Wisata Religi (Part 1)

Jawa Timur mungkin saja terkenal akan daerah wisata alamnya seperti pegunungan dan pantai serta candi-candinya. Di Jawa Timur juga terdapat makam dari presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Tapi kali ini saya dan keluarga pergi ke Jawa Timur niat utamanya bukanlah untuk berkunjung ke pantai-pantai maupun pegunungan (walaupun akhirnya pergi juga =p) melainkan untuk wisata religi, untuk berziarah mengunjungi makam-makamnya beberapa gurunya guru saya dan keluarga.

Total rombongan: 9 orang. Keluarga saya 5 orang ditambah keluarga temennya bapak 4 orang. Temennya bapak ini aslinya dari Madura. Nanti di Madura, kami akan tinggal di rumahnya.

Selama bepergian dengan total 3 hari 2 malam, itenerary-nya adalah sebagai berikut:

Hari 1

  • Berangkat dari Jakarta jam 8.45 WIB, sampai di Surabaya jam 10.20 WIB
  • Ziarah ke makam Sunan Bungkul, makan siang dan zuhur di sekitaran Taman Bungkul
  • Pergi ke penginapan untuk taro barang dan istirahat. Penginapan di sekitar jl. Raya Bromo, Probolinggo
  • Istirahat untuk besok naik ke Bromo

Hari 2

  • Jam 3 brangkat dari penginapan, melihat sunrise di Penanjakan Bromo
  • Trus ke kawahnya, ke savana, bukit teletubbies, dan pasir berbisik
  • Kembali ke penginapan
  • Packing untuk check out
  • Kembali ke Surabaya, ziarah ke KH. Abdul Hamid di Pasuruan
  • Ke Madura, nginep di tempat temennya bapak

Hari 3

  • Bangun pagi, mandi, siap2 packing lagi
  • Ziarah ke makam syaikhona Cholil di Bangkalan
  • Sarapan nasi amboina
  • Beli oleh-oleh
  • Ke rumah temennya bapak yang satu lagi (om yang ini gak ikut, tapi minta tolong buat nengokin ibunya disana, sweet yah?)
  • Makan siang
  • Siap2 ke Surabaya untuk penerbangan kembali ke Jakarta

Tentang Bromo akan di posting terpisah.

Jadi Jawa Timur, selain terkenal akan semuanya yang telah disebutkan di atas, beberapa kota di provinsi itu juga terkenal akan sebutan kota santri. Pasuruan, Bangil, dan Bangkalan, adalah beberapa contoh dari kota-kota santri tersebut. Ketika saya berkunjung pun, pemandangan anak-anak mengenakan peci putih yang lekat di kepala dan bapak-bapak yang naik motor dengan menggunakan baju koko dan sarung menjadi lumrah dan biasa. Damai sekali.

Hari 1

Alhamdulillah, ketika saya dan rombongan tiba di Surabaya, Surabaya hujan deras, namun tak berkepanjangan. Dengar punya dengar, Surabaya jarang sekali hujan bahkan di musim penghujan seperti sekarang-sekarang ini. Turunnya hujan itu membuat adem dan AC mobil berasa. Hehe.

Kami dijemput dengan menggunakan 2 mobil terpisah oleh Sule (namanya Sulaiman, tapi biar singkat dipanggilnya Sule). Setelah itu melanjutkan perjalanan untuk berziarah ke makam Sunan Bungkul. Makam ini berada di dalam masjid yang masih ada di dalam komplek taman Bungkul. Ramai sekali dengan orang. Awalnya saya berpikir mereka semua adalah peziarah, tentu saja saya salah. Mereka-mereka hanya orang-orang yang akan mengisi perut dengan beragam jenis makanan di taman Bungkul. Memang, penjaja makanan banyak sekali di taman ini.

Taman Sentra Bungkul

Taman Sentra Bungkul

Saat kami datang, saat itu pula adzan zuhur berkumandang. Langsung ambil air wudhu untuk solat berjamaah. Setelah selesai, kami berjalan ke samping mesjid. Area mesjid ini berfungsi pula sebagai pemakaman, tapi yang disandingkan dengan makam seorang Sunan pastilah bukan orang-orang biasa juga. Makam Sunan Bungkul sendiri terletak di paling dalam area tersebut, dengan nisan paling besar dan sangat kokoh.

Komplek pemakaman di area masjid

Komplek pemakaman di area masjid

Pemakaman di area dalam

Pemakaman di area dalam

Makam Sunan Bungkul (paling kanan, paling besar)

Makam Sunan Bungkul (paling kanan, paling besar)

Air doa yang ada di pelataran masjid

Air doa yang ada di pelataran masjid

Setelah selesai berziarah, dan foto-foto lagi di area depan tentunya, kami pergi makan siang. Ada warung pinggir yang katanya terkenal enak. Kalau saya gak salah ingat, namanya Sedap Malam. Yang terkenalnya adalah rawon. Saya yang gak suka rawon langsung bertanya apa mereka jual makanan yang lainnya. Katanya mereka juga jual soto. Dan sotonya enaaaakkkkkk parah. Dagingnya empuk banget dan ditambah efek lapar jadi nikmatnya berkali-kali lipat.

