Landasan Hati

Cikampek, 3 Mei 2013

Memasuki fasa-fasa peralihan, sebagai analogi ambil contoh dunia kerja, pernahkah kalian mempertanyakan ke diri sendiri pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

“Apakah ilmu saya sudah cukup?”
“Apakah saya worth enough untuk mereka?”
“Apakah salary + benefit yang ditawarkan perusahaan pantas saya terima, atau malahan kurang?”
“Apa yang akan saya dapatkan dari perusahaan itu?”
“Apakah saya akan berkembang disana?”
“Maukah saya menghabiskan sepanjang waktu saya untuk berkarir disana?”

Kalau kalian pernah bertanya hal-hal di atas, tos. Haha.

Pertanyaan standar ya sepertinya sebagai orang yang akan memasuki masa peralihan. Bukan hanya memasuki dunia kerja saja, memasuki fasa-fasa lainnya seperti sekolah lagi, memilih calon istri/suami, menikah, punya anak, menjadi nenek/kakek, dll juga pasti akan muncul pertanyaan-pertanyaan tipikal seperti itu. Walau pun mungkin gak precise sih, tapi yaahh pertanyaan-pertanyaan itu pasti ada. Pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada diri sendiri.

Karena pada dasarnya, setiap manusia takut gagal. Iya, pada dasarnya, walaupun ada kekuatan yang membungkus itu semua yang dinamakan “keberanian”.

Dan pertanyaan paling utama itu adalah…

“Apakah ilmu saya cukup?”

Banyak yang bilang, memasuki dunia kerja itu adalah ‘belajar lagi’, karena jarang sekali ada kasus yang ‘apa-yang-dipelajari-itulah-yang-dikerjakan-dengan-sepenuh-hati’. Tetap belajar lagi, mungkin sisi manajemennya, finansialnya, teknisnya, sosial/komunikasinya, dll. Intinya mah belajar lagi.

Namun kembali lagi, pada dasarnya, pekerjaan apapun itu dan profesi manapun itu, pasti punya special specification for reqruitment agar bisa menjalankan fungsi tertentu. Pasti. Walaupun kadang tak tertulis, biasanya hal-hal ini pasti di state-kan saat interview.

Selalu ada kemampuan-kemampuan utama yang diperlukan untuk bertahan di dalam perusahaan atau lebih jauhnya lagi untuk mengembangkan perusahaan.

Kalau gak punya atau gak sesuai?

Gak akan diterima. Atau kalaupun diterima, akan ada waktu tambahan untuk proses ‘induction‘. Penanaman nilai perusahaan, pemahaman tentang cara kerja perusahaan dan fungsi kerjanya dengan secara spesifik. Makan waktu memang, tapi tidak kalau dianggap sebagai investasi.

“Gak pernah ada yang sia-sia dalam hidup kalau bisa ngambil hikmah dan pembelajaran dari segala sesuatu” – salah satu omongan teman terdekat saya.

“Agar pesawat terbang dapat mendarat, yaa harus disiapkan landasannya. Pesawat yang besar gak mungkin akan mendarat di tempat yang kecil. Dilirik sama pilotnya aja nggak” – kata teman terdekat saya juga suatu waktu saat bicara tentang hidayah.

Untuk mendapatkan sesuatu yang besar, memang harus banyak yang dipersiapkan. Apa saja itu? Semuanya. Termasuk hati. Akan capek, banyak masalah, banyak kerja, tapi semoga terus ingat analogi pesawat itu. Dia akan datang, bagi siapa yang telah mempersiapkan landasannya. Dan landasan bukan sembarang landasan. Harus mengikuti standar, bahkan internasional.

Harus sabar :)

Selamat membuat landasan! Semoga pesawat-pesawatnya mau mendarat yaa :p

Sekian kontemplasi malam ini.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s