Menjadi Anak Pulau: Hari Kedua [Bagian I]

Tidur saya super nyenyak di malam pertama di Pulau Pramuka dan terbangun akibat AC yang super dingin pagi-pagi padahal temperaturnya diatur 25. Jam menunjukkan pukul 4.30 WIB. Saya yang sedang tidak diperkenankan untuk sholat langsung beres-beres barang, diatur-atur lagi isi tas yang keluar berserakan. Siska juga sudah bangun. Setelah sikat gigi dan cuci muka, trus ke ruang TV di depan. Dudit masih pules sepules-pulesnya orang tidur disana. Gak bisa dibangunin, padahal rencana pagi ini adalah mengejar matahari.

Dan itu gak boleh gagal. Ya masa udah di pulau trus gak ngeliat matahari terbit? Apa kata dunia?

Sengaja membuat suara grasak-grusuk, tarik-tarikan bantal dan guling, diikuti dengan ancaman dikunciin dari luar, akhirnya si Dudit ini bangun juga. Pembelaan dari dia adalah katanya semalem 2 kali kebangun karena mimpi gak enak. Saya sama Siska pandang-pandangan trus saling tanya apa mimpi aneh-aneh juga? Tapi tidak sama sekali, kami berdua tidur super nyenyak gak pake mimpi aneh-aneh. Ah elo aja yang kebanyakan dosa kali, Dit?, kata Siska.

Keluar dari rumah, Dudit ngecek barang-barangnya yang semalem ‘dijemur’ di pagar karena abis dicuci. Trus dia ber YAAAAAHHHHH panjang karena baju, sepatu, dan celananya belum kering. Yaiyasih, jemur gak ada matahari gitu. Kemudian disinilah drama yah-sis-dan-kak-kayaknya-gw-nanti-gak-ikutan-ke-pak-Mail-deh-soalnya-celananya-belum-kering dimulai. Hohoho.

Langit masih gelap, tapi tak pekat. Biru-biru tua menggoda, tanda matahari sebentar lagi naik. Kami berjalan menyusuri tepian ke arah timur. Mencari si matahari yang sembunyi-sembunyi malu. Sempat harap-harap cemas karena awan tebal masih menyelimuti langit pulau, tapi ya semoga saja tampak.

Langit biru gelap yang menggoda

Kapal-kapal yang di parkir

Setelah menemukan spot yang dirasa oke, duduk dan menunggu. Beruntung, awan tebal yang ada malahan membuat siluet matahari semakin indah. Seperti aurora =”)

Fasa ‘kedip-kedip mengintip”

PRICELESS

Ufuk timur

Setelah puas ber-“aaahhh, subhanallah bagus banget” dan “tuh, apa jadinya kalo lo tetep tidur Dit? Malu sama matahari”, perjalanan ekspedisi keliling pulau pun dilanjutkan. Gak bakalan nyasar kalau disini karena ujung-ujungnya pasti laut. Telusuri aja, pasti sampai ke tempat asal. Jalan lah kami ber-3 di hari yang masih terlampau pagi ini. Di jalan, kami berpapasan dengan anak SD yang membawa sekotak gorengan, mungkin untuk dijual di sekolahnya. Namun sedihnya, semakin kami keliling, semakin pula kami menyadari banyak sekali sampah sterofoam di sudut belakang pulau ini. Banyak ibu-ibu yang menjual makanan menggunakan sterofoam *sigh*. Sedikit mengintip, yang dijual menggunakan sterofoam adalah: nasi goreng.

Keliling aja! Gak akan nyasar kok, pasti balik lagi

Anak-anak SD yang membawa sekotak gorengan

“Lihat ada kapal!”

Siska siap2 ambil gambar sementara Dudit merenung galau

Kayaknya, Dudit ini adalah anak galau yang nyasar ke pulau. Siska juga berpikiran sama. Hahahah. Banyak sekali celetukan-celetukannya dia yang melulu tentang hati. Sepik-sepiknya banyak, curcolnya juga lumayan. Betul-betul hiburan sungguh. Kayak saat ini diwaktu melihat ke lautan lepas,

Liat dah, ada paus!
Mana?
Itu tuh, kayak sirip belakang ikan paus kan tuh!

