Wisata Religi (Part 2)

Ini hari ke-2. Dan agenda hari ini adalah ke BROMO!!! Woohooo! Dan ziarah ke-2, hehe.

Di Bromo…

Kami sekeluarga bangun pagi sekali. Jam 2 pagi sudah bangun karena paling lambat jam 3 pagi kami harus sudah keluar dari penginapan dan menuju Penanjakan. Masih sangat  gelap. Kami bersyukur, pagi ini hujan enggan turun sambil tetap berdoa agar awan dan kabut tidak menghalangi.

Kami sampai rute penanjakan sekitar pukul 4 pagi. Alhamdulillah tidak terlambat untuk menjadi saksi sapaan sang mentari. Antrian mobil-mobil jeep khusus bromo sudah panjang. Kami turun dari jeep dan naik ojek agar cepat sampai. Benar saja, begitu kami sampai, penanjakan sudah penuh namun alhamdulillah masih ada sedikit ruang untuk kami selap-selip, hehehe. Dan ini beberapa foto-fotonya. Semuanya no filter. Subhanallah.

Sunrise

1

Kabut! *deg deg*

2

Malu-malu

3

Tapi mau…

5

Setengah lingkaran !

23

Di atas awan

6

Dan semua awan serta kabut pun menyingkir memberi ruang bagi mentari :”)

24

Nope. It wasn’t doomsday. But yes, the sun was soooo big!!!

Bromo, Tengger, Semeru

Bromo, Tengger, dan Semeru (paling tinggi, di belakang)

25

View spot ke-2, sedikit turun dari Penanjakan. Berlomba dengan kabut.

26

The team.

Setelah puas mengagumi mentari, makan pop mie yang tidak terasa panas saking dinginnya udara di atas, foto-foto a la turis lokal, dan balas-balasan kata dengan Sule, akhirnya kami menuju spot selanjutnya: KAWAH BROMO.

Untuk menuju kawah ini, kami turun dari penanjakan dan kembali menaiki jeep. Ketika sampai di kaki gunung Bromo, kembali menggumam Subhanallah. Foto-foto yang ditampilkan di halaman ini gak ada apa-apanya dibandingkan dengan apabila melihat langsung. Sejauh mata memandang dikelilingi perbukitan. Dan hijau. Betul-betul penyejuk mata.

Kawah

17

Pemandangan lumrah di Bromo: penunggang kuda, menunggang kuda dengan mengenakan sarung. Berasa musafir.

8

BROMO JEEP CLUB. Iyah, ada club-nya. Hanya mereka yang boleh masuk ke area ini.

7

Panorama penyejuk hati.

9

Kuda! Wajib banget ditunggangi kalau ke Bromo. Sensasinya…

16

Kuda yang saya naiki. Namanya Diego, sudah tua. Umurnya 9 tahun tapi masih setia dengan Pak Mul :”)

11

Sebelum naik ke kawah

28

Sedikit menengok ke bawah — masih belum naik ke kawah. Seperti pemukiman antah berantah.

12

Pilih. Naik tangga atau jalan menanjak.

13

Model “I was here” versi tiang batu Bromo

14

Akhirnya! Kawah Bromo! Bau belerang menusuk hidung dan pemandangan sampah yang menusuk mata.

15

Pengamanan ‘seadanya’

10

Edelweiss :3

Satu lagi, kalau kalian merupakan penggemar bunga abadi alias Edelweiss, di Bromo ini bunga abadi diperjualbelikan. Jangan khawatir untuk membeli. Aman kok. Dan harganya cukup murah. 10 ribu seikat. Yah, daripada metik sendiri trus diminta untuk dikembalikan lagi kan. Hehehe.

Selanjutnya: SAVANA.

Savana / Bukit Teletubbies

27

Breath-taking scenery

30

Savana Bromo

31

:D

Savana dikenal pula dengan sebutan bukit teletubbies. Siapa yang gak tahu teletubbies? Tinky Winky, Dipsy, Lala, dan Poo tinggal di perbukitan hijau. Sekilas dilihat memang seperti Savana ini, kurang bayi matahari dan rumahnya aja. Ah tapi pasti ada di balik bukit itu! Hehehe *tetep*

Katanya orang-orang sana juga, saat musim-musim hujan ini, bukit ini akan berwarna hijau menyejukkan persis seperti Bukit Teletubbies. Namun, apabila musimnya adalah musim panas, perbukitan ini akan berwarna merah. Ish, penasaran.

