Peringatan Asyura 1434 H

Pada peringatan hari Asyura tahun ini, saya kembali menjadi mentor. Asyura sendiri sebenarnya jatuh pada tanggal 10 Muharram yaitu pada hari Sabtu, 24 November 2012. Namun, acaranya baru diadakan satu minggu setelahnya, pada hari Minggu, 2 Desember 2012.

Asyura dikenal sebagai ‘lebarannya anak yatim’. Sekitar 68 orang anak yatim diundang untuk ‘bermain’ di komplek kami di daerah Citapen, Ciawi. Banyak permainan-permainan seru. Ke-68 orang anak yatim ini digabung dengan anak-anak kecil dari keluarga-keluarga kami yang umurnya sekitar 6-11 tahun untuk kelompok remaja dan 3-6 tahun untuk kelompok junior. Mereka dibagi menjadi 7 kelompok. Pembagian kelompok ini berdasarkan warna-warna pada nametag mereka yang telah dibagikan terlebih dahulu. Kelompok yang saya pegang adalah kelompok Irian dengan warna biru tua. Tema perayaan asyura kali ini adalah “aku cinta Indonesia”.

Undangan untuk para adik-adik ini sebenarnya jam 8, tapi mereka selalu rajin untuk datang lebih awal. Jam 7 sudah ada yang datang, dan kakak-kakaknya (baca: mentor) belum pada turun. Hehehe. Saya yang turun lebih dulu, langsung membantu persiapan sana-sini yang masih belum selesai. Beruntung, di pos atas, dilakukan pemeriksaan kesehatan gratis terlebih dahulu oleh teman-teman dokter. Setelah dinyatakan sehat, mereka turun ke aula sekitar jam 8. 

Suasana Aula sesaat sebelum dimasuki oleh kaki-kaki mungil anak-anak. Masih sepi~

Suasana Aula sesaat sebelum dimasuki oleh kaki-kaki mungil anak-anak. Masih sepi~

Tas-tas yang disusun rapi berisi snack yang nantinya dibagikan

Tas-tas yang disusun rapi berisi snack yang nantinya dibagikan

Mas Dondi dan Demi, disela-sela persiapan. :3

Mas Dondi dan Demi, disela-sela persiapan. :3

Komplek tempat acara diadakan memang naik turun. Gerbang utama terletak di bagian atas, dan aula di paling bawahnya. Ditengah-tengah terdapat tempat parkir mobil yang nantinya akan digunakan sebagai arena bermain dan mesjid.

Acara resminya dimulai jam 10 pagi. Namun, jam setengah 8 mereka yang ditunggu-tunggu sudah hadir. Terlalu cepat ini, terlaluu~. Tapi yasudah, berhubung mereka sudah turun, dibariskan saja dengan rapi dan dipersilahkan untuk duduk. Lebih dari 50 anak sudah hadir, dan saya masih celingak-celinguk, mana kakak-kakak mentor yang lainnya? Satu kelompok terdiri dari sekitar 12 orang anak, dan dari 7 kelompok ditambah 1 kelompok junior (yang jumlahnya lebih dari 13 orang) hanya 3 kelompok yang sudah mempunyai mentor.

Adik-adik di kelompok Irian yang sudah datang pagi-pagi sekali

Adik-adik di kelompok Irian yang sudah datang pagi-pagi sekali

"Ayo, duduk yang manis ya semuanya sambil menunggu teman-temannya yang lain"

“Ayo, duduk yang manis ya semuanya sambil menunggu teman-temannya yang lain”

Tarik napas dalam-dalam. Banyak anak dengan sedikit orang-orang dewasa dan anak-anak ini diminta menunggu sekitar 2 jam? Baiklah, kericuhan dimulai. =D

Anak-anak akan tetap menjadi anak-anak. Adalah kita, orang-orang yang lebih besar, yang harusnya lebih dewasa, yang harusnya memahami mereka. Sederhana sih, karena kita “pernah” menjadi mereka. Pernah mengalami masa-masa seperti mereka.

Saat itu jam menunjukkan pukul 8.30 WIB dan setengah dari jumlah anak-anak di kelompok saya sudah datang. Daripada menunggu semua hadir, lebih baik memulai obrolan. Dimulai dengan saya yang memperkenalkan diri dilanjutkan dengan perkenalan diri anak-anak ini.

