Menjadi Anak Pulau: Hari Terakhir

Hari ini pulang! Sungguh tidak rela sebenarnya, belum puas.

Semalam AC kamar mati. Kayaknya sih saya dan Siska kualat karena sombong-sombongan sama si Dudit tentang AC ini. Akhirnya di malam terakhir kami ber-3 tidur di ruang TV. AC gak nyala dan tidur dalam satu ruangan tertutup itu panas banget, sumpek. Akhirnya sambil ngobrol dan menonton TV, kami ketiduran.

Pagi ini, saya yang pertama bangun karena mules. Kebanyakan makan makanan pedas sepertinya kemarin ditambah angin pantai yang kencang sukses membuat perut kembung. Liat jam di tangan, pukul 4.00 WIB. Perut pun semakin mules setelah ke kamar mandi dan *jreng* airnya mati. Lihat ke luar masih gelap. Saya berniat pergi ke ‘bilik merenung’ yang terletak di samping rumah. Bilik ini sebenarnya toilet umum tapi ternyata masih dikunci. Akhirnya Siska terpaksa saya bangunkan dan kami pergi ke mesjid yang letaknya dekat rumah. Sedangkan Dudit terusik pun tidak. Pintu rumah dikunci dari luar. Alhamdulillah kamar mandinya waras dan air mengalir dari keran. Masalah air ini penting banget loh. Hohoho.

Setelah itu, karena semalam baru tidur jam stengah 2 pagi, kami lanjut tidur. Tapi saya yang gak bisa tidur, jam 5.00 WIB pergi ke warungnya Kang Eman dan membeli Aqua 1L yang habis untuk sikat gigi, cuci2 muka, dan minum. Setelah itu packing dan kembali tidur-tiduran sampai jam 6. Siska bangun dan ikutan packing. Dudit alhamdulillah gak perlu dibangunkan lagi karena jam 6 dia sudah melek siaga gitu. Hari ini survey pamungkasnya dia, Kapal Kerapu. Iya, kami akan menaiki Kapal Kerapu untuk pulang. Sepanjang malam terus berdoa agar cuaca bersahabat.

Mengembalikan piring, pintu Elang Ekowisata masih tertutup

Mengembalikan piring, pintu Elang Ekowisata masih tertutup

Suasana pinggir pantai yang penuh terpal-terpal iklan

Suasana pinggir pantai yang penuh terpal-terpal iklan

Setelah siap, beberes, sapu-sapu, dan ngumpulin semua barang di ruangan depan, kami pergi lagi ke Elang Ekowisata untuk ngebalikin piring tempat membawa ikan bakar semalam. Kemudian sarapan. Dudit gak berhenti menengok loket tempat penjualan tiket, takut kehabisan. Dia bahkan menawarkan diri untuk ngejaga loketnya *engga deng becanda*. Pokoknya keliatan banget lah muka cemasnya. Muka cemasnya lebih jelas terlihat waktu Siska yang super iseng bilang “barusan abis dari loketnya, katanya kapal yang 9 gak berangkat nih. Gimana dong? Ada lagi jam 3. Cuma kalau gak brangkat kayak yang kemaren gimana dong?”. Dan Dudit dengan mata membesar merespon “SERIUS LO?” kemudian terlihat berpikir keras. Ketika Siska bilang kalau dia becanda dan sebenarnya udah di booking untuk 3 orang di jam 9 nanti, muka lega campur muka keki jelas banget di mukanya Dudit. Hahah. Saya ketawa-ketawa aja ngeliat mereka berdua.

Tadinya mau menengok Pulau Karya sebentar pagi itu, tapi gak jadi. Karena ojek kapalnya gak penuh-penuh, bahkan gak terlihat nakhodanya dan jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Gak bakalan sempat, takut terulang kejadian Ismi ‘ketinggalan kapal’, hehe. Beli oleh-oleh, ngobrol sama Mbak Nur (petugas dari Dinas Pariwisata yang ternyata dari Bandung) untuk mengambil informasi tentang data angka pengunjung per pulau dari Kepulauan Seribu, pamitan sama anak-anak Elang Ekowisata, pamitan sama Riki, pamitan sama Pak Benny (yang punya rumah tempat kami menginap) sambil laporan sana-sini tentang keadaan rumahnya (lampu ruang TV mati, AC mati, dan air mati) dan minta maaf karena banyak ngerepotin, pamitan sama Kang Eman dan si Teteh, kami pulang.

*menghela napas*

Saya menghirup dalam-dalam aroma khas pulau ini. Pulau Pramuka bukan merupakan pulau tujuan destinasi wisata atau yang biasa dibilang ‘pulau resort‘, tapi merupakan pulau penduduk. Kalaupun ada turis, mereka rata-rata pulang di hari yang sama dengan hari datang mereka. Misalnya menginap di pulau apa, pagi-siang atau siang-sore main di pulau pramuka. Jarang sekalii melihat bule disini. Suasana kekeluargaan antar masyarakat di pulau ini masih kental. Saya yang baru 3 hari disini langsung merasa ‘diterima’ oleh penduduk.

Pasti akan rindu. Pasti.

Kapal Kerapu sudah datang, dan Dudit bisa bernapas lega. Sewaktu mengantri dan membeli tiket (karena tadi baru booking saja, belum dibayar), Dudit bertindak bak pengarah gaya sambil mengambil gambar sana-sini.

“Sis, lo ceritanya lagi beli tiket.
Kak, lo ngantri di belakang.”

