Menjadi Anak Pulau: Hari Pertama

Kaaa, bantuin TA aku pas di pulau ya. Mau rempong. Banyak survey yang belum kegarap.

Potongan percakapan BBM yang terjadi di 8 November siang itu sukses bikin semangat. Dikirim oleh Siska. Tugas akhirnya tentang desain produk tempat diving yang ramah lingkungan untuk konservasi terumbu karang. Lokasinya di Kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Pramuka. Kenapa disana? Karena ternyata di Pulau Pramuka ini pusat konservasi terumbu karang.

Saya cepat mengiyakan. Sekalian liburan, pikir saya. Capek gak masalah.

Setelah atur-atur jadwal keberangkatan, jadilah disepakati keberangkatannya pada tanggal 18 November, pulangnya di tanggal 20 November. Tujuan utama: Pulau Pramuka. Berangkat dari Bandung dengan travel jurusan Grogol jam 5.30 WIB. Kata Siska, kira-kira sampai jam 8.30 pagi, trus naik angkot ke Muara Angke, lanjut pakai odong-odong, trus baru naik kapal ke Pulau Pramuka. Ternyata kita (saya dan Siska) sampai Grogolnya kecepetan. Jam 7.30 sudah sampai. Bengong dan perut lumayan lapar karena sebelum berangkat belum sempat diisi, akhirnya kami titip tas di pool-nya, trus jalan menyusuri jalanan Grogol berharap bertemu dengan mang-mang tukang jualan nasi kuning atau apalah seperti di Bandung. Tapi gak ada. Akhirnya berhenti di warung nasi Padang, haha. Belum banyak menunya, tapi lebih dari cukup untuk mengisi perut.

Setelah makan pagi, kembali lagi ke pool. Siska bilang temannya masih ada yang mau nyusul. Namanya Dudit si anak Depok. Dia mau ikutan survey, bukan tentang terumbu karang tapi tentang kapal yang digunakan untuk menyebrang dari Muara Angke ke Pulau Pramuka. Kapal yang seharusnya pada hari pertama ini kita gunakan: Kapal Kerapu.

Setelah Dudit datang (sambil bilang kalau nanti ketemu bapaknya, kita disuruh bilang “masih nunggu temennya satu lagi” – karena ternyata si Dudit gak bilang kalau dia cowok sendiri), langsung ambil tas yang dititip dan cabut naik angkot B01.

Perjalanan di angkot lebih ke proses perkenalan sih ya kayaknya, hahaha. Si Dudit ini mengira Amy yang diajak bukan saya, tapi temannya yang satu angkatan sama dia. Makanya dia bingung-bingung awkward awalnya. Tapi untungnya ke-gak-jelas-an ini cuma sampai di angkot saja *naon.

Setelah perjalanan dengan angkot B01 yang berhenti di pangkalan Muara Angke, lanjut naik odong-odong. Odong-odong ini sendiri sama persis dengan tuk-tuk kalau di Thailand atau Kamboja. Tujuannya: Pelabuhan Kali Adem, karena disitu tempat naik ke Kapal Kerapu.

Ini Siska, tokoh penting dalam cerita ini.

Ini Dudit, yang gak kalah pentingnya dalam cerita ini

Foto dulu depan odong-odong

Trus anak ini ikutan tapi pake jurus ‘malu-malu-tapi-mau’ =D

Ternyata naik odong-odong ini adalah suatu keharusan bagi siapa saja yang mau ke pulau lewat pelabuhan baik itu Kali Adem maupun pelabuhan Muara Angke. Jalanannya banjir. Bukan air bersih, tapi air kotor. Semacam air got yang berwarna hitam dan baunya campur-campur antara bau amis ikan laut, bau sampah, serta bau khas air got.

Pemandangan sepanjang jalan

Selama perjalanan banyak yang dapat disaksikan. Termasuk diantaranya adalah penjemuran ikan asin! Banyak banget berjejer.