Udara masih tetap dingin walau sudah tidak sedingin saat fajar, tapi angin masih tetap kencang. Awan hujan bergerak. Kami pun harus terus bergerak. Kejar-kejaran dengan awan.

Menuju destinasi terakhir di kawasan Bromo: PASIR BERBISIK

Pasir Berbisik

29

Kayak adegan di film-film luar negeri gak sih? :”)

32

Sejauh mata memandang…

33

Bukan. Itu bukan salju. Itu pasir.

35

Psst psst

Jadi apa yang dibisikkan oleh pasir? Melodi. Pasir yang tertiup angin itu akan memberikan nada. Kata om saya yang seorang jeep adventurer dan sudah bolak-balik ke Bromo ini, daerah ini suka dijadikan tempat untuk orang-orang bertapa. Mungkin karena kesunyiannya yang menenangkan sehingga dapat meningkatkan konsentrasi. Mungkin yah. Tapi setelah dicoba, gak bakat kayaknya saya. Hahaha. Was-was takut dimakan pasir.

36

Pertapa amatir.

34

Jadi ini kegiatannya. Foto keluarga.

Trus jadi kepikiran. Foto pre-wedding disini oke kali yah. Hahaha. *gakmaksudngodesih* =p

Ah, subhanallah sekali Bromo ini. Ada pegunungannya, ada perbukitan hijaunya, juga ada bukit pasirnya. Pergi ke tempat-tempat ini ibarat dikasih lihat potongan-potongan adegan dengan kecepatan tinggi. Wush wush wush. Selesai dari suasana dinginnya puncak, pindah ke sejuknya perbukitan a la teletubbies, lalu pindah lagi ke dataran yang sejauh mata memandang dunia seperti jatuh di ujungnya: dataran tinggi berpasir. Gimana gak makin sayang sama Indonesia sik kalo gini caranya… :”)

Ziarah Ke-2

Kembali ke penginapan jam 11.30 siang. Perut lapar, sangat. Pengurus penginapan berkata bahwa kami belum mengambil jatah sarapan dan masih bisa diminta. Gak pakai ba-bi-bu langsung menuju ke tempat makan dan menu sarapannya adalah: SOTO AYAM PANAS. Setelah dingin-dinginan di atas, dan capek haha-hihi, makan soto panas ini juara banget! Semua pun makan dengan lahap. Setelah itu kembali ke kamar, mandi, packing, dan siap-siap untuk check out.

Tujuan kami selanjutnya adalah ziarah ke-2. Menuju Pasuran, ke makam Syaikh Hamid. Makamnya berada di sebelah kanan dari Masjid Agung Al-Anwar di Pasuruan. Masjidnya sendiri terletak di depan Alun-Alun kota. Betul-betul megah.

22

Masjid Agung Al-Anwar Pasuruan

20

Di pintu masuk ke makam

21

Wajib mengenakan penutup kepala (kerudung) bagi peziarah wanita dan berpakaian muslimah

18

Wanita dilarang masuk mendekati makam Syaikh. Terdapat pembatas.

19

Dan di area pembatas itu isinya juga kuburan ~…~ Semoga gak dosa

Selesai berziarah, waktu menunjukkan pukul 16. Laper lagi. Makan lagi di daerah Bangil kemudian menuju Surabaya untuk menukar mobil dan melanjutkan perjalanan menuju Madura, tempat penginapan malam ini.

Saya senorak itu loh lihat jembatan Suramadu di malam hari kelap-kelip ganti warna. Mengira diri sendiri sudah cukup norak, ternyata anaknya temennya bapak yang satu mobil sama saya bilang walaupun dia orang Madura, tapi baru kali ini menyebrang laut dengan melewati Jembatan Suramadu.

Yes. Gak sendirian noraknya. Hahahah.

Capek, tapi senang. Bahagia sekali, alhamdulillah. Terima kasih untuk harinya yaa Allah.

Saatnya istirahat =)

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s