Wisata Religi (Part 3 — End)

Hari terakhir dari liburan di penghujung tahun 2012.

Matahari bersinar sangat terik hari ini. Madura pun seperti Madura pada umumnya, puanas pol. Pagi ini rencananya adalah ziarah terakhir ke makam Syaikh Kholil di Bangkalan. Bersyukur sekali, ternyata rumah temennya bapak ini di Bangkalan, dan dekat sekali dengan makamnya Syaikh Kholil. Bahkan nama jalannya pun jalan Syaikhonna Kholil.

Hallo, matahari Madura!

Hallo, matahari Madura!

Bersiap

Bersiap

Jalan Syaikhonna Khalil jam 7 pagi. Lengang!

Jalan Syaikhonna Kholil jam 7 pagi. Lengang!

Tempat parkir mobil

Tempat parkir mobil

Di dalam Masjid ini ada makam

Di dalam Masjid ini ada makam

Bersiap untuk berziarah

Peziarah

Gerbang masuk masjid

Gerbang masuk masjid

Kubah dalam

Kubah dalam

Interior masjid

Interior masjid

Panorama interior masjid

Panorama interior masjid

Di balik pagar ini ada makam beliau

Di balik pagar ini ada makam beliau

Jadi katanya, dulu masjidnya gak sebagus ini. Masih beralaskan tanah. Tapi daerah ini mulai dibuat maju dengan berbagai macam perubahan sana-sini karena yang menjadi bupatinya masih ada hubungan sodara dengan Syaikhonna Kholil. Alhamdulillah jadi lebih layak tempatnya.

Setelah berziarah, agenda selanjutnya adalah makan nasi amboina. Saya gak tahu nasi amboina itu seperti apa, tapi kata temannya bapak, gak aci kalau ke Madura tapi gak makan nasi amboina untuk sarapan pagi-nya. Penasaran juga. Setelah dibeli, isi dari nasi amboina ini adalah nasi yang super banyak, telur, daging, dan sayuran daging dengan kuah santan. Enak, tapi nasinya terlalu banyak dan padat. Cuma habis setengah. Oh ya, sambelnya super banget pedesnya, tapi disitu mungkin yang membuat nasi amboina ini jadi juara.

Selama di Jawa Timur ini jarang sekali makan sayur. Pola makan berantakan. Dan semua serba nasi-nasi-nasi dan nasi. Juga daging-daging-daging dan daging. Gawat kalo kelamaan tinggal disini. Apalagi buat yang macam saya, makan gak kontrol sedikit langsung kelihatan di pipi -____-” (bukti foto sewaktu baru datang dan pas pulang). Gawat gawat gawat.

Nasi amboina!

Nasi amboina!

Setelah makan nasi amboina ini, kami semua pergi untuk mengunjungi rumah ibu dari temannya bapak yang satunya lagi. Beliau ini sama-sama orang Madura, tapi karena satu dan lain hal gak bisa pulang ke Madura jadi meminta tolong ke teman-temannya yang dokter ini untuk menengok keadaan ibunya. Kebetulan Om ini sahabat baiknya Om yang satu lagi (bingung jelasinnya, tapi intinya mah begitu). Jadilah kami semua pergi ke rumahnya setelah mampir di toko oleh-oleh, hehe.

13

Jalanan menuju rumah nenek. Madura memang selengang ini yah?

Puas ngobrol-ngobrol, cerita-cerita, nostalgia, dll. Kami pamit pulang karena masih mau mampir ke tempat batik tulis Madura, biasa acara ibu-ibu. Sempat juga dibekali rambutan yang sangat manis dan super banyak sama nenek. Setelah itu rencana makan siang adalah Bebek Sinjay. Bebek ini terkenal se Madura dan luar Madura. Banyak wisatawan mampir ke tempat makan ini. Untuk makannya saja harus mengantri dan diberikan kupon satu-satu.

Kami kesiangan. Ternyata bebeknya pada jam 1 siang itu sudah habis. Yasudah, mungkin bukan rejeki, pikir kami. Kemudian Om — yang tadi ibunya kami kunjungi — bertanya via BBM ke bapak perihal makan siang. Bapak pun menceritakan semua drama tentang bebek Sinjay ini, kemudian bertanya dimana lagi tempat yang sekiranya bisa kami kunjungi untuk makan siang yang enak dan khasnya Madura. Kata Om, ada di sampingnya (saya lupa namanya). Yasudah jadilah kami makan disana. Sewaktu asyik makan siang dengan lahap, bapak ditelpon lagi oleh gak-tau-siapa. Dia berkata, kalau bebek Sinjaynya sudah bisa diambil. Kaget. Ternyata, usut punya usut, Om itu punya kakak yang merupakan salah satu pejabat tinggi di Madura. Kakaknya sedang di Jakarta, dan khusus menelepon Bebek Sinjay ini untuk menyediakan bebek sejumlah yang kami inginkan. Akhirnya mereka pun mengusahakan agar ada. Gak ngerti lagi, betul-betul rejeki itu gak kemana ya.. Ada saja jalannya. Mana kami tahu kalau kakaknya si Om ini merupakan pejabat daerah? …

Kalau sudah sampai Madura tapi gak makan bebek Sinjay itu… apa yaa… rugi banget deh. Enakkkk. Bebeknya empuk banget, bumbunya oke dan meresap, dan sambelnya itu sambel mangga. Pedas-pedas asam. Gak ada di Jakarta atau kota-kota lain. Cuma ya harus kuat aja antrinya. Dimakan pakai nasi panas itu sesuatu banget (aduh, nasi lagi…). Sayang gak sempat di foto rupa bebeknya. Tapi bisa kok di cari di google. Hehehe.

Setelah dari Madura, kembali ke Surabaya, langsung menuju bandara untuk check-in. Sampai bertemu lagi, Jawa Timur! =)

Pulang!

Pulang!

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s