Harga Satu Nyawa

“…Kalau diantara kita jatuh sakit
Lebih baik tidak usah ke dokter
Sebab ongkos dokter disini
Terkait di awan tinggi…”

Semalam, adik saya yang saat ini masih berada dalam tahap koas bercerita tentang pengalamannya di unit emergency (IGD) salah satu RSUD. Adapun tugas ini diharuskan bagi setiap calon dokter yang berada di tingkat 4, termasuk di dalamnya keliling-keliling dan menjadi ‘asisten’ dalam bagian-bagian itu. Ada rotasinya pula. 

Adik saya bercerita tentang pengalamannya hari itu. Dia cerita di meja makan kepada saya, ibu, dan bapak. Katanya dia baru saja dimarahi karena menolong seorang bayi. Bayi itu diantarkan oleh bidannya ke RSUD dalam keadaan biru. Biru asfiksia yaitu keadaan akibat kurang/tidak adanya asupan oksigen ke dalam tubuhnya. Bila ketiadaan oksigen tersebut sampai ke otak, maka terjadilah kondisi ‘brain death’.

Saat itu tidak ada dokter jaga selain adik saya yang sebenanya masih koas. Para suster pun bergantung dari dokter-dokter koas ini.

Adik saya bertanya kepada bidan yang mengantarnya perihal ibunya. Bidan menjawab sekenanya yang intinya ibu si bayi tidak bisa hadir. Adik saya meminta bidan yang menunggui bayi tersebut, karena sudah merupakan SOP dalam hal ini: pasien harus ditunggui oleh anggota keluarganya. Mungkin maksudnya: penjamin. Adik saya berhasil menyelamatkan bayi itu. Bayi yang sekujur tubuhnya biru langsung memerah dan mulai bergerak. Tapi bidan tersebut minta ijin untuk membeli obat dan tidak kembali lagi. Bayi itu resmi ditinggal di rumah sakit tanpa tahu siapa ibunya atau keluarganya.

Adik saya mulai panik.

Dokter residen yang pangkatnya lebih tinggi dari adik saya datang. Ketika mendengar laporan adik saya, dia marah. Gak marah besar sih, tapi pokoknya dia gak mau tau gimana caranya bayi itu harus dikembalikan karena ternyata ruangannya penuh. Dia juga bilang, harusnya gak diterima yang seperti itu karena kasus tipikal seperti itu sudah banyak: bayi ditinggal, orangtuanya entah kemana, lalu menjadikan RS sebagai ‘tempat penitipan bayi’.

Miris mendengar ini walaupun adik saya saat bercerita ketawa-ketawa akhirnya. Adik saya bilang: ah, palingan bayi itu jadi mainannya koas-koas sekarang, apalagi koas-koas cewek, pasti pada bilang ‘ih lucu banget’.

Ayah saya menanggapi, katanya adik saya ini melakukan tindakan yang benar. Sebagai seorang dokter, sesulit apapun keadaannya, bila ada yang sakit di depan kita tetap saja harus ditolong. Gak peduli beda status, beda kekayaan, beda ras, beda warna kulit, dll. Dokter tetap dokter. Itu sumpah. *trus ingat quote di team medical dragon* =D

Ketika sudah sampai dalam ranah profesi dan kebiasaan, satu nyawa melayang mungkin menjadi pemandangan yang biasa.

Adik saya cerita lagi, di RS daerah ini, pernah ada satu orang yang nyawanya tidak terselamatkan akibat adanya keterlambatan dalam pengambilan keputusan penanganan. Pasien-pasien daerah menjadi tempat belajar calon-calon dokter. Belum lagi kalau keluarga pasien terlambat mengurus jamkesmasnya. RS tidak akan mau melakukan tindakan apabila jamkesmasnya belum diurus, tidak peduli seberapa gawatnya kondisi pasien. Semua RS butuh jaminan.

Adik saya bilang, seandainya mereka punya uang pasti mereka gak akan datang ke RS daerah. Sayangnya mereka tidak punya uang dan satu-satunya RS yang terdekat ya RS ini.

Sakit itu mahal.
Pelayanan yang baik membutuhkan uang yang banyak.
Dan harga satu nyawa benar-benar ‘terkait di awan tinggi’.

Masih seperti itu realita sekitar kita. Padahal gak jauh-jauh dari Jakarta, masih sekitaran Jabodetabek.

Ah semoga saja kartu sakit itu betul-betul membawa perubahan. Semoga saja semakin banyak dokter-dokter yang punya hati dan ikhlas dalam melakukan tugasnya. Dan semoga saja lebih banyak dokter lagi yang ‘turun’ ke daerah serta tidak memikirkan perihal ‘balik modal secepatnya’.

Semoga saja.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s