Menjadi Anak Pulau: Hari Kedua [Bagian II-Terakhir]

Sambungan dari postingan sebelumnya…

Pulang dari Pulau Panggang, kami langsung bergegas berganti pakaian dan mempersiapkan apa-apa saja yang harus dibawa untuk snorkeling. Setelah itu pergi ke Elang Ekowisata untuk meminjam peralatan. Saat itu sedang ramai. Ada Bang Komeng, Ja’man, Bobby, Berri, dll *lupa nama-namanya*. Berri mau ikut. Katanya, aku ikutan ya mau seneng-seneng juga. Kata Berri lagi, dia capek setelah sewaktu libur panjang yang lalu dia menjadi guide untuk turis-turis berenang dan snorkeling. Lah memangnya kami bukan turis? Katanya bukan, kami teman. Ah, senangnya. =)

Sebenarnya ada satu orang lagi yang berjanji akan bermain dengan kami di hari itu. Namanya Bule. Gak tau kenapa namanya Bule padahal dia gak bule. Yah pokoknya, dalam cerita ini panggil saja Bule. Hahaha *mulai pusing*.

Si Bule ini mau mengajak kami snorkeling dengan menggunakan kapalnya. Saat berada di Elang Ekowisata, saya melihat jam. Jam menunjukkan pukul 12 siang. Yang akan snorkeling saat itu sudah berkumpul adalah Siska, saya, Dudit, Riki, dan Berri. Sampai jam 14, yang ditunggu-tunggu tidak kunjung tiba. Siska sibuk SMS-an dengan Bule yang lagi-lagi tanpa kepastian. Katanya Galang *salah satu anak pulau juga*, Bule lagi menarik bubu (baca: menjaring ikan) di laut. Hohoho. Akhirnya, kami semua memutuskan untuk menyewa kapal dan pergi tanpa Bule.

Keputusan kami tepat. Di tengah laut kami bertemu dengan Bule yang sedang menarik bubu. Bule teriak-teriakan dengan Siska, katanya ia tidak melihat HP jadi gak tau jam berapa snorkeling-nya. Kami cuma iya-iya aja. Mungkin karena merasa bersalah, Bule kembali menjanjikan bahwa nanti malam bakar-bakaran ikan akan tetap diadakan. “Abis magrib ya di Elang!”, katanya.

Snorkeling-nya menyenangkan! Kami dibawa ke daerah APL yang merupakan singkatan dari Area Perlindungan Laut. Di bawahnya banyak sekali terumbu karang. Di kawasan itu memang dikhususkan sebagai area perlindungan yang berarti sekaligus dengan pembiakan. Jadi ada banyak sekali ‘rumah-rumah’ yang ditempati oleh cikal bakal terumbu karang. Ada yang berbentuk kubus, balok, dan prisma. Kalau kata Berri, bentuk-bentuk itu menentukan jenis-jenis ikan apa saja yang akan menempatinya.

Sewaktu snorkeling, kami memang terpisah-pisah. Siska kemana, Dudit kemana, saya pun kemana. Area snorkeling-nya bebas. Saya sempat kaget, saat snorkeling ada yang memegang tangan saya. Saya kira Siska, yaudah dibiarin. Seperti menumpang berenang. Tapi kadang dia yang mengendalikan arah snorkeling saya dan mulai menunjuk-nunjuk kemana-mana untuk memperlihatkan banyak jenis terumbu yang indah-indah. Bahkan saya sempat melihat ubur-ubur kecil. Dan ternyata yang mengarahkan saya kesana kemari itu… Berri. Dia kecapean jadi menumpang karena saya memakai pelampung. =))

Saya pun minta diajarkan snorkeling tanpa pelampung. Terakhir kali nyebur ke laut itu 2010. Sekarang mulai takut lagi makanya pelampungnya dipakai. Beruntung Berri mau mengajarkan, dan saya bisa lepas pelampung walaupun napasnya masih satu-satu.

Setelah puas di daerah APL, kami pindah spot. Di spot ini Berri mengambil Tedong-Tedong. Tedong-Tedong adalah hewan khas dari Kepulauan Seribu. Bentuknya sangat sangat cantik dan ternyata hewan ini dilindungi. Tapi Berri nampaknya lebih tertarik untuk memakannya.

Ih, tau gak. Ini rasanya super enak loh. Seriusan dah! Ini kalau dibakar, enak bener! – Berri

Kemudia dia mencari lagi. Total Tedong-Tedong yang berhasil ditemukan: 2. Trus juga ada Lawi-Lawi. Kalau ini tumbuhan khas pulau. Katanya kalau di urap rasanya enak. Tapi sayang selama kami di pulau, kami tidak merasakan masakan ini sama sekali karena Tedong-Tedongnya dibawa sama Berri (kayaknya dimakan sendiri, hahaha) dan Lawi-Lawinya entah dimana.

