Manado kali ke Dua. Highlight: AIR MADIDI

Postingan ini seharusnya saya buat langsung sekembalinya saya dari Manado, tapi ditunda-tunda terus jadilah baru dibuat sekarang (salah satu resolusi 2014: gak menunda sesuatu, hehe).

Manado Tua *look at the clear and bright sky!!!*

Manado Tua *look at the clear and bright sky!!!*

Bulan Oktober 2013 yang lalu, alhamdulillah saya berkesempatan untuk kembali mengunjungi Manado. Ini kunjungan saya yang ke dua berarti. Kunjungan yang pertama di tahun 2010. Ayah saya kongres di sana dan kami murni berwisata air. Semuanya tentang eksplorasi kekayaan bawah laut Manado dan tentu saja, kuliner. Saat itu teman ayah saya, seorang dokter anak terkemuka di Manado masih hidup. Beliau membawa kami semua pergi mengunjungi pulau pribadinya. Iya, beliau punya pulau pribadi yang dari pulaunya bisa terlihat gemerlap lampu Filipina. Setelah ditanya kenapa punya pulau sendiri, jawabnya adalah karena ia HARUS membelinya. Karena kalau tidak, pulau tersebut akan dijual oleh pemerintah propinsi kepada asing. Jadi ia menyelamatkan pulau tersebut dan mengubahnya menjadi pulau resort pribadi walaupun banyak bule curi-curi untuk menyelam di pulaunya (karena bawahnya memang indaahhh, bunaken aja kalah). Sayang mimpinya beliau untuk membeli semua pulau tersebut belum tercapai, karena sudah lebih dulu dipanggil oleh Tuhan. Rest in peace disana ya, Om :)

Ah, memori :”)

Bagian timur Indonesia memang terkenal dengan kekayaan bawah lautnya. Indah dan banyak yang belum terjamah. Tak jarang dijadikan destinasi penyelaman baik untuk turis lokal maupun internasional. Tapi saya sudah bertekad, pada kunjungan ke dua ini saya tidak akan hanya melihat lautnya saja, tapi juga harus wisata budaya dan mencoba mengunjungi tempat-tempat yang beum pernah saya kunjungi selama disini. Manado itu tidak terlalu besar sebenarnya (dibanding Jakarta) atau mungkin karena tidak sepadat Jakarta ya makanya saya berpikir kalau Manado itu tidak terlalu besar. Tapi serius, selama saya disana, saya seperti hapal jalan karena melawati jalan yang sama berulang-ulang kali.

Jadi ini tempat-tempat yang saya kunjungi selama di Manado kali ke dua:

1. Klenteng Ban Hin Kiong

Klenteng Ban Hin Kiong

Klenteng Ban Hin Kiong

ban hin kiong

Sejarah Klenteng Ban Hin Kiong. I spy: ME! Ehehehe

Kelenteng ini merupakan kelenteng tertua di Manado. Ini menjadi saksi sejarah bahwa masyarakat keturunan Tionghoa sudah ada di Indonesia bahkan jauhhhh sebelum Indonesia merdeka. Kelenteng ini sendiri dibangun pada tahun 1819. Kelenteng yang sekarang merupakan hasil renovasi dari kelenteng sebelumnya. Kelenteng ini berwarna merah khas, dan terletak di jalan raya D.I Panjaitan.

Sembahyang di Klenteng

Sembahyang di Klenteng

Saat saya mengunjungi klenteng tersebut, orang-orangnya sangat ramah. Seorang ibu bahkan berdiri untuk menawarkan saya duduk. Mungkin dia memperhatikan saya yang sibuk ambil gambar sana-sini, dan membaca semua tulisan di papan pengumuman kemudian kasian, hahaha. Saat itu sedang ada orang yang sedang sembahyang. Saya mengenal ritual itu karena masih khas dalam kehidupan saya. Ritual itu dilakukan oleh salah satu nenek saya sewaktu beliau masih hidup. Orang itu kemudian menyalakan dupa dan  memegang hio, menggerakkan tangan ke atas ke bawah, menulis di selembaran kertas, melemparkan koin, kemudian kalau koinnya belum sesuai dia akan mengulangi proses yang sama dari awal :)

2. Monumen Yesus Memberkati

Monumen Yesus Memberkati

Monumen Yesus Memberkati

Monumen Yesus Memberkati ini merupakan ikon kota Manado. Monumen ini terletak di komplek perumahan Citraland. Selama ayah saya kongres, saya dapat satu mobil dengan satu supir yang bebas digunakan kemana saja. Alhamdulillah! Selepasnya dari klenteng, kami melewati monumen ini. Dan si pak supir dengan inisiatifnya langsung menawarkan mau berhenti atau tidak. Saya mikir-mikir lagi karena monumen ini sudah pernah saya kunjungi sebelumnya. Trus dia bilang lagi, bisa naik katanya sampai ke atas. Saya belum pernah naik ke atas. Penasaran ada apa di atas langsung ingin naik. “Tapi naik sendiri ya, saya tunggu disini”, kata pak supir. No problemo, pak! Apa gunanya capek-capek jadi hamster lari di  treadmill kalau gak kuat naikin tangga-tangga ini, pikir saya.