*beberapa saat kemudian*

Eh bukan kayak paus deng itu. Pohon ternyata. Kasian.
Kenapa kasian?
Iya, tuh lo liatin aja. Pohonnya pohon jomblo! Sendirian tuh dia di tengah laut
Makanya, lo jadi orang jangan jadi pencilan. Jadi tuh kayak mangrove, ramai-ramai.
Paan dah pohon bakau, beraninya rame-rame terus kagak berani ke tengah, di pinggir doang, mending jadi si itu (pohon jomblo).

Dan masih banyak filosofi-filosofi aneh yang keluar dari mulutnya Dudit ini, belum lagi pose-posenya yang selalu seperti orang nangis (tutup muka sambil sejenak menundukkan kepala). Sukses bikin ketawa-ketawa banget lah.

Pohon Jomblo!!

Penunjuk arah di dermaga depan

Puas mengagumi dan mengambil pesan moral dari pohon jomblo, lanjut melewati penangkaran penyu sisik kepunyaan Pak Salim. Sayang belum dibuka. Gak terasa sudah sampai di dermaga depan. Sudah banyak anak sekolah yang berjalan beramai-ramai. Jadi, pulau Pramuka ini merupakan pusat kabupaten-nya Kepulauan Seribu. Nah, semua fasilitas umum ada di pulau ini misalnya RSUD dan sekolahan dari SD-SMU. Anak-anak yang bersekolah di pulau ini ada yang berasal dari pulau-pulau lain. Mereka naik ojek, tapi ojek kapal. Penasaran, kami langsung menuju dermaga sekedar untuk memastikan dan melihat langsung kapal-kapal yang berlabuh mengantarkan anak-anak ini.

Pagiku cerahku matahari bersinar, kugendong tas merahku dipundak – AFI Junior

Semangat pagi!

Selamat bersekolah!

Setelah itu pulang ke rumah untuk mengambil uang dan sarapan. Selama berjalan-jalan itu perut kami keroncongan. Lapar. Tapi tidak ada satu orang pun yang membawa uang. Hahaha. Sarapan seperti biasa di warungnya Kang Eman. Teh manis panas juara sekali disini.

Menunggu Riki yang katanya mau main pagi ini sekalian mengunjungi sekali lagi tempat penangkaran penyu milik Pak Salim yang tadi pagi belum dibuka. Alhamdulillah kami diijinkan masuk. Sebelumnya Siska bilang “Kak, kita nanti kalau mau masuk harus permisi dulu. Pak Salim ini udah tua, gak suka ada yang sembarangan masuk tempatnya. Waktu itu pernah, ada turis yang masuk tanpa permisi langsung ambil gambar sana-sini, Pak Salim-nya ngamuk”.

Penangkaran penyu sisik punya Pak Salim

Belajar dari pengalaman, permisi dan basa-basi sebentar, kami diijinkan masuk dan melihat kegiatan Pak Salim yang akan memandikan penyu. Penyunya buanyak. Dari tempatnya, kelihatan sekali Pak Salim ini orang yang telaten. Terdapat banyak bak besar tempat beliau meletakkan penyu-penyunya. Dibedakan berdasarkan kapan tanggal lahirnya. Bak yang lebih besar, ketika dilihat hanya berisi satu-tiga penyu. Ternyata penyu-penyu yang diletakkan disitu adalah penyu yang ‘cacat’ karena tidak punya sirip, cangkangnya yang aneh sehingga penyu sulit berenang, dan kasus-kasus yang lain. Pak Salim berkata bahwa penyu-penyu yang cacat ini tidak akan pernah dilepas ke laut.

Melihat sekeliling, ada papan yang berisi semua penghargaan yang pernah beliau raih. Dimulai dari era pemerintahannya Soeharto sampai SBY, tidak absen seluruh presiden memberikan beliau penghargaan. Titel yang tertulis di penghargaan itu adalah “PENGABDI LINGKUNGAN”. Salut sekali kepada Pak Salim. Beliau begitu konsisten memelihara lingkungan tempat tinggalnya.

Penyu cacat

Anak-anak penyu yang lucu-lucu dan unyu

Penyu ini dijatuhkan dengan suara “BRUK” untuk kami pegang dan amati

Selain penyu. Pak Salim juga konsisten memelihara mangrove juga konservasi terumbu karang. Banyak sekolah dan organisasi lingkungan yang telah datang serta memberikan sumbangan dan cenderamata. Di depan area penangkaran penyu ini ada lahan khusus yang dikunci untuk penanaman mangrove sebelum dibawa ke laut. Kesemuanya ini ditulis dan diberi nomor jumlahnya. Rapi.

