Overheard

“Iya, jangan nangis yaa. Bicara dulu, gak pakai nangis, ayah gak bisa denger suara Tiara kalau Tiara nangis”
“Yang mana yang sakit? Sakit sekali?”
“Iya iya, yaudah Tiara istirahat yaa, iya nanti ayah telpon ibu”
“Iya ayah telepon sekarang, udah dong nangisnya. Nanti malah tambah sakit. Istirahat yaa.”
“Iya sayang, sebentar yaa. Ini langsung ayah telepon”

…telepon ditutup
…sang ‘ayah’ kembali memutar tombol panggil

“Bu, Tiara sakit”
“Perutnya. Kayaknya masuk angin deh bu, tadi keujanan katanya”
“Dia lagi sendirian di rumah. Gimana sih kok anak bisa ditinggal sendirian di rumah, gak ada siapa2 gitu??”
“Ibu telepon ya. Bilangin obatnya apa. Tadi dia nelpon ayah sambil nangis, kayaknya sakit banget.”
“Aduh gimana ya gak bisa pulang juga, masih jaga 1 shift lagi. Ibu jangan malem2 ya pulang dari kantornya, kasian Tiara”
“Oke, tapi jangan lupa telpon dia dulu ya sekarang”

…telepon pun kembali ditutup

Percakapan satu arah yang tidak sengaja saya dengar di musholla…
Percakapan ini membuat saya kembali berpikir, dan berjanji dalam hati. Semoga saja saya gak jadi ibu yang seperti itu. Ibu yang gak tau anaknya sakit apa. Ibu yang bahkan anaknya saja ‘meminta’ sang ayah untuk menghubungi sang ibu.

Kalau sang ayah itu adalah ayah saya, pasti sudah perang dunia ke-3 dari dulu. Hehe.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

One thought on “Overheard

  1. astaghfirullah. semoga si Tiara ini gak kenapa kenapa dan semoga kita nggak jadi ibu yang kayak gitu, naudzubillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s