Sekali Lagi

Hari ini, saya kembali ditunjukkan bahwa jilbab itu memang identitas muslimah di seluruh dunia. Dengan mengenakan jilbab ini kita dikenal. Semua orang tahu dan cenderung menghormati tentang apa-apa yang tidak-boleh-kita-makan/minum, tidak-boleh-kita-gunakan, atau yang tidak-boleh-kita-lakukan. Sebagian besar orang di seluruh dunia tahu itu.

Jadi ceritanya, hari ini saya jalan bareng sepupu-sepupu saya. Total ber 4 dengan komposisi 3 perempuan dan 1 laki-laki. Yang mengenakan jilbab hanya saya disini. Keputusan untuk keluar dan ketemuan ini pun super impulsif, baru dikasih tahu siang jam 12an dan ketemuannya jam 3 sore. Niat awalnya adalah pergi ke Grand Indonesia buat makan dan ngobrol-ngobrol aja. Salah satu sepupu saya baru selesai sidang sarjana, semacam syukuran lah ya ceritanya mah. Hanya saja Jakarta pada hari itu sama sekali tidak bersahabat. Ada demo di depan gedung MPR/DPR sehingga lalu lintas kacau balau. Macet dimana-mana. Akhirnya diputuskan untuk makan dulu di daerah Senopati dan magrib disana.

Setelah itu, baru ke GI.

Salah satu sepupu saya ingin mencoba salah satu tempat makan di GI. Setelah masuk ke kafe (atau restoran yah) ini kita terkesima sama dekorasinya. Super niat. Didekor dengan atribut-atribut Halloween lengkap dengan Jack-O-Lantern nya. Konsep tempatnya seru banget sebenarnya, setengahnya open-air dan pemandangannya lumayanlah buat ngeliat Jakarta. Musiknya keras tapi so far sih lagu-lagu yang dibawakannya bukan yang metal atau rock gitu. Betul-betul tempat yang hip menurut saya.

Trus duduk. Trus liat menu.

Daannn trektektektektekdungdes…

Wine semua. Intinya mah alkohol dengan berbagai macam nama lah ya. Ada sih kopi, tapi cuma 1 macam dan saya gak bisa minum kopi. Sempet ragu untuk order tapi gak mau pergi dari situ karena tempatnya emang asik banget. Trus kemudian saya lihat tulisan gede-gede di list menu drink-nya. Tulisannya: BEWARE OF THOSE WHO DO NOT DRINK.

Respon saya: Oh.

Trus saya didatangi oleh waiter-nya. Dia nanya saya mau pesan apa?

Saya yang masih bingung, diam, sok-sok liat list minumannya dengan istilah yang saya juga gak tau apa. Trus katanya waiter itu, “Yang gak pake alkohol yang ini sama itu, mbak. Mau yang mana?”. Saya yang tadinya clueless jadi cerah seketika, terus ngeliatin muka mas-masnya sambil bilang, “Yang ini aja deh, mas”. Walaupun saya gak tau itu apa, tapi nurut aja kata mas-masnya yang bilang gak ada alkoholnya. Dan begitu pesanan saya sampai, ternyata itu yoghurt dipakein buah leci dan dicampur sama mint dan sedikit soda. Lumayan lah.

Benar kata orang-orang yah. Katanya semakin umur lo nambah dan pergaulan lo semakin besar, lo pasti akan bertemu dengan banyak jenis orang. Nah tempat ketemunya bisa macem-macem. Setidaknya dengan saya yang pakai jilbab ini, saya jadi dikenal dan semua orang memaklumi apa yang haq buat saya dan yang bathil untuk saya. Respek banget sama tempat makan ini. Terus terang, menurut saya, di Indonesia hal seperti ini belum jadi SOP yang semuanya harus patuhi walaupun MUI dimana-mana. Waktu itu saya dan teman-teman pernah lapar sekali dan berhenti di tempat makan satu-satunya disitu, tempat makan masakan Toraja. Begitu saya dan teman-teman masuk, waiter-nya lalu menyilakan untuk duduk dan mengambilkan menu. Ketika saya lihat menunya, isinya babi babi babi dan babi. Lucunya, si waiter ini gak bilang apa-apa sewaktu kita masuk. Mungkin dia takut kehilangan calon pembeli kali yah.

Hal seperti ini berbeda sekali dengan di luar negeri. Saya pernah menemani ayah saya konferensi ke negara-negara lain. Banyak sekali perbedaan yang dapat saya ambil dan saya merasa orang-orang luar itu lebih menghargai Muslim daripada di negara kita sendiri. Ada beberapa pengalaman yang mau saya bagi disini..

Perancis. Ini negara yang ‘katanya’ menolak Islam kan. Tapi ternyata tidak. Mereka mengijinkan Muslim masuk ke negaranya, hanya saja mereka melarang yang ‘garis keras’nya. Misal dari atribut-atribut keislaman sebisa mungkin jangan mencolok. Jilbab diperkenankan. Serunya Perancis ini, Muslimnya modis-modis tanpa melupakan syariat. Pernah saya jalan di salah satu Avenue-nya dan tiba-tiba ada yang menyapa “Assalamualaikum” di jalanan. Itu pengalaman yang betul-betul gak bisa dilupain sih. Beda sama orang-orang sini yang kalau ngucapin itu di jalanan dan gak tau siapa itu biasanya mang-mang atau tukang atau apalah mereka yang niatan awalnya ngegodain.