Jangan beli ikan asin dari Muara Angke ya, kak. Tuh liat, gak ada lalatnya satu pun. Itu ikan rusak, kayaknya sih pake formalin – Siska

Penjemuran ikan asin

Setelah melewati itu semua, sampailah kami di Pelabuhan Kali Adem. Pelabuhan ini sepi karena masih baru dan kapal yang berangkat hanya Kapal Kerapu yang sekali berlayar hanya mampu mengangkut maks 30 orang. Karena kita datang terlalu cepat dari jadwal dibukanya loket, jadi harus nge-take tempat antrian dengan meletakkan 1 tas. Ada Kapal Kerapu yang diparkir, dan dimulailah survey TAnya si Dudit. Ambil foto sana-sini. Belum ada satu jam, tiba-tiba langit yang awalnya cerah mendadak berawan tebal dan berangin. Kapal Kerapu yang dijadwalkan berangkat pun batal berangkat. Kapal Kerapu ini lebih sensitif sama ombak. Maksudnya, karena kecil (jauh lebih kecil dari ukuran kapal kayu) makanya lebih mudah dibawa ombak.

Pelabuhan Kali Adem. Adem bener.

Kali Adem

…dan semua berubah ketika awan gelap ‘menyerang’

Setelah mendapat kepastian Kapal Kerapu batal berangkat dari petugas utamanya, kita langsung memutar otak mencari cara lewat jalan apa perginya. Pokoknya harus pergi hari itu juga. Beruntung, Siska yang-udah-3-kali-bolak-balik-pulau-dan-gaul-banget-karena-punya-kenalan-di-setiap-pulaunya, SMS pak Mail (penduduk Pulau Panggang yang rumahnya sempat ditempati oleh Siska). Kata Pak Mail, coba ke pelabuhan Muara Angke. Disana (kata Pak Mail) ada Ismi, anaknya Pak Mail, yang ketinggalan kapal.

Baru kali ini mendengar istilah ketinggalan kapal. Sebelum-sebelumnya kan seringnya ketinggalan travel atau ketinggalan kereta atau bahkan ketinggalan pesawat. Hihihi.

Bergegaslah kami men-carter odong-odong untuk secepatnya sampai ke pelabuhan Muara Angke. Cuaca saat itu: gerimis mendekati hujan. Ketika sampai ke pelabuhan Muara Angke dan celingak celinguk mencari orang yang bisa ditanya, juga Ismi, tiba-tiba ada yang berseru: “MBAK SISKA!!”.

Iyah, betulan gaul banget kamu, Sis. Confirmed! Hahah. Coba yah, ditempat yang gak tau dimana ini ada yang manggil dengan seruan akrab gitu loh. =))

Yang tadi manggil itu ternyata Pak Dokter yang masih berkerabat dengan Pak Mail. Mereka mau pergi ke tempatnya Pak Mail sama Ismi juga karena besoknya Ulhaq (adiknya Ismi) akan disunat. Keluarganya Pak Dokter ini ada 3 orang: Pak Dokter, Mpok Romlah (istrinya), dan Amat (anaknya). Alhamdulillah ketemu mereka tanpa harus susah-susah mencari. Alhamdulillah banget.

Pelabuhan Muara Angke (dilihat dari dalam kapal)

Hujan semakin deras, warung seadanya yang dipakai untuk berteduh pun mulai basah sana-sini. Si mbak-mbak yang punyanya pengertian banget, dia taro kardus2 bekas di senderan tempat duduknya jadi gak terlalu basah. Kapal yang jam 10 gak berangkat. Kata orang-orang sana, kami diminta untuk menunggu sampai jam 12. Tapi itu juga belum pasti.

Tunggu aja dulu ya, kalau cuaca baik dan ada kapal mungkin jam 12 bisa berangkat. Soalnya kapal dari Pulau Pramuka juga belum datang karena disana hujan badai.