Bibit pohon mangrove

Mangrove ‘bayi’

Yang sudah dilepas dan diberi nama

Setelah ngobrol dan puas bermain dengan penyu, kami kembali ke dermaga dan pulang ke rumah. Kemudian ganti-gantian mandi dan bersiap-siap karena hari ini kami akan mengunjungi Pulau Panggang untuk menghadiri Pesta Rakyat! Selametan sunatan sih resminya, tapi anggaplah pesta rakyat. Kapan lagi bisa ikutan.

Pulau Panggang

Kami pergi ke Pulau Panggang bersama Riki yang ternyata, usut punya usut, masih ada hubungan sodara sama Pak Mail (yang punya hajat). Dunia hanya selebar pulau dan sejauh mata memandang sepertinya untuk orang-orang disini. Betul-betul yang namanya sodara ya yang sepulau ini. Cuma kebetulan saja Riki kerjanya di Pulau Pramuka. Berangkatlah kami dengan menaiki ojek kapal yang tadi dinaiki oleh anak-anak sekolahan itu dengan membayar 3000 rupiah per orang.

Kiri-kanan: Riki, Siska, Dudit

Ojek kapal!

Selamat datang di Pulau Panggang =)

Saya dan Dudit berkenalan dengan Pak Mail dan Mpok Milah. Ramah sekali mereka. Kemudian menengok Ulhaq. Kata neneknya, dia sama sekali gak nangis malahan bertanya terus kapan diijinkan untuk main. Kami baru tahu kalau di pulau ini biasanya sunatan dilakukan di tanggal yang sama dengan tanggal ulang tahunnya si anak.

Ulhaq, the birthday and also the ‘sunat’ boy

Kami ditawari makan oleh Pak Mail dan Mpok Milah. Bukan ditawari sih, lebih tepatnya diharuskan makan karena ternyata makanan untuk kami dipisahkan di rumah yang ada di sebelah rumah mereka. Khusus untuk kami. Gak enak hati banget karena dispesialkan. Tapi lebih gak enak hati lagi kalau gak makan, hehehe. Makanlah kami dengan lahap *emang pulau tuh bikin laper banget*. Kami makan diiringi oleh dangdutan khas orang pulau. Biaduanita yang menyanyi juga merupakan juara lomba nyanyi dangdut se-kabupaten Kepulauan Seribu. Betul-betul pesta. Seperti layaknya pesta dangdutan dengan organ tunggal, di acara ini juga ada ‘saweran’ dan ada orang yang gak berhenti menari.

Dangdut, panggung, organ tunggal, sawer, dan orang yang berjoged. Khas.

Di acara ini juga saya berkenalan dengan Alfi dan Teppy. Anak-anak kecil, lebih kecil dari Ulhaq, tapi sudah senang berbicara dan senang bercerita serta pandai bahasa inggris. Teppy yang menghampiri saya menunjukkan gelang beraneka warnanya sambil bicara sendiri “Kak, gelangnya Teppy warnanya kuning. Kuning itu bahasa inggrisnya yellow”. Kemudian saya bertanya tentang bahasa inggrisnya warna gelang-gelangnya dia yang lain, dan jawaban dia benar semuanya. Teppy memberikan satu gelangnya yang berwarna hijau untuk saya, “buat kakak” – katanya. Kalau Alfi lebih senang berbicara tentang dirinya. Dia bilang dia sudah punya pacar dan sudah putus lagi.

Saya iseng bertanya,

emang pacaran itu apa, Alfi?

Yang ditanya cuma mengangkat bahu sambil senyum-senyum saja. Kemudian mengalihkan pembicaraan dengan bilang kalau sekarang pacarnya Alfi itu Ulhaq. Teppy yang mendengar langsung bilang kalau Ulhaq itu pacarnya. Yaudah biar adil jadi Ulhaq itu pacar dua-duanya. Ah, anak-anak. Sedikit banyak tayangan sinetron di TV mempengaruhi mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Kami bergegas pamitan pulang ke Pak Mail dan Mpok Milah sembari mengucapkan banyak terima kasih atas jamuannya karena masih akan snorkeling. Kembali ke Pulau Pramuka lagi-lagi dengan ojek kapal.

=)

[bersambung]

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s