Barcelona. Ini! Ketika saya dan keluarga saya masuk ke salah satu restoran steak, ayah saya memesan steak sapi. Dan waiternya langsung bicara “jangan” karena sapinya dipotong tidak dengan mengucap BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. Dia fasih loh ngucapinnya. Trus adik saya bilang yaudah deh gak papa (buat mengetes dia), dan dia bersikeras gak mau ngejual steak sapi itu. Katanya “saya tahu anda semua Muslim, dan menjual makanan seperti itu kepada kalian saya bisa kena denda yang besar”. Iya, denda. Ternyata di negara-negara ini peraturannya sudah sedemikian kuatnya. Trus ayah saya bertanya jadi makanan apa yang bisa ia makan? Dijawab sama waiter-nya sambil menunjuk ke menu: ikan. Hanya ikan. Dan minumannya? Mineral water.

China. Ini negara yang buanyak banget babinya. Seriusan. Tapi muslimnya juga banyak. Kalau misalnya kalian-kalian ada kesempatan datang ke negara ini, jangan lupa bawa saos sambel, saos tomat, kecap manis, dan kecap asin yaa. Sachet-an aja. China ini kan terkenal sama minyak babinya. Semua makanan dia pakein minyak babi. Mau kuah ataupun goreng. Pernah waktu itu saya dan keluarga mau masuk ke dalam restoran karena ngelihat menu-menunya gak ada yang babi (dari luar). Belum sampe ke tempat duduknya, masih di depan restorannya, yang punya keluar dan mengusir kami. Iya, diusir. Katanya restorannya gak halal. Dan dia menyuruh kami ke ujung gang. Katanya itu restoran muslim. Nah di restoran muslim ini, mungkin karena mereka menghindari minyak yah, jadi semua masakannya direbus. Tapiiiii, jangan bayangin shabu-shabu kayak di Hanamasa gitu yah. Rebusan di China ini gak ada rasanya. Sama sekali. Betul-betul cuma direbus sama air mendidih doang yang pas dicobain gak ada rasanya, asin juga nggak. Abis dagingnya direbus, makannya dicelupin ke saos gak jelas rasanya. Betul-betul bisa kurus kalau di China. Hahahh. Oh dan satu lagi, makanan hotel. Kalau pagi biasanya dapet breakfast kan, gak ada tulisannya kalau itu babi atau digoreng pakai minyak babi. Hotel-hotel yang terletak di daerah Muslim sudah banyak yang menulis keterangan di menu buffet-nya, tapi mayoritas nggak. Pernah saya karena gak tau dan gak bisa nanya (gak ngerti bahasa inggris merekanya), saya ambil makanan macem-macem di satu piring. Trus saya dikejar sama chef-nya. Tanpa ba-bi-bu langsung piring saya diambil. Dia ambil piring baru dan diisikan sama dengan piring saya yang sebelumnya, tapi dikurangi beberapa jenis item. Kemudian piring tersebut diberikan kepada saya dan dengan bahasa tubuh dia menunjuk ke kepala saya dan kain yang ada di kepala saya. Dia bilang “Moslem”, trus dia menunjuk ke piring yang dia berikan tadi sambil mengacungkan jari jempolnya ke atas. Dan dia menunjuk piring yang saya ambil sebelumnya kemudian menggerakkan tangan kesana kemari mengisyaratkan yang lainnya gak boleh dimakan. Alhamdulillah banget.

Masih banyak lagi contohnya sebenarnya. Tapi intinya sama. Dengan mengenakan jilbab ini saya merasa lingkungan menjaga saya. Godaan gak dipungkiri pasti selalu ada. Namanya manusia, hasrat mencoba mencicip dll-nya pasti besar. Tapi sekali lagi, ada lingkungan yang menjaga akibat adanya identitas yang melekat di diri. Dan yang terlihat ya jilbab ini.

Alhamdulillah, saya sih ngerasanya begitu.

31 Oktober 2012
~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

2 thoughts on “Sekali Lagi

  1. ikut komen ya.. :D
    as inspiring as always, baca postingan2 di blog ini selalu bisa mengingatkan saya akan hal2 kecil dan sederhana, tapi bermakna

    baca postingan tentang jilbab ini, makin bikin saya yakin sama satu prinsip yg saya percaya, bahwa jika kita selalu berusaha untuk menghormati diri kita sendiri, maka Allah akan memberikan penghormatan yg lebih pada kita. As how you wrote it:

    “Dengan mengenakan jilbab ini kita dikenal. Semua orang tahu dan cenderung menghormati tentang apa-apa yang tidak-boleh-kita-makan/minum, tidak-boleh-kita-gunakan, atau yang tidak-boleh-kita-lakukan.”

    dari pengalaman kamu, karena kamu menghormati diri kamu dengan menutup aurat dan mengenakan jilbab, maka Allah memberikan penghormatan lebih dengan menjauhkan kamu dari makanan/minuman yg tidak halal ya.. Alhamdulillah banget

    A bit unfortunate buat kami2 yg laki2 tidak ada indikator yg bisa menunjukkan secara kasat mata kalau kami adalah muslim, tapi justru di situ tantangannya, bagaimana bisa menunjukkan identitas muslim dengan attitude. Semoga kita semua bisa menjadi muslim yg membanggakan..

    anyway, terimakasih sekali lagi untuk inspirasinya. Keep inspiring ya My..

    • iya, alhamdulillah berasa banget shr. Kayak rangkaian yang punya feedback, tapi feedbacknya ya lingkungan itu sendiri *jadi elektro*, hahaha.

      Terima kasih banyak sudah mampir dan ikutan komen, ditunggu komentar2 berikutnya yaa =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s