Kepastian itu hal yang mahal saat ini. =p

Karena hujan yang juga tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti, dan sebetulnya ada kapal besar kosong yang nganggur di dekat kami, dan alhamdulillah (lagi) mpok Romlah ini sedang hamil, jadilah dengan muka memelas kami minta dimasukkan ke dalam kapal untuk berteduh. Alasannya? Tentu saja “kasian-ada-ibu-hamil-butuh-selonjoran-karena-dari-jam-tujuh-pagi-duduk-terus”. Berhasil! Boleh masuk. Hehe.

Ngalor-ngidul gogoleran dalam kapal labuhan

Sambil menunggu jam 12 tiba (lama banget), banyak sekali percakapan, banyolan, celetukan, ledekan, macem-macem. Eh trus ditraktir makan sama pak Dokter di warung nasi seberang saat hujannya tinggal gerimis-gerimis saja. Jam 12 pun datang, dan kami belum mendapat kepastian.

Kapal belum datang. Tunggu lagi saja sampai jam 3. InsyaAllah kalau cuacanya seperti ini terus, kapal bisa berangkat jam 3.

Trektekdungdess. Duduk lagi. Leha-leha lagi. Ngobrol lagi. Gelisah lagi. Capek duduk lagi. Ketawa-ketawa lagi. Foto-foto lagi. Keliling-keliling lagi. Makan gorengan lagi. Mati gaya lagi. Bengong lagi. Ngobrol lagi. Ngeliatin jam lagi.

Mulai geje, trus foto-foto kapal

Terpesona dengan banyaknya lampu di tiang-tiang kapal

Dan akhirnya jam 3 pun datang. Langsung naik ke kapal kayu yang baru berlabuh. Alhamdulillah! Akhirnyah! Penantian panjang pun berbuah kepastian. Sedikit lega.

Ketika kapal betulan berangkat, tambah lega.

Perjalanan dengan menggunakan kapal kayu ini lebih lama dibandingkan dengan Kapal Kerapu. Bila jarak yang sama bila ditempuh dengan Kapal Kerapu hanya selama 1,5 jam, dengan kapal kayu bisa sekitar 3 jam. Dua kalinya. Mulai atur-atur strategi, takut mabok laut. Apalagi saya belum pernah naik kapal kayu segede ini. Biasanya ferry atau kapal kayu dengan ukuran kecil. Gak seru banget kalau beneran mual-mual gak jelas selama perjalanan.

Aktivitas dalam kapal bagi sebagian penduduk asli: tidur

Kapal kayu ini bertingkat. Satu jam pertama saya habiskan di lantai 1 sambil melihat keluar karena kalau diam dan tiduran seperti orang-orang lain saya merasa lebih mual. Trus ke toilet kapal yang ada di ujungnya kemudian naik ke lantai atasnya diajak Ismi, Amat, dan Siska. Sampai di atas, lebih gak mual. Disini lah kami bertemu dengan bocah-bocah pulau pramuka. 4 orang, laki-laki semua. Mereka-mereka ini yang ternyata nantinya akan menjadikan perjalanan kami lebih dari sekedar ‘liburan dan survey’.

The 4 musketeers

Selalu ada anak yang menonjol. Yang mempunyai bakat. Yang tidak mempunyai rasa takut dan seolah menantang dunia. Selalu.

Dan diantara ke 4 anak itu, adalah Gufron yang memiliki karakter seperti itu. Berani dan tidak malu-malu, itu kesan pertama saya bertemu dia.

Saat saya, Siska, Ismi, dan Amat sedang foto-foto di dak kapalnya, Gufron antusias melihat hasil tangkapan kamera dari belakang.

Saya dan Siska

“Kenapa lihat-lihat? Mau ikutan foto ya?”, ledek saya.

Dia yang saya tanya, senyum-senyum tengil dan bilang ‘iya mau’, kemudian melihat teman-temannya dan berkata “OI, kita mau difoto nih!”. Teman-temannya malu-malu menanggapi dan gak mau ikutan foto, hanya melihat sambil sesekali meledek Gufron ini. Ah tapi peduli apa, itu mungkin yang ada dipikiran Gufron. Ramailah dak kapal ini oleh celotehan-celotehan dan ledekan-ledekan kami karena memang harus berbicara keras-keras untuk melawan kerasnya suara ombak.