Farah, Ayman, Riefozi, Resti, Farhan, Abdul Karim, Alia, Rizki, Alam, Jalal, Wildan, dan Ainun. Semoga saya gak lupa nama-nama mereka.

Beberapa dari mereka sudah langsung akrab. Bahkan membentuk semacam ‘geng’, ngobrol sendiri-sendiri. Saya yang berpikir mereka satu sekolah, salah. Mereka hanya teman main. Main bola sepanjang sore, tiap hari. Pikiran saya langsung beralih ke Gufron dan teman-temannya, anak-anak Pulau Pramuka. Pantas saja mereka akrab.

2 jam bukan waktu yang sebentar untuk menjaga flow anak-anak ini. Terlalu lama. TERLALU. Rata-rata mereka adalah anak-anak yang tahun kemarin, kemarinnya lagi, kemarinnya kemarinnya lagi, sudah pernah datang ke acara ini. Mereka sudah hapal ada apa-apa saja nantinya.

Teh, kapan sih acaranya mulai?

Sebentar lagi, sabar yaa. Kita main-main aja dulu.

Nanti ada hadiahnya kan ya, teh?

Pastinyaaa. Makanya harus semangat ya! Supaya kita jadi juara terus dapat hadiah. Siapa yang mau hadiah?

*semuanya angkat tangan*

Bagus! Kalau gitu, insyaAllah kita jadi juara.

InsyaAllah, teh.

Kemudian, wildan bertanya dengan mimik lucu.

Teh, trus nanti ada senam pagi lagi ya teh kayak tahun-tahun lalu?

Ada dong.

Senamnya apa teh? Gerakannya gimana?

Hmm. Senamnya nanti pakai lagu Gangnam Style. Ada yang tau gak lagu itu?

Tau dong tehhhh *semuanya serempak*

Yang seperti ini kan ya, teh?

Kemudian Wildan langsung berdiri dan menarikan gerakan Gangnam Style tersebut dengan luwes. Saya kaget, tapi gak bisa menahan tawa. Bisaan banget sih dia. Teman-teman sesama mentor di sebelah saya ikut menyemangati Wildan dan berkata supaya nanti Wildan dibariskan paling depan sewaktu senam. Saya mengiyakan, Wildan-nya mau kok. =D

Setelah itu suasana mencair. Tadinya masih ada anak-anak yang pendiam dan tidak ikut berbicara, tapi setelah aksi Wildan ini semuanya pecah. Semua berbicara. Senang sekali.

Saya kemudian bertanya tentang cita-cita. Klasik sih. Tapi entah kenapa saya selalu mau tahu tentang cita-cita dari anak-anak, tentang mimpi-mimpi mereka. “Mau jadi apa?” atau mungkin lebih tepatnya “mau jadi siapa?” karena memang mereka ‘melihat’ orang-orang yang akan mereka jadikan role model-nya.

Saya teh! Kalau saya mau jadi polisi. Habisnya, polisi gagah teh! Trus ngatur-ngatur orang, nangkepin penjahat, ah pokoknya keren pisan lah.

Kalau saya mau jadi guru teh. Tapi gak tau guru apa.

Saya juga mau jadi guru! Tapi guru kelas 1 aja gak mau kelas-kelas lain. Ribet kalau kelas-kelas yang lain mah.

Sejauh ini polisi dan guru. Dan saya bertanya lagi kepada yang lain.

Saya mah, mau jadi dokter teh. Dokter gak kalah keren, bisa meriksa trus nyembuhin orang.

Saya yang mendengar itu, langsung menunjuk ke arah adik saya yang berdiri tak jauh dari kelompok kami.

Mau seperti kakak yang berdiri disitu? Dia dokter loh =)

Iya, mau. Keren, teh. *nyengir*

Kalau saya mau jadi koki, teh. Dari kecil terbiasa melihat ibu memasak, masakannya enak-enak.

Yang barusan berbicara dan ingin menjadi koki itu namanya Alia. Perempuan, kulit bersih, cantik dan manis. Selalu menyenangkan mendengar cita-cita ini, semoga semua cita-cita kalian tercapai yaa. Didoakeun ku teteh.