Setelah itu ganti spot lagi. Kali ini ke Nusa Karamba tempat penangkaran hiu. Huow! Ada area ini di sekitaran pulau, penangkaran hiu! Takut-takut saya melihat, takut kecebur karena licin. Dari satu spot ke spot lain itu prosesnya nyebur-puas snorkeling-naik ke kapal-kapal berlayar-kami kedinginan-nyebur lagi dan begitu seterusnya. Menggigil. Sampai Nusa Karamba, tangan saya sudah keriput gak jelas.

Selama di kapal, Berri pun nyeletuk yang aneh-aneh. Dudit pun, yang memang udah aneh dari sananya, tiba-tiba ketawa keras-keras. Saya yang berada di sampingnya, kaget. Anak ini mendadak ketawa-ketawa disaat kita lagi gak bicara apapun. Saya bertanya kenapa tertawa? Dan mau tahu jawabannya apa sodara-sodara?

ANJRIT ITU ADA POHON JOMBLO LAGI. ITU JUGA. ITU DISANA JUGA.
BERARTI POHON JOMBLO ITU GAK SENDIRI TAPI TEMPATNYA AJA BEDA-BEDA.

Kemudian dia melanjutkan,

Makanya kak. Kalau jomblo itu gak papa. Jomblo itu gak sendiri kok. Hahahahahaa.

Gimana saya gak ngakak? Anak ini, gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba bicara begitu gara-gara melihat banyak pohon-pohon yang sendiri di tengah laut. Oh well. Emang galau sekali lo, Dit *kasih puk-puk*.

Ki-Ka: Berri, Riki, Siska, Saya

Ki-Ka: Berri, Riki, Siska, Saya

Berpose dengan 'Berri's Style'

Berpose dengan ‘Berri’s Style’

Setelah puas keliling-keliling dan gigi sudah gemeletuk serta tangan bergetar juga perut lapar, akhirnya kami balik ke daratan. Kembali lihat jam, jam 15. Sedangkan kami punya janji untuk main futsal jam 16 dengan bocah-bocah itu. Sesampainya di pulau, setelah mengembalikan peralatan snorkeling dan membayar kapal sewaan, lagi-lagi kami memesan teh manis panas ditambah gorengan. Oh, dan indomie kari ayam pakai cabe rawit itu juara banget jika dimakan di saat-saat seperti ini. Lupakan segala macam pantangan. Kalau kata Siska, hidup itu harus dinikmati. =))

Dudit sudah terlebih dahulu pergi ke lapangan. Saya dan Siska masih menikmati sendok demi sendok suapan dari mie instan itu. Setelah itu kami menyusul Dudit. Katanya, lapangan tenis (yang berubah fungsi jadi lapangan futsal) itu letaknya di belakang tempat Pak Salim. Jadilah kami menuju tempat Pak Salim. Celingak-celinguk, sebelah mana? Kami mengitari tempat penangkaran penyu sisik itu dan mulai mendengar suara dak-duk bola yang ditendang dan ramainya suara cempreng anak-anak.

Dan saya melihat dia! Si anak yang senyumnya paling rupawan. Gak pakai baju, sedang memegang sapu.

Eh, kamu yang kemarin di kapal kan?, tanya saya.
Iya *sambil senyum*
Kok gak ikutan main bola? Teman-temannya yang lain mana?
Baru habis cukur rambut. Tuh pada disitu *sambil nunjukin lapangan*

Saya dan Siska langsung menuju tempat yang ditunjukkan. Ternyata jalan buntu. Kembali lagi ke tempat si anak ganteng itu.

Lewat mana sih jalannya?
Oh, lewat situ *nunjuk beda arah*
Tunjukkin dong. Hehe *nyengir*

Akhirnya dia meletakkan sapunya dan menuntun kami ke jalan yang benar. Saya melihat sekeliling. Di depan tempat anak itu menyapu, ada sebuah rumah. Ada seorang bapak yang sedang mencukur rambut anak-anak laki-laki. Ramai sekali anak-anak tersebut mengantri untuk dipotong rambutnya.

Eh iya, kamu namanya siapa? Lupa deh.
Helmi *senyum lagi*

Ternyata masuknya betul-betul dari tempat penangkaran penyu-nya Pak Salim. Pak Salim sedang memindahkan kayu-kayu ketika kami permisi numpang lewat. Dia bertanya hendak kemana kami ini? Ketika kami menjawab mau ke lapangan tenis, beliau hanya geleng-geleng kepala. Kalau anak-anak pulau ini sih, masuk ke lapangan tenis gak pakai kulo nuwun dulu sama Pak Salim, bahkan mereka sama sekali gak melewati tempat Pak Salim, mereka memanjat. Iya, dari rumah tempat tadi kami bertemu Helmi itu sepertinya ada panjatan yang langsung menuju lapangan. Kami baru sadar ketika melihat langsung dari lapangannya.

Dan kami melihat Dudit. Dia duduk bersama…. GUFRON!!! *senyum lebar*

Kok gak main, Dit?
Ini lagi pada tanding dulu, lawan Pulau Panggang.