Ki-Ka: Amat, Ismi, Saya, Gufron

Dudit, yang dari awal sudah berada di lantai atas, melihat kami di dak kapal dan menghampiri. Ternyata dia udah kenal duluan sama the-4-musketeers ini. Bahkan Gufron mengajak Dudit dan kami untuk datang ke lapangan dan bermain futsal keesokan harinya.

“Besok dah, Bang! Ikutan aja futsal di lapangan tenis abis Ashar yak.”, ajak Gufron.

Dudit, yang emang doyan banget olahraga ini langsung mengiyakan. “Beneran gak inih? Nyamper yak!”, katanya. Akhirnya, setelah terjadi kesepakatan dan capek berteriak-teriak juga ketawa-ketawa karena tingkah laku bocah-bocah ini (dan kami semua tentunya), kami (saya, Siska, dan Dudit) turun lagi. Merasa badan sudah terlalu banyak diterpa angin, kami tiduran di lantai 1 sambil berdoa masing-masing dalam hati “semoga gak masuk angin”, hahahah.

Dudit yang mengajak Gufron foto dengan gaya sok ‘cool’ =))

G-I-R-A-N-G =))

Mulai geje dan masuk angin

Gak berapa lama, kapal akhirnya berlabuh. Setelah pamitan sama Pak Dokter, Mpok Romlah, Amat, dan Ismi (karena mereka meneruskan perjalanan ke Pulau Panggang) juga berjanji akan datang besoknya di acara sunatannya Ulhaq, kami langsung menuju tempat peristirahatan selama di pulau ini.

Setelah cari-carian sama Riki yang dititipin kunci rumah, akhirnya masuk juga ke dalam rumah. Ukuran rumahnya cukup besar untuk kami ber-3: satu kamar (berAC!), satu kamar mandi, ada TV, dan ada 4 kasur. Sebelumnya mampir dulu ke warungnya Kang Eman -baru kenalan, kalau Siska sih gak usah ditanya, akrab bener- untuk beli tolak angin, minum teh manis panas, dan makan malam. Baru masuk rumah untuk bebersih, beberes, dan mandi. Untuk Dudit, ditambah nyuci-nyuci karena sepatu, baju, dan celana dia super basah dan kotor. Dan kesemuanya itu dijemur di pagar luar rumah, untungnya gak hilang. =))

Kamar ber-AC

Setelah itu, berkunjung ke Elang Ekowisata. Lagi-lagi superstar banget ini Siska, satu tempat diving centre itu kenal sama dia. Super banget kamuh, Sis! Si saya sama Dudit cuma bisa geleng-geleng sambil berpikir kayaknya dia emang aslinya anak pulau sini yang entah kenapa bisa kebawa sampai ke Banjar, hahaha. Gokil lah pokoknya networking-nya dia disini. Siska juga yang mengenalkan kami dengan orang-orang sekitar, ‘temen-temen’ mainnya, juga sejarah singkat tentang pulau Pramuka ini.

Jalan menuju Elang Ekowisata

‘Kendaraan’ penduduk pulau yang rapi terparkir

Ah, baru hari pertama, baru beberapa jam saja di pulau ini, tapi postingannya sudah sepanjang ini. Apalagi besok yang seharian berkegiatan. Rencana untuk besok adalah: mengejar matahari pagi, mandi, dandan rapih, ke pulau Panggang nengok Ulhaq yang habis disunat, snorkeling, main futsal sama bocah-bocah pulau, mandi lagi, ke Elang Ekowisata untuk survey dan wawancara sekalian diskusi TA, dan terakhir ditutup dengan bakar-bakaran ikan.

Hari esok pasti lebih seru dan menyenangkan!

Saatnya istirahat dan mengisi tenaga untuk besok.

[bersambung]

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s