Kesamaan Frekuensi, Mungkinkah?

Jakarta, 6 Mei 2013.

Malam ini saya membuka twitter, dan ada mention dari seseorang yang baru saya tahu lewat bukunya “Be a Great Muslimah”. Hari senin yang lalu, sewaktu saya ijin tidak masuk kantor karena habis suara dan demam, saya membaca habis buku dari Febrianti Almeera atau yang dikenal dengan @pewski ini berkat rekomendasi dari sahabat saya, Qohar.

Bukunya memberi saya pencerahan, Alhamdulillah. Saya seperti diingatkan kembali mengenai Personal Value, dijelaskan tentang analogi pohon yang ngena banget, dan yang terakhir tentang ini: kesamaan frekuensi.

Kalau dipikir2 ini menarik. Percakapan mengenai 3 topik ini sering saya dan teman2 saya lainnya obrolkan. Dan sekarang tertuang dalam sebuah buku, ini subhanallah sekali. Terutama tentang frekuensi itu.

Terhitung ada 3 teman dekat terbaik yang waktu itu berbicara dengan saya tentang topik ini. Tempatnya pun berbeda-beda dan saya tidak yakin mereka mengenal satu dan yang lainnya. Inti pembicaraannya selalu sama, pada intinya relationship itu hanya sebatas frekuensi. Relationship apapun. Seorang hamba terhadap Tuhannya, teman terhadap temannya yang lain, pasangan, bahkan jodoh sekalipun. Lebih lanjut, frekuensi disini bukanlah sebatas teman satu kelas, satu sekolah, satu kampus, satu unit, dll. Tapi teman yang apabila kita bicara, kita bisa langsung ‘klik’. Mungkin karena kesamaan latar belakang, kesamaan pemikiran, dll. Contoh kasarnya: dalam 1 kelas saja tidak mungkin kita bisa akrab terhadap seluruh teman-teman itu kan, paling hanya 5-10 orang saja yang kita jadikan teman baik atau teman main (bahkan mungkin kurang dari 5). Kalau nge-geng pun gak mungkin akrab kesemuanya, pasti ada urutan kedekatan tertentu. Dan itu yang dinamakan kesamaan frekuensi.

Ada pembicaraan antara saya dan salah 1 dari 3 teman terbaik itu suatu malam tentang “tiap orang akan berusaha untuk menjadi lebih baik, disini frekuensinya akan semakin meningkat. Nah kalau teman2 di frekuensinya yg sekarang gak mau improve, gimana?”

“Ya mereka akan tertinggal. Yang berhasil improve akan pindah frekuensi, termasuk pindah lingkungan main. Akan jadi gak cocok dengan yang sebelumnya.”

Saya iseng mengamati pola2 frekuensi ini melalui twitter dan wawancara serabutan. Ternyata “kamu adalah siapa yang kamu follow” ada benarnya. Atau “kamu adalah siapa teman-temanmu” itu seriusan betul. Seperti saya yang gak kenal siapa @pewski ini di awal, ngetwit ke dia, trus di-mention balik, dan eng ing eng tiba2 ada sahabat saya yang lainnya yang ngeretwit dan berkata “teman-teman dekat saya”. :”)

Yuk, satukan frekuensi. Mari menjadi lebih baik, bersama-sama.

:)

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s