Menapaki Gunung Batu

Tanggal 16 November 2012 yang lalu saya akhirnya bisa menapaki Gunung Batu di daerah Lembang. Gak tinggi-tinggi banget sih, lebih tepat disebut bukit karena ternyata ketinggiannya hanya 1300-an meter dari permukaan laut. Gunung Batu ini terletak di sebelah selatan dari kota Lembang.

Saya pergi gak sendiri. Rencana awalnya sebetulnya ke museum Geologi. Namun hari jumat itu jadwal tutupnya, akhirnya pergilah ke Gunung Batu ini. Kalau kata teman saya,

Belajar geologi ya alam semesta ini.

Diawali dengan mengunjungi museum kereta api yang ternyata masih direnovasi sehingga belum dapat menerima pengujung, ngobrol lama di taman belakangnya, si teman yang super niat ngeluarin peta geologi yang saya gak ngerti gimana cara bacanya (asli baru kali ini liat peta kayak gitu, haha), makan siang, kemudian baru menuju Lembang lewat Dago. Saat makan siang, awan tebal sudah menyelimuti Dago. “Ah, bismillah semoga gak hujan”, doa saya dalam hati.

Tapi ternyata Tuhan menghendaki lain. HUJAN DERAS. Alhamdulillah masih bawa jaket =D

Setelah kejebak hujan dan berteduh di warung setempat sambil ngobrol-ngobrol dari mulai serius sampai gak serius selama 1 jam-an, perjalanan di lanjutkan. Lembang setelah hujan? DINGIN. BANGET. Brrr.

Tapi begitu terlihat penampakannya, indah banget. Walaupun masih dingin, hahaha. Jadi ternyata dinamakan Gunung Batu karena memang tersusun dari batu-batuan. Batu yang terbentuk ini berasal dari batuan bekas lava dari Gunung Sunda. Kata teman saya yang jago banget ilmu kebumiannya itu, dia bilang awalnya tanah-tanahnya rata, kemudian gara-gara terjadinya letusan gunung membentuk patahan. Nah bentuk patahan/sesar yang paling terlihat ya Gunung Batu ini.

Gunung Batu, Lembang

Setelah babasahan kena hujan =D

Naik ke puncaknya harusnya sih gak sulit. Tapi kombinasi tanah+hujan+dan sepatu crocs bukan pilihan yang bijak nampaknya. Hahahah. Licin! Ketika sampai di tempat panjatnya, butuh waktu ada kali 15 menit buat ngumpulin nyali manjat dengan tingkat kelicinan kayak gitu. Untungnya yang ngajak sabar-sabar aja =D

Akhirnya berhasil sampai atas! Dan memang pemandangannya indah banget. Dari atas, bisa melihat 2 sisi sekaligus: Bandung dan Lembang. Seandainya gak hujan dan gak berkabut pasti pemandangan Gunung Papandayan, Malabar, Patuha, Burangrang, Bukittunggul, dan Tangkubanparahu yang mengelilingi Bandung bisa terlihat. Sayang treknya gak sempat difoto.

Pemandangan Lembang

Pemandangan Bandung

Ini si pohon single-fighter

Di puncaknya juga terdapat bangunan kepunyaan stasiun pemantauan gempa bumi dari Badan Geologi, isinya seismograf. Ada rumah yang jaga juga. Ada makamnya Mbah Jambrong (yang-gak-tau-siapa) itu juga.

Pusat pemantauan gempa bumi

Punyanya badan Geologi

Tadinya sebetulnya ingin hati sampai ngeliat matahari terbenam, tapi trus mikir. Kalau sampai matahari terbenam berarti itu magrib, berarti udah gelap, naiknya aja udah susah dan licin, apalagi turunnya nanti kalau ditambah sama faktor gelap. Yaudah, turun sebelum gelap akhirnya.

Gunung yang tertutup kabut

Licin!

Brrrrrrr

Setelah magrib dengan air yang super brrr di salah satu mesjid di Lembang, nunggu isya sekalian sambil makan pisang/ubi dan bajigur hangat, akhirnya pulang dan makan malam di ayam Mas Pras Tubagus.

Terima kasih saya untuk dia yang sudah mengajak! Jangan bosen-bosen ya =)

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s