Pulang ke Rumah

Sebagai seorang anak yang selama 5 tahun terakhir ini ngekos, pulang ke rumah merupakan fase yang menyenangkan. Sangat. Rumah selalu menjadi tempat ternyaman untuk kembali. Untuk pulang. Itu pemikiran awal saya.

Tapi ternyata tidak semudah itu.

5 tahun dihabiskan dengan ngekos pasti sudah terbiasa dengan apa-apa dilakukan sendiri dan sekarang harus ‘pulang’, yang berarti segala sesuatunya harus dikompromikan lagi. Gak boleh seenaknya sendiri. Pergi sama siapa, kemana, pulang gimana, sama siapa pulangnya, jam berapa, ngapain aja, beli apa aja, makan apa dimana, semua-muanya itu harus dibicarakan terlebih dahulu. Minimal selalu ada pertanyaan tentang ini semua.

Saya kembali ‘kecil’ di rumah ini. Pulang gak boleh sendiri, sedangkan dulu terbiasa banget pulang sendiri. Sekarang pulang harus naik taksi, itu pun gak boleh sembarangan taksi, sedangkan dulu kemana-mana kombinasi ngangkot dan jalan kaki. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Bahkan waktu itu ayah saya pernah minta langsung ke muridnya untuk mengantar dan menemani saya ke undangan, hanya agar saya tidak pergi sendirian. Saya mengerti maksud mereka baik. Saya juga pasti akan merasakan dan melakukan hal yang sama apabila saya ada di posisi mereka. Iyalah, 5 tahun pisah (walaupun saya bolak-balik Jakarta-Bandung), gak tau pergaulan anak-anaknya disana, dan sekarang si anak tersebut pulang. Pasti dijaga lah sepenuh hati, sesanggup yang sanggup mereka lakukan dan berikan.

Mungkin saya hanya kaget.

Saya sadari pula dengan sepenuh hati, saya tidak boleh mengeluarkan keluhan sedikitpun. Cuma akhirnya mikir aja, ketika saya akhirnya betulan pulang, banyak kebiasaan saya yang dikritik sama orang tua. Dan teman-teman saya pun demikian. Mungkin karena dulunya merasa bebas dan bisa melakukan apa yang mau dilakukan, di lingkup keluarga ini semuanya dijaga. Semuanya di rem. Rem sosial. Ini juga mungkin penyebabnya kenapa orang-orang yang kelamaan ‘ngekos’ atau berada di luar rumah lebih sering berantem sama anggota keluarganya kalau diijinkan ‘pulang’ dan tinggal lama dengan keluarganya, kalau cuma sehari-dua hari pasti belum berasa perbedaannya.

Perbedaan pasti selalu ada. Pola pikir, kebiasaan, tingkah laku, hobby, kesukaan, dan lain-lainnya itu pasti banget adanya. Tapi keluarga saya rasa tetap merupakan pendidikan pertama dan utama bagi seorang anak.

Ah, sampai kapan ya kekagetan saya ini? Semoga masa transisinya gak akan lama-lama. Karena semakin saya bertambah tua, mereka pun juga. Dan waktu saya dengan mereka sudah berkurang 5 tahun karena ngekos itu. Harusnya saya ya yang sebel sama ke-5-tahunan itu. Lama sekali dan sebenarnya apapun dapat terjadi dengan waktu seperti itu.

Yah, anggap saja kekhawatiran mereka sebagai akumulasi dari rasa kangen dan sayang yang terbatas diberikan selama 5 tahun. Semoga mereka diberikan umur panjang dan semoga saya dapat membuat mereka bangga.

Seperti kata Raditya Dika dalam Manusia Setengah Salmonnya:

Seharusnya, semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri dari orangtua kita. Sebaiknya, semakin bertambah umur kita, semakin kita dekat dengan orangtua kita.

Kita gak mungkin selamanya bisa ketemu dengan orangtua. Kemungkinan yang paling besar adalah orangtua kita bakalan lebih dulu pergi dari kita. Orangtua kita bakalan meninggalkan kita, sendirian. Dan kalau hal itu terjadi, sangat tidak mungkin buat kita untuk mendengar suara menyebalkan mereka kembali.

Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima.

=”)

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

One thought on “Pulang ke Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s