Belajar Dari Menjahit

http://www.windandhoney.com/2012/03/and-this-is-why-i-draw-or-harold-where.html

Saya diperkenalkan oleh mesin jahit pertama kali oleh ibu saya, dulu sekali. Ibu saya saat itu mempunyai hobby baru yang terlihat asik karena hasilnya bagus. Baju-baju ngaji sewaktu saya TPA dulu pun dijahitkan olehnya. Beda dari yang lain dan cenderung mendahului mode. Setelah saya gunakan, teman-teman saya ingin dibelikan hal yang serupa dengan punya saya tapi tidak tahu harus beli dimana. Itu sepertinya kali pertama saya menemukan bahwa kebisaan untuk menjahit itu keren. Dan itu menjadi obsesi, saya pun harus bisa.

Saya benar-benar belajar menjahit pakaian semenjak tahun 2011. Mulai belajar memahami pola, kemudian membuatnya, membayangkan rupa jadinya, belajar menggunakan mesin jahit sampai ke bagian finishing yang memang harus menggunakan tangan. Di tahap ini baru saya tahu kalau menjahit itu SUSAH. Tapi sekalipun begitu, ada banyak hal yang bisa saya ambil. Ini diantaranya:

Menjahit itu butuh niat. Biarpun ada mesin jahit dan ada bahan untuk dijahit tapi kalau niat menjahit gak ada, pasti ujung-ujungnya tetap ke tukang jahit (pengalaman) =D

Menjahit itu butuh kesabaran. Harus sabar melewati segala tahapan-tahapannya. Harus sabar dengan mesin jahit yang benangnya kadang-kadang putus di tengah jalan, atau jarum yang patah, ataupun benang kusut yang nyangkut di bahan.

Menjahit itu harus bisa mengendalikan mood dan emosi. Harus konsisten. Gak boleh gara-gara ingin cepat selesai kemudian menjahit dengan kecepatan penuh karena si benang akan nyangkut dan ujung-ujungnya harus buka jahitan. Ketika emosi, lebih baik jahitannya dihentikan dan dilanjutkan ketika suasana hati membaik.

Menjahit itu proses. Ada banyak tahapan yang harus dilakukan seperti mencari model pakaian, mengukur badan, membuat pola kecil, tempel pola kecil di kertas coklat kemudian ukur bahan yang diperlukan, beli bahan, buat pola besar, potong bahan, obras, pasang resleting, pasang kupnat (kalau ada), satukan dengan furing, satukan semua bahan, obras terakhir, dan finishing. Harus dilalui satu-persatu dan berurutan.

Menjahit membutuhkan ukuran yang presisi, gak bisa semaunya. Untuk menjadikan pakaian seperti A, ya harus menggunakan pola A. Tidak bisa sembarangan. Semua harus sesuai dengan rumus. Kalau tidak mengikuti rumus, maka pakaian akan menjadi tidak nyamai dipakai.

Menjahit membutuhkan imajinasi. Akan jadi seperti apa pakaian itu hanya si penjahit yang tahu dan bisa membuatnya.

Menjahit juga memerlukan rasa menghargai keindahan dan kerapihan yang sangat besar terhadap hasil jadi. Menjahit membutuhkan keinginan akan kesempurnaan. Sekali jahitan melenceng atau kain yang terlipat, maka akan berpengaruh terhadap bagian yang lain. Kalau masih diteruskan, maka konsekuensinya akan terlihat jelek ketika dikenakan.

Tapi yang paling penting (dan ini yang paling saya suka) adalah secanggih apapun mesin jahit yang digunakan, jika ingin menghasilkan hasil jadi yang maksimal, finishing-nya tetap harus menggunakan tangan. Seperti memasang som/kelim dan kancing :)

Banyak sekali yang didapatkan dari menjahit ini. Saya mulai menyenanginya. Dan target yang paling utama tetap saja: kebaya. Pasti bisaaaaa!

~p.r.p.l.p.r.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s