Tampilan soto. Sampai sekarang masih kebayang enaknya.

Tampilan soto. Sampai sekarang masih kebayang enaknya. Sluurrpppp!

Setelah itu langsung menuju tempat penginapan. Tadinya, sebelum ke Probolinggo akan singgah sebentar untuk ziarah di Pasuruan supaya hari kedua-nya langsung bisa ke Madura, tapi ternyata macet. Mobil-mobil campur aduk dengan yang akan menuju Malang. Akhirnya ditetapkan besok saja ke Pasuruan. Nah, selagi berusaha menuju Pasuruan tersebut kami melewati Porong-Sidoarjo. Iya, daerah lumpur Lapindo itu. Disini saya meminta berhenti karena penasaran ingin lihat langsung saat ini seperti apa rupanya. Sayang sekali oleh masyarakat sekitar, daerah ini dijadikan objekan mereka untuk mendapatkan uang tambahan. Untuk naiknya saja dikenakan biaya 50ribu rupiah! Sempat adu kata-kata akhirnya diputuskan bayar 20ribu untuk 3 orang. Di atas pun sama saja. Banyak penjaja foto yang menawarkan untuk memfoto kami. Hasil fotonya ada tulisan “Lumpur Lapindo, blablabla“. -____-”

Saya pernah dengar dari temannya ayah saya yang juga dokter pribadi dari keluarga yang punya perusahaan bahwa mereka (si pihak tertuduh) sudah membayar semua rumah penduduk disana dengan harga yang masuk akal, sesuai dengan harga tanah dan bangunan saat itu. Penduduk disana pun sebenarnya banyak yang bukan penduduk asli, surat-surat tanah pun mereka gak punya, namun mereka bisa berdalih bahwa surat tanahnya hilang terkubur lumpur itu. Entah yang mana yang benar.

Ketika saya naik, terlihat dengan jelas lautan lumpur yang sudah mengeras rata dengan tanah. Jauh di bagian tengahnya masih nampak luapan gas, seperti layaknya erupsi dari gunung-gunung vulkanik.

Daerah lumpur Lapindo, 29 Desember 2012

Daerah lumpur Lapindo, 29 Desember 2012. Itu yang seperti asap itu luapan gas-nya.

Ini tangga untuk menuju kawasan lumpur

Ini tangga untuk menuju kawasan lumpur

Saat kami sampai di Probolinggo, kabut sudah mulai turun. Kata orang-orang sana, yang tadi pagi naik ke bromo gak bisa lihat terbitnya matahari karena tertutup kabut, trus abis itu turun hujan jadi mereka balik lagi. Sempat was-was cemas, tapi bismillah semoga besok bisa lihat semuanya. Walaupun itungannya ke bromo ini bonus, tetep aja mendekati wajib. =D Bakalan sedih banget kalau udah sampai ke Probolinggo tapi gak ke Bromo.

Suasana di penginapan

Suasana di penginapan

Udah cocok belum buat jadi setting film2 horror?

Udah cocok belum buat jadi setting film2 horror?

Jam stengah 5 sore loh ini

Jam stengah 5 sore loh ini

Agak horror sih tempatnya. Spooky bin creepy gimana gitu. Tapi yaudah karena rame-rame dibawa santai aja. Hahahah. Trus tiba-tiba nyium bau durian. Hidung ini memang sensitif untuk aroma buah itu. Ternyata 2 keluarga ini semuanya sensitif. Langsung lah ribut cari darimana asalnya bau durian itu. Sule pun diminta dengan sangat untuk ikut mencari. Akhirnya ketemu! Dan si mas dan mbak-nya dipanggil ke depan penginapan. Pesta durian sore-sore sodara-sodara!!!

Penjaja durian keliling =)

Penjaja durian keliling =)

Enak!!

Enak!!

Si mbak dan masnya ternyata dari Madura. Langsung nyambung sama si Om =) Dapat ilmu baru disini. Jadi katanya kalau abis makan durian, minumnya dari kulitnya. Air minumnya ditaro di bekas tempat buahnya trus di minum. Kalau mau cuci tangan pun cuci tangan dari tempat yang sama. Terbukti baunya jadi lebih cepat hilang.

Semoga saja matahari mau bersinar dan gak tertutup kabut esok pagi. Semoga cuaca cerah! Semenjak turun dari pesawat,  cuacanya mendung dan gerimis.

Gak sabar menanti esok! =D

Foto dulu sebelum tidur =D

Foto dulu sebelum tidur =D

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

One thought on “Wisata Religi (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s