Pemimpin dan Yang Dipimpin

Menjadi seorang pemimpin, menurut saya, syarat utamanya dan mutlak adalah adanya orang yang mau dipimpin. Tapi ternyata, syarat itu saja tidak cukup. Haruslah ada syarat-syarat lainnya seperti: tahu arah dan tujuan, tahu mau dibawa kemana, punya fasilitas (jabatan/kedudukan), punya orang sukses dalam bidangnya yang dapat ditanya (dalam hal ini mentor atau guru), dst.

Bingung?

Mungkin seperti ini ilustrasinya.

Adalah seorang supir taksi. Kendaraan taksi sebagai fasilitasnya. Supir taksi tersebut kemudian mengambil penumpang. Katakanlah penumpang tersebut tidak tahu jalan, yang ia tahu hanya tujuannya: ingin sampai kemana. Apakah ia akan memilih supir yang mengaku tahu jalan atau yang tidak tahu jalan? Orang yang tidak berilmu pun pasti tahu jawabannya, pastilah supir yang tahu jalan yang akan dipilih. Gak akan ada penumpang yang rela dibawa putar-putar atau bahkan disasarin sama supir taksi. Selain waktu yang terbuang, uang pun juga akibat argo taksi yang semakin naik.

Lalu bagaimana bila sang supir sangat ingin mengambil penumpang tersebut tapi kondisinya ia tidak tahu jalan? Yang pertama kali harus dilakukan adalah jujur. Jujur terhadap dirinya sendiri dan si calon penumpang tersebut dengan cara mengakui kalau ia tidak tahu jalan. Gak ada penumpang yang mau dibohongi, bilang tahu jalan ternyata tidak tahu jalan.

Langkah selanjutnya adalah bertanya apakah si penumpang tahu jalannya atau tidak? Kalau sama2 tidak tahu, selalu ada orang yang dapat ditanya. Dalam kasus ini adalah peta atau penduduk sekitar atau orang yang pernah kesana. Setelah tahu jalannya pun belum cukup, harus tahu kondisi jalannya saat itu. Apakah macet, apakah sedang ada demo, apakah banjir, dan lain sebagainya. Sesungguhnya ini demi kebaikan si supir juga gak sih, supaya dia gak capek-capek nyetir dan ujung-ujungnya terjebak ke kemacetan yang entah kapan selesainya.

Ribet?

Sekilas mungkin iya ribet. Supir pasti stress karena terlalu banyak syarat yang harus dipenuhi. Tapi kembali lagi ke tujuan utamanya: mampukah si supir membawa si penumpang ke tempat yang ia mau? Tempat yang menjadi tujuan akhirnya? Kalau ingin sampai dengan selamat dan tidak kurang satu apapun, syarat-syarat ini lebih baik dipenuhi. Ribet di awal gak masalah asalkan selamat sampai tujuan.

Siapapun pasti pernah berada dan akan berada dalam posisi ini cepat atau lambat, baik posisi sang ‘supir’ maupun sang ‘penumpang’. Gak ada ‘supir’ ataupun ‘penumpang’ yang sempurna. Untuk si supir, adakalanya mendapatkan penumpang yang rewel, yang bawel, yang bentar-bentar nanya, yang sok tau, dan yang lain sebagainya. Untuk si penumpang pun sama, adakalanya mendapatkan supir yang gak tau jalan, yang sok tau, yang bentar-bentar nanya jalan, yang sombong gak mau nanya, dan lain sebagainya. Tapi seperti layaknya sebuah tim, si supir dan si penumpang harus bisa saling mengingatkan dan bisa bekerja sama untuk mencapai tujuan, yaitu sampai di tempat yang diinginkan dengan selamat.

Tapi sih kalau bisa jangan sampai si penumpangnya lebih pinter dari si supir, atau malah si penumpang yang geregetan sendiri lihat cara menyetir si supir. Ini supaya gak banyak drama aja sih sepanjang perjalanan. Biar gimana pun juga supir ya tetap supir, si pemegang kendali kemudi dan penumpang ya tetap penumpang, yang memang tugasnya menumpang dan berkewajiban untuk bayar. Si penumpang gak akan mau nyetirin si supir taksi kan? Eh atau ada yang mau?

Selamat menemukan si ‘supir’ dan si ‘penumpang’ yang cocok di hati yaa.

Cheers! :)

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

2 thoughts on “Pemimpin dan Yang Dipimpin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s