Kalau mau jadi dokter harus pinter.

Jadi guru juga teh!

Iya, guru harus lebih pinter. Pokoknya jadi apapun kalian nantinya, harus pinter ya! Sekolah harus rajin, gak boleh mabal. Belajar yang bener.

Teh! Teh! Saya dong, semester lalu nilai MTK-nya 60, trus sekarang 40.

Loh kok malah turun?

Habis susah, teh! Gak ngerti-ngerti.

Tapi tetap harus semangat yaa. Gak boleh nyerah. Semester depan jadi 70 ya!

Iya, insyaAllah teh.

Obrolan-obrolan sederhana. Pesan-pesannya pun sederhana. Satu yang harus selalu saya ingat di acara-acara seperti ini adalah: BAWA KAMERA. Berkaca dari kejadian sederhana di atas dak kapal sewaktu di perjalanan menuju Pulau Pramuka, maka saya pikir adalah keharusan membawa kamera. Mereka suka difoto, mereka suka melihat wajahnya di pantulan lensa kamera, mereka suka melihat hasilnya. Alhamdulillah, benda kecil yang berefek besar itu tak lupa saya bawa. Suasana pun riuh ketika saya mulai mengambil gambar sana-sini.

Suasana ketika snack dibagikan.

Suasana ketika snack dibagikan.

Tuker-tukeran makanan.

Tuker-tukeran makanan.

Ini Wildan. Yang selalu mengikuti kemana lensa kamera diarahkan. Yang jago banget Gangnam Style-nya juga itu loh.

Ini Wildan. Yang selalu mengikuti kemana lensa kamera diarahkan. Yang jago banget Gangnam Style-nya juga itu loh.

Arzie, Azra, dan Ayman mencoba-coba bermain dengan mixer sound.

Arzie, Azra, dan Ayman mencoba-coba bermain dengan mixer sound.

Setelah snack dibagikan dan sampah-sampah bungkus makanan dibuang di tempat sampah, mereka dibariskan dan kami berdoa bersama dipimpin oleh Guru kami. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan mobilisasi ke tempat senam di atas.

Daaannnn, inilah Gangnam Style itu.

Baris rapi dulu. Hap hap.

Baris rapi dulu. Hap hap.

Kakak-kakak mentor memimpin pemanasan

Kakak-kakak (atau om-om ya? hehe) mentor memimpin pemanasan

Gangnam style!

Gangnam style!

Seru. Bahkan anak-anak minta diulang sampai 2 kali. Kak Ray yang memimpin senam pun sampai kewalahan dan ketika teriakan untuk mengulang untuk ketiga kalinya itu keluar dari mulut anak-anak, langsung di-cut. Katanya kalau terlalu banyak senam bisa-bisa gak jadi main. Alasaaannn~. Haha, bisa banget deh kak.

Setelah itu mereka duduk sesuai kelompoknya dan mulai bermain. Saya bersyukur anak-anak yang ada di kelompok saya bukan tipe anak-anak pemalu yang ‘kalem menunggu dipilih’. Ketika saya bertanya siapa yang mau bermain? Semuanya serempak berkata “SAYA TEH SAYA!!”. Dan ketika saya pilih, anak-anak itu langsung maju ke depan dan bermain dengan sangat baik. Oh dan mereka sudah mengatur strategi loh. Betul-betul merasa berada di ‘daerah’nya sendiri. Alhamdulillah.

Pose lagi sebelum mulai main. Gimana gak jatuh cinta?

Pose lagi sebelum mulai main. Gimana gak jatuh cinta?

Mainnnn!

Mainnnn!

Lempar kesini! Lemparrr!

Lempar kesini! Lemparrr!

Pilih-pilih dulu balon isi airnya

Pilih-pilih dulu balon isi airnya

Semangat sekali anak-anak ini. Saya yang melihat pun jadi ikutan semangat. Setiap bermain didampingi oleh para mentornya. Mau gak mau saya pun berteriak-teriak menyemangati. Dan siapa pun yang bermain, kelompok ini selalu menang! Ah senangnyaaa~

Kita menang teh!!! *sambil mengangkat kedua tangannya mengajak tos*

Iyaaa, selamat yaaaa. Alhamdulillah banget. Kalian hebat-hebat dan pinter-pinter.