Yah, semacam itu lah. Ternyata kehebohan kami menarik perhatian mpok-mpok di belakang. Jadilah kami berkenalan dan mengobrol. Si Mpok langsung akrab sama Siska karena ternyata si Mpok ini masih sodaraan juga sama Pak Mail. Ya Allahhhh, semua aja sodaraan sama Pak Mail *gak paham lagi*.

Si Mpok ini malahan mengajak kami untuk mampir ke rumahnya di Pulau Lancang (atau di Pulau Utara Jawa yah *lupa*). Jadi trayeknya Kapal Kerapu ini adalah Pulau Pramuka-Pulau Pari-Pulau Lancang-Pulau Utara Jawa-Muara Angke.

“Nanti, kalau pas kapalnya berhenti di tempatnya Mpok, kalian turun dah. Bilang aja mau numpang pipis. Nah nanti ke tempatnya Mpok. Pan deket dari dermaga.”

Kami iya-iya saja untuk menghormati dia, padahal dalam hati berujar: yakali dah Mpok, kalo ditinggal begimane?

Di dalam kapal, Dudit memilih tempat terdepan yang dekat dengan abang nakhoda-nya. Sibuk foto sana-sini dan mencatat serta mengukur apa-apa yang bisa dicatat dan diukur. Meteran pun dikeluarkan. Siska sempat tertidur di dalam kapal ini. Saya pun juga. Si Mpok? Mengoceh gak berhenti dari awal pergi sampai di pulaunya. Alhamdulillah dia duduknya paling belakang, dan orang-orang yang duduknya dekat sama dia mau mengomentari ocehannya.

Suasanya di dalam Kapal Kerapu

Suasanya di dalam Kapal Kerapu

“Bersatu kita bisa, bercerai pasti tersiksa”, adalah tulisan di dermaga Pulau Lancang. Semua orang dalam kapal mengomentari tulisan itu. Memang unik sih. Tapi terus si Mpok mengomentari tulisan itu dengan bilang “makanya jangan cari suami yang gak jelas, mending cari yang kayak suami saya noh…. *blablabla*”, tetep yee Mpok.

Laut hari ini bersahabat sekali. Cerah walaupun masih ada awan. Semakin siang semakin terik.

Alhamdulillah, cerah! =)

Alhamdulillah, cerah! =)

Akhirnya kami sampai di pelabuhan Kali Adem, Muara Angke. Kembali naik odong-odong. Networking-nya Siska ternyata gak berhenti di pulau saja teman-teman, di odong-odong ini pun tiba-tiba dia mengajak ngobrol seorang bapak. Saya sama Dudit pandang-pandangan sewaktu Siska bilang ke bapak tersebut, “Pak, bapak masih inget saya gak? Yang waktu itu ngobrol sama bapak di perahu x”. Oh well. Sungguh sungguh geleng-geleng kepala. Hahahahaha. Jagoan bener dah, gak bohong. Sudah terbukti.

Odong-odong pun berhenti, kami semua turun dan menunggu angkot B01 ke Grogol. Ternyata oh ternyata, hari itu sedang ada demo. Kami baru tahu setelah setengah jam menunggu. Itu pun dari supir bajaj yang menawarkan diri untuk membantu kami. Maklum, anak pulau. Tapi kami ber-3 naik bajaj? Muat aja nggak gimana toh, Bang. Akhirnya memutuskan naik taksi sampai pangkalan travel. Dari sana rencananya Siska langsung ke Bandung, saya dan Dudit naik transjakarta sampai ke rumah masing-masing.

Ternyata… Macet!

Merah dimana-mana.

Merah dimana-mana

Merah dimana-mana

Demo angkot ini betul-betul bikin pening. Karena berwarna merah dan berjejer banyak. Karena mereka teriak-teriak. Karena mereka menggedor-gedor pintu bis-bis yang lewat memaksa semua penumpangnya untuk turun sebagai bukti solidaritas sesama pengemudi angkutan umum. Kecuali transjakarta. Namun, transjakarta pun sulit melintas karena haltenya ditutup dan angkutan-angkutan tersebut memarkir kendaraannya sembarangan di jalur transjakarta. Ricuh. Chaos.

Setelah konfirmasi sana-sini, ngadem sebentar di pool travel, dan mengatur strategi, akhirnya diputuskan kalau Siska akan naik travel satunya lagi dari Central Park. Nyebrang lah kami ke halte Harmoni dan melihat ada satu mobil dengan kaca depan yang pecah. Iya, se-chaos itu keadaannya. Saya dan Siska sibuk ambil gambar, sementara Dudit sibuk narik-narik kami. Katanya, takut dikira wartawan trus diapain gitu. Yasudah, akhirnya kami jalan cepat pura-pura gak ngerti apa-apa, lempeng dan sok kalem.

Alhamdulillah akhirnya kami semua sampai dengan selamat di tempat yang dituju masing-masing. Terima kasih banyak Siska dan Dudit (dan seluruh penghuni Pulau Pramuka atas pengalamannya)!! Semoga TA kalian lancar ya dan sidang setelah tahun barunya gak ngebuat stress. Pasti bisa!

Kapan-kapan mari eksplorasi dan ekspedisi lagi.

=)

~p.r.p.l.p.h.r.z

PS:
Kalau ingin membaca versi lainnya, silahkan kunjungi
1. Kali Ke-4 Memulau Pramuka. Hari Pertama.
2. Pramuka Hari Ke-2
3. Hari Ketiga – Pulang!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s