Malam Publik Bosscha

Postingan ini sebenarnya sudah ada di draft dari kapan tauk deh, tapi entah kenapa baru di post sekarang. Ingin sedikit berbagi saja tentang pengalaman berkunjung ke Observatorium Bosscha malam hari.

Sebenarnya ide untuk berkunjung ini pun datang begitu saja. Karena mau pindahan kosan. Karena mau meninggalkan Bandung, for good. Jadi aja ngebuat list tempat-tempat yang ingin dikunjungi sebelum betulan pindahan ke Jakarta, walaupun ujung-ujungnya tetap aja ada yang miss karena gak ada waktunya. Nama Bosscha pun tercetus di kepala, tapi gak mau siang-siang. Udah pernah kalau siang, maunya malem *banyakmaunya*. Trus nanya sana-sini termasuk buka website-nya. Bosscha sendiri merupakan observatorium dan sehari-hari digunakan oleh anak-anak astronomi ITB untuk penelitian, makanya gak bisa sembarangan atau seenaknya masuk-masuk aja. Harus ada ijin. Kalau kunjungan siang, waktunya lebih fleksibel dan hari-nya pun lebih banyak. Yang repot itu kalau untuk kunjungan malam.

Jadi Bosscha cuma punya 3 malam per bulannya yang di malam-malam tersebut observatorium ini dibuka untuk umum. Catet ya, cuma 3 malam. Jadi kalau di luar malam itu trus nekad dateng ya Bosscha-nya kosong, atau mungkin ada sih beberapa orang yang nginep tapi buat penelitian. Jangan harap bisa jadi kayak Sherina di film Petualangan Sherina-nya, hehe.

Jadwal-jadwalnya pun bisa dilihat di website-nya disini.

Pergi ke Lembang naik motor. Ber-4 orang total, jadi 2 motor. Adhi, Widhi, Nyno, dan saya. Kalau kata Adhi sih “gw kalo gak lo ajakin kayaknya sampe gw betulan gak di Bandung lagi juga gw gak bakalan kesana, hahahaa”. Widhi pun sama. Jadilah begitu siap berangkat, jaket dan kamera juga siap banget nyantel. Sekali seumur hidup gini. Hahahah.

Dan inilah beberapa hasil jepretan kamera Adhi dan saya.

24 Oktober 2012

Seru! Dan gelap! Hahaha, iya karena malem dan sebenarnya untuk melihat bintang atau bulan gak boleh ada cahaya lain, jadinya di Bosscha ini gelap banget. Bahkan para peneliti pun kesulitan untuk melakukan pengamatan karena banyaknya yang mereka sebut dengan ‘polusi cahaya’ yang berasal dari rumah-rumah maupun villa-villa sekitaran Lembang. Gak kebayang, dulu banget sewaktu baru Bosscha saja yang ada di Lembang segelap apa. Hiii… Pokoknya, yang mau kesana malem-malem, jangan lupa senter ya! =)

Dan ini ‘rombongan’nya:

Ki-Ka: Widhi, Adhi, Nyno, Saya
(courtesy to: Adhi Kurniawan)

Special thanks banget banget untuk Anton dan Siska yang udah ngasih kita-kita free pass buat malam publik ini. Emang yah, the power of kahim penting banget. Berasa jadi orang penting deh disana. Hehehe. Terima kasih!! =)

Diakhir kunjungan tetap saja ngetwit “Canopus. Capella. Vega.”. Biarin norak juga.

Apalah arti satu manusia di semesta, hanya debu-debu saja – quote epic hasil kunjungan, terutama setelah diperlihatkan manusia, bumi, dan jagad raya.

Trus trus, jadi alien itu ada gak ya? Karena jagad raya itu supeeeerrrrrrr banget luasnya. *persoalan*

Planetarium mana planetarium. Berikutnya harus kesana!

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s