Basil, Bukan Oregano

Hari Senin tanggal 29 Oktober yang lalu akhirnya saya berhasil bayar hutang dengan cara yang elegan. Hahah.

Kalau kalian baca postingan-postingan saya terdahulu, pasti gak asing dengan nama salah satu professor, guru besarnya ITB, sekaligus peneliti internasional. Nama beliau Anang Zaini Gani. Beliau ini sebenarnya om-nya teman saya, dan perkenalannya pun karena saya diberi kesempatan untuk mengerjakan proyek beliau. Umurnya sudah 70 tahun lebih, sudah pensiun namun saat ini masih menyempatkan diri untuk mengajar.

Suatu waktu om Anang ini berkata,

My, kalau kamu sudah lulus nanti traktir saya yah.

Dan saya mengiyakan mengingat om Anang sudah memberikan motivasi yang super banyak ke saya. Tentang pengalamannya, tentang cerita-ceritanya, tentang penelitiannya, tentang filosofinya, sampai ke tentang keluarganya dibagi kepada saya.

Tadinya saya berpikir untuk mengajak makan di luar (restoran atau kafe dan sejenisnya), tapi niat tersebut saya urungkan karena umur beliau. Takut gak bersih, minyaknya kebanyakan, makanannya kemanisan, dan lain sebagainya. Akhirnya saya memutuskan memasak sendiri untuk om Anang. Menunya? Spaghetti Bolognaise yang tentunya a la saya.

Janji ketemuannya jam 5 sore di rumahnya. Om Anang ini tinggal sendiri. Istrinya di Italia dan ke 4 anak-anaknya tersebar di 4 negara. Sebelum memasak untuk om Anang, rencana saya adalah ketemu pemimbing sampai jam stengah 2 siang maksimal, tapi pembimbing baru hadir jam stengah 3 sore. Dan saya sampai kosan lagi jam stengah 4 sore. Langsung grabak-grubuk masak.

Telat stengah jam jadinya gara-gara gas kosan yang habis dan harus nunggu kiriman lagi. Sekitar jam 5 kurang saya BBM om Anang untuk ijin datang telat. Dan jawabannya, “Gak apa-apa Amy, saya tunggu.”

Semakin beliau bales seperti semakin lah grabak-grubuknya saya.

Begitu sampai rumahnya beliau, saya masuk dan si om bilang bahwa dia sebenarnya puasa dan sudah menyiapkan spageti untuk saya. Saya langsung balas omongannya dengan bilang saya juga bawa spageti. Sempat jiper juga karena spageti-nya om Anang ini enak, resep asli Itali sana. Jadi dengan deg-degan saya juga bilang, “Kan saya yang janji mau nraktir om Anang, jadi makannya spaghetti saya aja ya, Om. Cuma gak tau nih sesuai selera om Anang atau enggak. Hahahaa, ini spaghetti a la saya, Om.”

Akhirnya makan spaghetti-nya saya.

Spaghetti a la saya

Sepanjang makan bareng itu, om Anang gak berhenti-berhenti cerita tentang segala hal. Tentang penelitiannya, tentang keluhannya soal anak ITB, tentang minimnya pendidikan dalam membentuk karakter, tentang disiplin, macem-macem. Beliau juga bilang baru-baru ini (tanggal 17 Oktober) ada rapat Majelis Guru Besar-nya ITB membahas tentang karakter apa-apa saja yang lulusan ITB punya. Dan katanya, rata-rata mengeluhkan hal yang sama. Tentang kurangnya simpati dan empati, kurang hormat dan menghargai yang lebih tua, kurang disiplin, dll. Bahkan dibeberapa aspek lebih dinilai ‘tidak memiki sama sekali’.

