Filosofi Lapangan Sepak Bola

Di suatu sore, ada tulisan yang masuk ke akun email saya. Dikirim oleh orang yang lebih senior dari saya namun berbeda jurusan, beda prodi malahan. Isinya tentang permohonan untuk meminta semua jenis literatur yang saya gunakan dalam pembuatan tesis, juga termasuk softcopy buku Tugas Akhir dan buku Tesis saya. Jadi, dia ini mendapat tugas dari dosennya (entah itu penelitian atau apa saya juga kurang jelas) untuk mencoba menggunakan teknik-yang-saya-gunakan namun objek ujinya adalah sel darah merah. 

Email-email ini bukan yang pertama. Sebelum-sebelumnya juga banyak email serupa berdatangan. Dari Indonesia, maupun dari luar Indonesia. Kalau dari luar, karena saat itu saya males nulis paper jadi belum dikirim-kirim sampai sekarang, hehe.

Teteh yang mengirim email ini menuliskan nama dosennya. Saya ingat-ingat lagi nama itu dan ternyata dalam ingatan saya nama beliau ini masuk diantara banyak nama yang meragukan TA saya. Topik saya ini merupakan topik yang bisa dikatakan multidisiplin. Gabungan dari fisika optik, teknik fisika, material, biologi, elektro, dan bahkan mesin (kalau memang mau serius direalisasikan). Sewaktu dulu saya berdiskusi dengan dosen ini, beliau ragu. Sangat ragu.

“Kamu mau melakukan percobaan ini dimana?”
“Di kampus, Bu. Labtek 8 lantai 3.”
“Apa? Lantai 3?? Gak bakalan jadi gambarnya.”
“Oh ya? *shock* kenapa ya bu gak bakalan jadinya? Karena apa?”
“Iya, holografi itu kan butuh tingkat kepresisian setinggi mungkin dan getaran se-minimal mungkin. Disini (kampus maksudnya) dan apalagi di Lantai 3 itu getarannya tinggi. Bangunan tinggi itu kan bergetar. Saya pernah coba di basement labtek, hasilnya gak jadi. Kamu, kalau memang mau coba, ya mending bawa semua alatnya dan kamu lakukan percobaannya di basement-nya Bosscha.”

Beliau sudah uji coba di basement labteknya, catet yaaa BASEMENT. Dan katanya tetap tidak menghasilkan hologram yang baik akibat adanya pengaruh getaran dari mobil-mobil yang melintas di Taman Sari dan Ganesha. Saya diminta untuk mencoba di tempat yang jauh dari keramaian. Di BOSSCHA. Errr.

Sesensitif itu? Awalnya saya pun meragukan. Pikir saya: Lebay. Terlalu berlebihan. Masa sih sebegitu sensitifnya.

Dan ternyata teman-teman, jawabannya memang iya. Sangat sangat sangat sensitif. Dua bulan awal di bab 3 pengerjaan Tugas Akhir, stuck gak maju-maju progressnya. Dikasih harapan palsu pun enggak. Edan lah pusingnya.

Trus laporan ke pembimbing. Sebagai orang yang hampir putus asa, saya laporin kata-katanya si ibu dosen dari prodi serongnya labtek saya (untuk pembenaran). Dimulai dengan laporan pengerjaan tugas akhir saya dan diakhiri dengan kata-kata “kata ibu xxx di prodi serong juga begitu, Pak. Bahkan saya diminta buat bawa semua alat-alat saya ke Bosscha. Katanya, getarannya yang ngebuat gak jadi.”

Dosen pembimbing saya hanya tersenyum, mesam-mesem. Kata beliau, “Ah, si ibu itu mah dari dulu juga begitu. Dia penganut paham analog, my. Kalau analog memang sulit dan sepertinya hologram hasilnya gak akan baik karena kita di lantai 3. Tapi kan paham kita digital, my. Error-error sedikit bisa lah direkonstruksi pakai pencitraan.”

Ah iya, itu benar! Dan saya semangat lagi.

Motivasi dan demotivasi itu batasnya tipis. Asal selalu tahu kemana harus mencari energi positif. Seperti dosen ini, demotivasi sungguh dengan langsung nge-cut dan bilang “kamu gak bakalan bisa, karena saya aja gak bisa” walaupun dia gak pakai adegan menunjuk-dengan-satu-jari-ke-muka-saya. Tapi efeknya tetap sama.

Sekarang dia menugaskan anak didiknya untuk mencari informasi dan menggunakan teknik yang sebelumnya saya gunakan. Dunia pendidikan dan penelitian itu menarik ya, hahaha.

Ketika email itu masuk, ada bagian dari diri saya, sebut saja: ego, yang tertawa. Oke itu jahat sih sebenarnya, tapi bukankah setiap orang butuh pengakuan? Dan email ini adalah pengakuan. Sederhana. Tapi ketika semakin saya baca dan semakin ke bawah intinya adalah senior ini meminta bahan literaturnya, ada perasaan gak rela.

Penelitian ini bayi. Dan saya ibunya. Yah, berlebihan lagi.. Kirakira seperti itulah tapi mungkin rasanya. Memberikan seluruh dokumentasi penelitian ini itu issshhhhhh banget. Kemudian saya galau.

Kalau gak saya kasih, ini akan mandek. Stuck. Sampai 10 tahun ke depan pun keadaannya akan tetap seperti ini, kecuali ada yang ‘mengulang’ lagi penelitiannya, itu berarti kira-kira terlambat satu tahun. Tapi kalau saya lanjutkan, ini gak akan sebentar, yakin banget prosesnya akan panjang. Belum ubah-ubah objek uji, perbaikan perangkat lunaknya, ketahanan sistem, dsb. Lama. Satu yang dapat saya simpulkan tentang diri saya selama proses fast track itu adalah ‘jangan pernah ambil kerjaan atau tawaran karena prinsip nothing-to-lose‘, dan itu berlaku dalam kondisi apapun. Kalau saya yang melanjutkan pekerjaan ini, belum tentu saya akan sesemangat teman-teman yang memang harus melakukan itu karena-kalau-tidak-mereka-tidak-lulus.

Suatu hari saya cerita kepada teman saya soal galau ini.
Teman saya berkata,

“Yah, my. Penelitian itu ibarat lapangan sepak bola. Tiap orang bisa masuk dari mana saja, dari sisi mana saja. Tapi ya ujung-ujungnya yang dikejar itu kan satu bola. Mereka bermain permainan yang sama.”

Lapangan sepak bola. Bisa masuk dari mana saja. Dalam penelitian, istilahnya adalah multidisiplin. Seharusnya senang karena berarti yang concern di ranah ini banyak.

Semoga saja lancar, pengerjaannya baik, dan memberikan manfaat bagi kemaslahatan masyarakat.

Saatnya merelakan, mengoper, dan melepas. Toh memang hasil penelitian bukan milik siapa-siapa, baik individu maupun kelompok. *liat kunci lab dan labtek serenceng*

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

3 thoughts on “Filosofi Lapangan Sepak Bola

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s