Wuoh. Ternyata ada pertandingan persahabatan antar pulau. Seru sekali.

Setelah pertandingan itu usai, anak-anak Pulau Panggang pulang namun anak-anak Pulau Pramuka kembali bermain. Dan Gufron dengan lantangnya berkata “Woi, ini ada temenku nih mau ikutan!!”. Temenku. Hihihi, lucu sekali anak ini.

Dengan baju, celana, kerudung, dan atribut lain yang belum kering sisa-sisa snorkeling, kami menyaksikan pertandingan spektakuler anak-anak pulau ini. Betul-betul membuat hati damai melihat kepolosan mereka dan celetukan-celetukan anehnya. “YAOWLOH”, “AH ELAH”, “CAKEP!!!” dan “YAH BOCAH”, adalah beberapa contoh celetukannya. Ralat, celetukan yang terakhir itu cuma dikeluarkan oleh Dudit terhadap Gufron. Hahaha.

Rindu sekali.

Raut bahagia tersirat sekali di wajah mereka. Bahagia yang sederhana. Bermain, tertawa, saling meledek, dan sebagainya. Kalau melihat ini rasanya ingin kembali ke masa-masa SD dulu. Saat saling samper-samperan cuma untuk main tak benteng, atau apa pun itu. Ih, kangen.

Bola sempat terbang ke atas genteng di luar lapangan tenis. Dan tebak siapa yang inisiatif berteriak “sini sini sini sama aku” dan langsung dengan cekatan tanpa takut jatuh, memanjat pohon? GUFRON. Anak paling kecil dan paling muda diantara mereka semua, namun paling bisa diandalkan dalam situasi apapun. Dia memanjat pohon dan melemparkan bola tersebut.

Pemandangan yang menyejukkan.

Sayangnya, magrib sebentar lagi menjelang, pertandingan pun dihentikan dengan skor berapa saya lupa tapi yang pasti timnya Dudit-Gufron yang keluar sebagai pemenang. Dan mereka tos-tosan. Foto sok-sokan a la tim kebanggaan pun dilakukan.

Entah bagaimana ceritanya, langit menghitam. Angin kencang. Dan kami berlari-lari kembali ke rumah secepat mungkin. Takut badai. Mukanya Dudit cemas, takut esok hari tidak dapat pulang dengan Kapal Kerapu yang menjadi target surveynya ke Pulau Pramuka ini. Saya pun sedih, gagal sudah rencana melihat matahari terbenam.

Awan Badai! Hiks.

Awan Badai! Hiks.

Dan benar saja, gak berapa lama, hujan turun dengan derasnya.

Sembari menunggu hujan reda, kami mandi, bebersih, dan makan malam. Iya, makan lagi. Fiuh.

Hujan baru reda sekitar pukul 20. Kami bergegas ke Elang Ekowisata untuk melakukan survey singkat terhadap Bang Komeng, pemandu senior di Pulau Pramuka dan ternyata masih ada hubungan sodara sama Pak Mail (LAGI? Iya, lagi). Pak Mail memang banyak sodaranya. Hahaha. Survey yang lebih ke ngobrol-ngobrol dan pencerahan terhadap aplikasi produk jadinya itu banyak membuat Siska menjadi yakin kalau TAnya memang bermanfaat Syukurlah, Sis. =D

Jam menunjukkan pukul 22, dan Bule yang ditunggu-tunggu baru datang. Kemudian dia pamit pergi lagi dengan alasan mau mencari perlengkapan bakar-bakaran dengan menggunakan motor. Sampai tengah malam, doi belum balik. Siska SMS Bule. Dan jawabannya adalah ternyata Bule gak bakalan ikut bakar-bakaran, ikan-ikannya sudah dititipkan karena dia ada acara di Pulau Karya.

Bengong. Kenapa gak bilang dari awal aja sih?

Tapi berhubung sudah tengah malam dan ada Ja’man juga yang lainnya yang membantu mencarikan barang-barang untuk keperluan bakar-bakaran, acara ini tidak bisa dibatalkan. Dengan muka suntuk karena menahan kantuk, memaksa diri untuk tidak terantuk. Dibawa seneng we lah.

Hampir jam 1 pagi, ikannya baru mateng. Kami mengambil 2 ikan, satu yang besar satunya lagi yang kecil dan dibawa ke rumah. Gak tahan, ngantuk banget. Sebelum sampai rumah, mampir lagi ke warungnya Kang Eman untuk beli tolak angin. Tapi ternyata begitu mencoba ikannya, saya dan Siska langsung melek. ENAK BANGET MEN! Gak lebay. Dagingnya etdah banget. Dimakan sampai dagingnya gak bersisa. Gak perlu lagi diberi garam atau jeruk nipis karena ikannya fresh dari laut hasil nge-bubu-nya si Bule tadi siang. Asin-asinnya pas.

Alhasil, kami baru tidur jam 2 malam.

Lelah itu gak akan terasa ya kalau hati senang (dan perut kenyang tentunya).

=)

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s