Bukannya kami-kami ini minta dihargai, My. Tapi namanya harga-menghargai dan hormat-menghormati itu kan bagian dari etika. Kalau gak ada itu, gak akan survive di luar sana.  – om Anang

Banyak contoh yang dia kemukakan hasil dari ‘curhatan’ para guru besar itu. Dan salah satunya dirasakan dan dialami langsung oleh pembimbing saya yang perempuan, yang juga beliau ini seorang professor.

Pendidikan karakter. Penting banget sih ini. Pantas saja dulu ada divisi pendidikan karakter di himpunan saya. Tapi sekarang gak tau kelanjutannya seperti apa.

Selalu seperti ini berkunjung ke tempatnya om Anang. Selalu ingin lama-lama ngobrol karena pasti banyak sekali pengalaman dan cerita beliau yang bisa saya dapatkan. Tapi sayang harus pulang juga karena ibu saya menunggu di kosan. Ketika saya ijin pulang karena alasan ada ibu saya yang menunggu makan malam, beliau berkata,

Sampaikan salam hormat saya untuk ibu kamu ya, My. Saya merasa terhormat sekali dikunjungi kamu padahal ada ibu kamu di kosan. Terima kasih banyak. – om Anang

Tesis saya juga dibahas di pembicaraan-2-jam ini. Om Anang minta saya mengirimkan tesis saya ke beliau. Katanya beliau ingin baca dan penasaran tentang apa karena katanya 2 orang pembimbing saya kalau sudah cerita tentang penelitian ini semangat sekali dan terlihat ‘wah’. Gosip dikalangan sesama guru besar ini kayak gini ternyata, tentang proyek dan penelitian. -___-”

Saya kagum sama kamu, My. Lulus cumlaude kan ya kemaren? Dari ceritanya bu Tati nampak sulit sekali yang kamu kerjakan tapi kamu bisa lulus tepat waktu. Bangga saya bisa kenal sama kamu. – om Anang

Flattered. Om ini ilmunya jaauuuuuhhhhhhh lebih banyak dari saya. Parah, banyak bangettt ilmu dan pengalamannya tapi tetap memberikan saya kalimat-kalimat di atas itu. Betul-betul rendah hati sekali beliau ini. Ketika saya balas, “gak ada apa-apanya dibanding om Anang. Saya juga bisa begini karena om yang sudah mau bagi-bagi ceritanya ke saya. Motivasi banget loh itu, Om.”

Beliau membalas,

Oh ya harus itu. Tujuannya saya cerita ke kamu kan memang memberikan motivasi. Harus dong termotivasi.

Ah alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk kenal om Anang ini. Kalau katanya temen saya, Anggasta, yang sekarang lagi di Belanda katanya “lo sama om Anang kayak satu frekuensi, My. Omongannya nyambung, hahahhh”. Alhamdulillah selalu ada motivasi-motivasi ‘tambahan’ yang gak terkira besarnya dan datangnya dari mana saja yang menemani saya dalam tesis saya. Suatu hari nanti, semoga saya bisa seperti om ini dan memberikan inspirasi serta motivasi yang sangat berpengaruh dalam kebaikan ke orang-orang. =”)

Ketika beliau mengantarkan saya ke pintu pagarnya, beliau berkata,

Kamu saingan saya dalam bikin spaghetti, My. Spaghetti kamu enak sekali, saya sampai nambah 2 piring. Itu rasanya Itali banget.

Senang sekali masakan saya satu selera sama lidahnya si om. Baru saja senang campur terharu, om Anang melanjutkan:

Tapi itu tadi pakai oregano ya, My. Harusnya pakai Basil leaves. Oregano itu untuk pizza. Hahahaa.

Jreng! Saya lupa. Hahahahh. Betul kata om Anang ini.

Sehat selalu ya, Om! InsyaAllah saya mampir kalau ke Bandung lagi. =)

Oleh-oleh dari rumahnya Om Anang: BASIL LEAVES! =))

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

One thought on “Basil, Bukan Oregano

  1. Pingback: 23 Tahun dan MT. « amyasti's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s