rahim ibu. Batu ini adalah morfologi rahim ibu tempat manusia dilahirkan dan kesanalah mereka akan berpulang yang diyakini oleh masyarakat Minahasa dulu.

Khusus untuk mayit perempuan, diletakkan periuk kembali di atas kepalanya. Katanya sih supaya segala perhiasan yang dikenakan oleh si mayit akan berada di dalam periuk (atas dan bawah) sehingga tidak mudah diambil orang. Sedangkan bagi mayit laki-laki akan membawa senjata seperti tombak dan alat-alat perang lainnya.

Yang saya kagum adalah pada relief tembok digambarkan proses pemindahan jasad mayit oleh kerabatnya yang dilakukan dengan cara.. di GENDONG. Iya di gendong, perhatikan gambar di bawah ini yaaa…

Relief di Tembok, Sejarah Waruga

Relief di Tembok, Sejarah Waruga

Perhatikan gambar ke-3 dari kanan. Digendong kan? Berarti memang benar orang-orang jaman dulu super kuat dan super guedeee.

Waruga tidak digali ke dalam tanah tetapi berdiri di atas tanah dengan lebar 1 meter dan panjang 1-2 meter.

Waruga di komplek ini bermacam-macam. Ada yang terdapat ukiran pada tutupnya, ada yang tidak. Ada yang untuk satu orang, ada yang untuk sekeluarga. Ukiran pada tutupnya pun bermacam-macam, ada yang menandakan profesinya ada pula yang menandakan daerah asalnya. Profesi bidan, misalnya; terdapat ukiran bayi kecil-anak2-remaja-sampai dewasa. Saat dewasa, tokoh di ukiran tersebut mengenakan pakaian suster dengan alatnya. Profesi penari, tokoh di ukirannya sedang menari.

Waruga Proses Bayi (1 sisi)

Waruga Proses Bayi (1 sisi)

Relief Penari

Relief Penari

Ada pula yang digambarkan sesuai dengan proses kematiannya. Ada ukiran di waruga yang menggambarkan seorang ibu dengan bayinya, itu diyakini sebagai kuburan wanita yang meninggal saat melahirkan bayinya.

Di komplek waruga ini juga terdapat waruga dengan motif ukiran cina, spanyol, dan jepang. Cina khasnya naga, spanyol khasnya orang tinggi besar mengenakan jas, jepang khasnya orang dan matahari, dll. Ini menandakan pada masa itu (waruga dipercaya muncul sejak 1600 AD), sudah ada pendatang dari daerah Cina Daratan (Mongolia), Spanyol, dan Portugal. Mereka semua sudah ada di tanah Minahasa jauh sebelum kita menyadarinya. Ini dibenarkan oleh pak Anton.

“Lihat saja sekarang, orang-orang asli Manado itu khas. Tinggi, kulit kekuningan, pipi tinggi, belum lagi hidungnya, khas orang Mongol”.

waruga cina

Relief Naga, Khas Cina/Mongol

Betul juga sih, ada miripnya memang. Kemudian pak Anton menambahkan mengenai salah satu tari tradisional di Manado yang bernama tari Kabasaran. Pak Anton menyebutkan nama lainnya (tapi saya lupa, hiks). Tarian itu merupakan kombinasi dari tari-tarian yang juga dipertunjukkan oleh masyarakat Spanyol. Itu adalah tari perang tapi lazim digunakan juga sebagai tarian selamat datang. Tarian ini pernah dipertunjukkan dihadapan beberapa kepala negara yang pernah datang berkunjung ke cagar budaya ini, di antaranya ialah Ratu Jualiana dan Pangeran Bernard, serta Ratu Beatrix dari Belanda, dll.

Foto Petinggi-Petinggi Negara yang pernah Mengunjungi Situs Cagar Budaya Waruga

Foto Petinggi-Petinggi Negara yang pernah Mengunjungi Situs Cagar Budaya Waruga

Dalam prosesnya, setelah mayat diletakkan di dalam waruga, waruga tersebut akan ditutup dan di seal menggunakan semen atau semacamnya dan tidak akan dibuka-buka sampai waktu yang lama. Ini mengakibatkan bagian dalam waruga seperti mengalami pembakaran secara natural oleh sinar matahari. Proses penguburan dengan waruga saat ini sudah dihentikan karena sempat ada waruga yang seal-nya tidak tertutup rapat, mengakibatkan uap panas keluar dan membawa wabah penyakit seperti kolera. Akhirnya pemerintah Belanda saat itu melarang penguburan dengan metode waruga. Selanjutnya mayat di kubur di dalam tanah.