Bukan kami-nya teh, tapi mentornya *kata salah satu anak menunjuk ke saya*

Kalian lah. Udah atur-atur strategi gitu. Pinter. Teteh mah cuman nyemangatin aja.

Hehehe. Hadiahnya apa yaaaa~

JUARA UMUM!! Jago sekali kalian~

JUARA UMUM!! Jago sekali kalian~

Menikmati hadiah sebagai juara

Menikmati hadiah sebagai juara

Kelompok juara 2 dengan kk mentor: Dhana, Kresna, dan Nisa (ih curang banyak banget kk-nya, hahaha)

Kelompok juara 2 dengan kk mentor: Dhana, Kresna, dan Nisa (ih curang banyak banget kk-nya, hahaha)

Mereka dengan semangat yang sama membongkar isi dari hadiahnya. Pensil warna, buku gambar, tempat pensil, dll. “Pas banget, teh. Di sekolahan saya lagi ada pelajaran menggambar dan melukis. Ini dapetnya komplit lagi warnanya”, kata satu diantara mereka yang langsung di-amin-i oleh semuanya. “Ada kuasnya pula!!!”.

Saya pun mengeluarkan kamera lagi dan mulai membidik wajah mereka satu-satu, berharap sampai kapan pun saya gak akan lupa dengan wajah-wajah mereka. Dan inilah muka-muka yang membuat tanggal 2 Desember saya berwarna-warni.

Farah

Farah

Resti

Resti

Ainun

Ainun

Alia

Alia

Riefozi

Riefozi

Farhan

Farhan

Wildan

Wildan

Abdul Karim

Abdul Karim

Jalal

Jalal

Alam

Alam

Rizki

Rizki

Setelah itu azan berkumandang, dan kami langsung solat zuhur berjamaah di mesjid yang terletak persis di depan arena bermain. Setelah solat berjamaah, seluruh anak-anak ini kembali diarahkan memasuki Aula untuk makan siang bersama dan menonton film. Bagian tersulit dari menjaga anak-anak ini adalah manakala mereka harus ke toilet. Atau ‘ke air’. Mereka harus pergi ditemani dengan mentornya. Ditunggui sampai keluar dan diarahkan kembali ke Aula.

Nah, disini warning dulu ya. Mungkin ada bagian-bagian yang menjijikkan kalau dibaca. Mau langsung di skip juga boleh kok =D

Ada waktu dimana teman sesama mentor saya yang laki-laki tidak ada, dan saya yang harus menjaga mereka. Toilet di dekat aula penuh, dan mereka kebelet. Akhirnya saya pergi ke toilet yang ada di dekat mesjid. Toilet itu terdiri dari kamar-kamar mandi. 3 anak kelompok saya masuk ke dalam dan mulai bertanya ini-itu. Mereka tidak terbiasa.

Aduh teteh, ini gimana pakainya?

Lampunya dimana, teh?

Baiklah, saya pun yang tadinya hanya berdiri menunggu di depan pintu pun masuk. Betulan MASUK sampai ke dalam dan bukannya celingak-celinguk sekilas saja. Setelah selama *itungdulu* hampir 10 tahun gak pernah sekalipun masuk ke toilet laki-laki yang disitu. Yaiyalah, buat apa jugak. Yasudah, ada yang pipis dan ada juga yang BAB. Alhamdulillah gak ada yang minta dicebokin. Setelah mereka keluar, saya masuk lagi dan memeriksa semuanya apakah sudah disiram dengan benar atau tidak.

Lain laki-laki, lain pula perempuan. Mayoritas anak yang perempuan tidak bisa menggunakan kloset duduk. Harus kloset jongkok. Dan di area ini semuanya kloset duduk. Puyeng. Dan mereka setelah masuk ke toilet, semuanya hampir gak mau pipis.

Gimana atulah teh. Gak bisaeun.

Tapi saya bersikeras kalau gak boleh ditahan. Akhirnya saya mengarahkan mereka ke ruangan yang agak dalam. Tempat mandi. Pikir saya, ada lubang di ujungnya dan ada shower, tinggal ambil gayung, dan aman. Tapi selalu saja ada yang anomali. Alih-alih pipis, anak ini BAB. HUAH. Makin puyeng. Saya pun bertanya,

Loh katanya mau pipis?