Ternyata beneran tinggi. Saya kualat, haha. Di sepanjang tangga, ada gambar-gambar proses kelahiran, di salib, sampai kematian Yesus. Di paling atasnya, bersama dengan monumen yang supeeeerrrrrrr gede, ada patung-patung kecil lainnya yang mengelilinginya. Cuma saya gak tahu itu apa dan gak ada orang yang bisa ditanya. Si pak Supir pun ketika saya tanya begitu saya sampai lagi di bawah, ternyata gak tahu karena dia belum pernah naik. Hih, saya kirain dia males naik karena udah pernah naik sebelumnya, gak taunya karena gak kuat katanya -___-“

Sepanjang Jalan Menuju Monumen

Sepanjang Jalan Menuju Roma Monumen

Gambar Yesus di Monumen Yesus Memberkati 1

Gambar Yesus di Monumen Yesus Memberkati (1)

Gambar Yesus di Monumen Yesus Memberkati (2)

Gambar Yesus di Monumen Yesus Memberkati (2)

Pemandangan dari atas

Pemandangan dari atas

3. Monumen Titik Nol

Saya dapat informasi ini dari google. Tapi trus saya diketawain sama pak supir karena ini masuk dalam list kunjungan saya. Katanya, nanti juga kita lewat situ. Ternyata benar, itu sering kita lewati karena dekat dengan pusat kota. Saking dekatnya dengan pusat kota dan juga pusat kemacetan, trus gak jadi turun dan gak jadi ambil gambar… Tapi penampakannya sih kayak gini. Monumen titik nol dengan tulisan ZERO mengelilingi nya.

Manado Zero Point

Manado Zero Point

4. Tomohon (Flower Street, City Market, dll)

Inginnya ke Danau Linau, tapi trus melewati kota Tomohon. Disini udaranya sejuk, katanya kalau pagi penduduknya masih mengenakan jaket karena ini termasuk dataran tinggi-nya kota Manado. Sepanjang jalan banyak penjual bunga dan juga hasil-hasil kerajinan tangan berupa anyaman bambu. Ada pasar hewannya. Dan di pasar ini dijual hewan-hewan dalam keadaan hidup dan mati. Maksudnya tadinya hidup trus jadi mati karena dibunuh di tempat. Cara ngebunuhnya pun dengan cara si hewan di masukkan ke dalam karung, dan karungnya dipukul-pukul pake tongkat atau sejenisnya sampai apa yang ada di karung tidak bergerak lagi. Sadis? Lumayan sih, tapi itu jadi tontonan turis-turis disini. Saya sih gak berani. Gak tega T_T

5. Danau Linau

Danau ini katanya bisa berubah warna akibat adanya kandungan sulfur yang sangat tinggi. Saat yang paling baik untuk melihat perubahan warnanya adalah ketika siang hari atau sehabis hujan. Dan memang terlihat. Danau yang tadinya airnya berwarna hijau menjadi biru kemudian hijau lagi dengan gradasi yang seperti ‘berjalan’. Berkunjung ke danau ini tidak disarankan untuk yang gak kuat mencium bau belerang, karena memang bau banget.

Dermaga Danau Linau

Dermaga Danau Linau

Lagi Renovasi *hiks*

Lagi Renovasi *hiks*

6. Danau Tondano

Ini murni danau aja sih. Yang terbesar di Manado. Tapi sayang sudah banyak eceng gondoknya. Dulu sempat pemerintah pusat menggalakan program kerajinan eceng gondok bagi para ibu-ibu, tapi katanya setelah ganti pemimpin, ganti pula program dan akhirnya ini gak digalakan lagi. Sayang banget. Soalnya eceng gondoknya bikin kotor dan ganggu pemandangan. Oiya, di danau ini ada restoran loh. Lumayan untuk mengisi perut setelah perjalanan jauh, namanya Restoran Tumou Tou.

7. Desa Sawangan, Air Madidi

INI!! Saya mau cerita yang banyak tentang ini! Tapi kayaknya di post terpisah lebih seru deh. Setelah postingan ini yaa *to be continue*.

8. Bunaken

Masih menjadi list wajib kunjungan di Manado. Tapi yang sekarang gak dibawa ke wall-nya karena trip yang ini banyakan ibu-ibu dengan anak-anak kecilnya. Tapi gak papalah, karena saya-nya juga lagi halangan makanya gak bisa nyebur *jadi gak iri*, hahaha.

boy with a flag

Local Boy with Indonesian Flag

Lihat deh langitnya, cerah banget kan? Such a good day to dive. Tapi perhatikan gambar yang bawah, ini sesaat ketika kami sampai di Marina lagi. Langit langsung abu kelabu..