Bagian Dalam Waruga yang Hancur

Bagian Dalam Waruga yang Hancur saat Pemindahan

Mau tau setinggi dan sebesar apa waruga ini? Nih saya kasih pembandingnya, abisnya gak bawa meteran. Hehehe.

Pembanding: Saya dengan tinggi 156 cm

Pembanding: Saya. H: 156 cm, W: 50 kg.

Iya itu gak tau kenapa fotonya jadi gak proporsional gitu, tapi yaudah lah yaa. Setidaknya kebayang kan? :D

Gak jauh dari komplek, terdapat museum berisi peninggalan sejarah. Kata Pak Anton, seluruh waruga yang ada di komplek ini sudah gak ada tulang belulangnya. Semua mayat sudah dikuburkan dan semua peninggalan mereka diamankan di museum ini. Psst, katanya ada peninggalan yang berupa keramik yang tahan panas dan dingin serta catnya tidak mengelupas sama sekali loh. Ini asli made in China kayaknya, atau seenggaknya made by Chinese people. Soalnya teknologinya gak ditemukan di Minahasa dan keramik semua orang juga tahu asalnya dari negeri porselen yaitu China. Koleksinya gak terlalu lengkap, karena yang bagus-bagusnya ditaro di Museum Pusat.

Rumah Adat Minahasa sekaligus Museum Waruga

Rumah Adat Minahasa sekaligus Museum Waruga

Kata Pak Anton, rumah adat seperti ini adalah yang asli khas Minahasa. Yang ada di TMII juga katanya, karena didatangkan langsung dari Manado sini. Jangan salah, rumah-rumah seperti ini sudah jarang ditemukan bahkan di Manado sendiri. Rumah khas Minahasa mempunyai 2 buah anak tangga yang saling berhadapan, bagian dalamnya luas tanpa sekat, dan bagian bawahnya kosong, persis seperti gambar. Bahkan katanya ada orang-orang bule yang memesan khusus dari Woloan kemudian dibawa ke negaranya dan dipasang disana. Semakin bangga gak sih jadi orang Indonesia? :)

Di dalam museum Waruga, terdapat peninggalan-peninggalan masyarakat Minahasa jaman dulu seperti macam-macam senjata, alat makan, sampai perhiasan. Yang bikin takjub adalah UKURANNYA.

Piring Keramik

Piring Keramik

Senjata dan Alat Perang

Senjata dan Alat Perang

Macam-Macam Perhiasan

Macam-Macam Perhiasan

Gelang. Amazed Banget Sama Ukurannya!!!

Gelang. Amazed Banget Sama Ukurannya!!!

Takjub banget dengan ukuran gelang dan kalungnya. Udah ukurannya jumbo, semuanya dibuat dari batu. Kebayang gak sih pakai perhiasan yang super besar dan super berat? Tinggi gelang ini sekitar 10-15 sm dengan diameter sekitar 10 cm. Mamam banget.

Foto sama Pak Anton, Makasih Banyak yaa Pakkk! :)

Foto sama Pak Anton, Makasih Banyak yaa Pakkk! :)

Waruga ini ternyata masuk dalam daftar kebudayaan di UNESCO. Jadi sebagai orang Indonesia, jangan hanya tahu Borobudur saja yaa ;) yuk lihat langsung apa yang pernah ada dalam buku sejarah kita. Lihat langsung jadi bisa bercerita lebih banyak. Siapa tahu jadi makin hapal sama sejarah sendiri. Hehehe.

Kesampingkan dulu aja rasional dan gak rasionalnya. Karena kata salah satu guru besar favorit saya:

Selalu ada yang rasional dalam setiap hal yang irasional. Pertanyaannya adalah rasio siapa yang dipakai.

– Prof. Jakob Sumardjo

Cheers!

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

One thought on “Wisata Budaya: WARUGA, Sawangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s