Iya teh, gimana atuh ini.

Punya adik yang beda umurnya sama saya 10 tahun dan dari kecilnya saya yang mandiin dan ngurusin kalau begini saja gak bisa berarti gagal jadi kakak, pikir saya. Harus tetap tenang. Sambil mengisi air di ember, saya menyiram semuanya dengan shower. Beruntung gak sulit. Kemudian saya sikat dengan sikat yang ada. Setelah itu, anak tersebut kembali ke tempat duduknya semula. Tanpa dosa, hahahaa.

Saya mengira kejadian itu adalah kejadian terlangka dan terunik yang pernah saya lakukan selama menjadi mentor. Tapi ternyata gak berhenti disitu saja. Sewaktu berbaris setelah makan dan nonton film, salah satu anak mendatangi saya dan memegang tangan saya. Dia seperti berbisik dan saya hanya dapat mendengar kata-kata “MAU” dan “TEH” saja. Saya mendekatkan telinga namun tetap tidak bisa menangkap kata-kata yang dibicarakan. Saya melihat sekeliling, mencari pertolongan akan kata-kata ini. Kemudian temannya mendekat, dia bilang anak ini mau muntah.

Kontan saya panik. GAK BOLEH MUNTAH DI AULA. Saya melihat dia lagi, berusaha tenang dan memastikan apa dia mau muntah. Yang saya tanya hanya mengangguk pelan. Setengah menyeret, saya dan dia langsung masuk ke kamar mandi lagi. Kali ini berdiri di depan toilet duduk. Diusap-usap bagian punggung dan lehernya. Dia sempat mengurungkan niatnya dan berniat kembali lagi ke barisannya. Tapi berdasarkan pengalaman tentang muntah, kalau mau muntah itu sebaiknya jangan ditahan. Kalau ditahan bisa fatal, keluarnya gak cuma dari mulut saja tapi bisa juga dari hidung. Saya pun membesarkan hatinya, berkata kalau mau muntah ya gak papa silahkan saja. Dia masih berdiri di depan pintu, melihat muka saya dalam-dalam ketika saya bertanya apakah masih mau muntah? Ketika dia memberikan anggukan, langsung lah kembali lagi ke depan toilet duduk dan keluar semua makanannya. Sedih banget. Tapi alhamdulillah lega, setidaknya dia muntah di tempat yang seharusnya dan hanya saya, dia, dan Tuhan yang tahu jadi dia gak malu. Semoga dia gak kapok-kapok untuk datang lagi tahun-tahun berikutnya.

Setelah itu, dia ceria sekali dan kembali bermain bersama teman-temannya. Ah, syukurlah. Dan super alhamdulillah saya-nya diberi ketenangan. Coba deh kalau panik, bakalan super chaos sih itu.

Acara ditutup dengan pemberian santunan bagi anak-anak yatim ini. Kami mengantar mereka pulang sampai ke gerbang depan. Ada yang dijemput dan ada yang pulang sendiri beramai-ramai. Semoga mereka bersenang-senang dan bahagia hari ini.

Setelah itu, bagi para panitia, acara dilanjutkan dengan foto bersama, makan *bagi yang belum sempat makan atau mau nambah lagi*, dan evaluasi.

Suasana ketika evaluasi yang dipimpin oleh Kak Muh

Suasana ketika evaluasi yang dipimpin oleh Kak Muh

Dengar pendapat, masukan, dan kritik serta saran
Ki-Ka: Abi, Kak Giri, Dhana, Mas Ghozie, Kresna, Bang Dika, Mas Wawan, Kak Ray, Mbak Tia, Abang

Acara seperti ini adalah acara yang dibuat oleh satu generasi. Biasanya ada pengurus-pengurus yang dijadikan acuan generasinya. Misalnya acara-acara sekarang yang dibuat oleh generasinya Kak Muh, dkk. Tapi nampaknya sudah terlalu ‘tua’ sehingga untuk berikutnya akan dilimpahkan ke generasi Dhana, Kresna, Saya, dan yang lainnya. Yah, siap-siap sajalah kalau begitu.

Mari buat acara yang menarik dan menyenangkan demi terciptanya senyum di bibir-bibir anak-anak yatim itu. Bismillah.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s