Abu Kelabu

Abu Kelabu

9. Makam Tuanku Imam Bonjol

Seriusan saya baru tahu kalau makam Tuanku Imam Bonjol ada di Manado. Well, gak benar-benar Manado sih, lebih ke perbatasan kota karena ini di Minahasa. Jadi Sulawesi Utara itu terbagi menjadi 5 kecamatan tadinya, trus pemekaran sampai 9 kecamatan. Masing-masing ada yang namanya Manado Tua, Minahasa Utara, Minahasa Timur, dll; itu kata penduduk lokal. Tapi kalau dari Wikipedia sih namanya Bunaken, Malalayang, Mapanget, Sario, Singkil, dll; trus saya jadi bingung sendiri. Hahaha. Ya pokoknya begitulah, makam ini di luar kota Manado tapi masih di Sulawesi Utara.

Taman Makam Pahlawan Tuanku Imam Bonjol

Taman Makam Pahlawan Tuanku Imam Bonjol

Tempat Makam Tuanku Imam Bonjol

Tempat Makam Tuanku Imam Bonjol

Makam Tuanku Imam Bonjol

Makam Tuanku Imam Bonjol

Keterangan Lahir-Meninggal Tuanku Imam Bonjol

Keterangan Lahir-Meninggal Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol meninggal di pengasingan. Di dalam kompleks pemakaman ini tidak cuma makam yang dapat kita temukan, tapi juga tempat ibadat dari beliau. Beliau melakukan sholat di atas batu di tepian sungai. Batu tersebut besar dan panjang; dan terdapat bekas sujud karena terdapat cekungan di bagian yang dianggap tempat beliau meletakkan kening, lutut, dan juga jari-jari kaki serta tumit. Beliau meninggal di tahun 1854.

Tempat Solat

Tempat Solat

ibadah imam bonjol

Batu Tempat Solat Imam Bonjol

Batu Tempat Solat Imam Bonjol

Ini guedeee dan panjanggg banget, seriusan.

Ini guedeee dan panjanggg banget, seriusan.

Papan Pengumuman

Papan Pengumuman

Ada yang menarik dari kompleks pemakaman ini. Sejarah lokal mengatakan, pada tanggal 13 Februari 2006, kompleks ini terkena banjir dahsyat. Banjir ini membawa batu tempat beliau biasa beribadat dan secara kencang menghantam pabrik miras yang ternyata berdiri di sebrangnya. Minuman kerasnya semacam bir/tuak dengan merk cap Tikus kalau gak salah dengar sih. Wallahu’allam.

Kali yang sempat mengalami banjir

Kali yang sempat mengalami banjir

Btw, selama perjalanan di kota, saya sempat melewati jalan yang sekilas mengingatkan saya kepada jalan-jalan di Astana Anyar, Bandung. Bedanya, ada satu toko yang ramai berdiri orang-orang di luarnya sedangkan kondisi toko hanya terbuka 1 pintu saja. Mereka berteriak-teriak seram sekali. Saya tanya ke pak supir itu sedang ada apa. Beliau menjawab santai, katanya itu toko pabrik miras. “Biasa kak, pada minta gratisan”. Trus jadi ingat lagi perkataan teman saya orang Manado asli. Katanya kalau di Manado sana, kaya atau tidaknya seseorang itu dilihat dari dimana dia tidur. Kalau dia tidurnya di jalan berarti dia lebih kaya dibandingkan yang miskin. Karena katanya, yang kaya akan mabuk-mabukan sampai malam dan tidur di jalan. Entah ini anekdot atau kenyataan, tapi yang saya dengar seperti itu.

Akhirnya selesai juga perjalanan singkat ke Manado ini. Gak bisa lama-lama karena kongres ayah saya juga sudah selesai. Alhamdulillah wawasan saya bertambah. Tahun depan harus banyak-banyak travel keliling Indonesia! Insya Allah. Ada yang mau ikut? *cari temen* Karena agak susah sih travel sendirian. Karena lebih bahaya. Karena gak bisa moto diri sendiri (bisa sih, tapi kurang bagus aja gitu hasilnya, layar display-nya terbatas). Hahaha. Sayang saya baru tahu teknologi tongsis sepulangnya dari sini. Kalau tahu lebih dulu kan bisa lebih kece, ya gak sih.

2014 Wish: Keliling Indonesia!!!

2014 Wish: Keliling Indonesia!!!

OH IYA, ceklis saya nambah satu:

NAIK ANGKOT MANADO DI MANADO. Iya, angkot yang jep-ajep-ajep itu, yang full lampu disko dalemnya dengan musik yang hingar bingar. Saya sukses naik itu, tanpa nyasar, sendirian. How cool is that?!

Until I see you again, Manado. Please don’t be more crowded than this. 

PS: Sorry for the low-res photos. I uploaded this post with my super old laptop. And apparently, he was too tired to upload the high-res one and too sick to run photoshop. So I print-screened all the images and re-save them using paint. Yeah, lazy me.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s