Citapen, 1 Syawal 1434 H

Hari ini adalah hari Idul Fitri. Saya sekeluarga seperti biasa selalu menyempatkan diri untuk solat Ied di Citapen – salah satu tempat di daerah Ciawi, Bogor. Bukan menyempatkan lagi sih sebenernya, tapi sudah mendekati wajib untuk solat disini kalau kata Bapak mah. Kalau nggak rasanya ada yang kurang.

Jadi setelah takbir dihentikan sebentar kemudian solat Ied selesai dilakukan, selanjutnya adalah ceramah oleh khatib.

Ceramah Idul Fitri memang tidak pernah jauh-jauh dari kata puasa, fitri, kemenangan, dll. Tapi ada satu yang entah kenapa di tahun ini lebih ditekankan. Bahkan sang khatib pun sampai mengulang bagian ini 2x.

Katanya kurang lebih seperti ini:

“Setiap anak dilahirkan fitri, suci. Yang menjadikan anak itu nasrani atau majusi adalah orang tuanya. Konteks nasrani maupun majusi disini bukan melulu bicara mengenai agama. Lebih jauh lagi, sikap. Anak itu bagaimana orang tuanya. Perilaku anak terbentuk karena didikan orang tua. Kalau anak itu salah, salah orang tuanya. Benar pun ya benar orang tuanya. Semoga kita sebagai orang tua dapat mendidik anak-anak kita sesuai dengan yang seharusnya.”

Glek banget ini. Dulu pernah dengar sih tentang hal yang sama, tapi dulu yang saya pahami hanya sampai sebatas agama saja. Tapi nyatanya lebih dari itu kalau ditelaah lagi.

Tanggung jawab jadi orang tua itu luar biasa besar karena gak pernah ada yang namanya mantan ayah atau mantan ibu. Selamanya orang tua ya orang tua. Gak pernah putus hubungannya. Tapi tanggung jawab anak juga gak kalah besar. Coba deh perhatikan kalimat ini “salah anak ya salah orang tuanya, benarnya anak juga benarnya orang tuanya”. Berarti kasarnya, si anak yang melakukan dosa yaa orang tuanya juga kecipratan, iya gak sih? Walaupun di mulut kita bilang sayang, bilang cinta, dll tapi kalau masih ngasih dosa yang malah nyusahin orang yang kita sayang itu gimana deh…

Konsep ini kayak konsep rantai gitu kali ya. Selalu terpaut ke generasi sebelumnya dan setelahnya. Tinggal gimana caranya untuk memperbaiki generasi depannya agar tidak melakukan hal yang buruk. Ibarat rantai, tinggal pilih mau dikaitkan dengan rantai yang besar atau yang kecil, yang terbuat dari emas atau dari tembaga, dll.

Mungkin dari sini juga yang akhirnya terbentuk istilah ‘bibit, bebet, bobot’. Biar gimana juga interaksi pertama manusia adalah dengan keluarga dan lingkungannya kan.. Harus pinter-pinter.

Trus sekarang jadi kepikiran, kalau saya jadi orang tua, akan jadi orang tua yang bagaimanakah saya? Dan akan membentuk anak-anak yang punya sifat seperti apa?

Penting gak penting sih ini buat dipikirin. Seenggaknya kita jadi tau kalau mau ngebentuk pribadi anak A, kita harus mau dulu jadi pribadi A. Karena lagi-lagi anak itu bagaimana orang tuanya. Dan keberhasilan terbesar orang tua itu adalah anak yang sholeh/sholehah. Semoga.

Bismillahhh ijinkan yaa Allah :”)

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s