Tentang Interaksi

Kemarin pernah ada seminar club di kampus mengundang tokoh yang saya kagumi. Saya kebetulan sudah lebih dulu mengenal beliau karena beliau ini adalah om dari teman saya. Beliau adalah Om Anang Zaini Gani, seorang peneliti. Beliau menceritakan tentang penelitiannya yang sudah menginjak umur 52 tahun. Judulnya teori interaksi.

Kalau ada yang tahu mengenai “traveling salesman problem” atau yang biasa disingkat TSP pasti paham tentang permasalahan utamanya dan tantangannya. Om Anang ini membahas tentang teorinya yang digunakan untuk memecahkan masalah TSP ini. TSP merupakan salah satu aplikasi yang dapat digunakan dengan teori interaksi. Yang lebih utamanya adalah P-NP problem yang masuk dalam 7 MILLENIUM PROBLEMS dalam matemaika di seluruh dunia.

Saya tidak punya hak dan tidak akan bercerita detail tentang rumusan teorinya. Namun yang membuat saya tertarik adalah omongan om Anang yang menyatakan apabila terdapat satu matriks, walaupun ada angka yang sama-sama 10, perlu dilihat pula kanan kiri atas bawahnya. Walaupun sama-sama bernilai 10 namun apabila penjumlahan kolom dan barisnya tidak sama maka nilai 10 itu tidak akan sama dengan nilai 10 yang lain yang mungkin juga terdapat di dalam matriks tersebut. Pengaruh lingkungan itu penting.

Om Anang mengilustrasikannya seperti ini: misal ada anak remaja meminta uang kepada orang tuanya untuk nonton di bioskop. Bagaimana si orangtua percaya kalau uang yang diberikan untuk anaknya betul-betul digunakan untuk menonton di bioskop? Bagaimana kalau justru dipakai untuk membeli minuman keras, atau bermain perempuan, dan lain sebagainya?

Jawabannya cuma satu. Orang tua perlu mengetahui ‘nilai’ dari anak tersebut. Value. Om Anang percaya bahwa setiap orang punya value tersendiri. Itu yang membedakan manusia yang satu dengan manusia lainnya, semuanya unik. Nilai-nilai ini ditentukan oleh kemampuan interaksi. Interaksi yang terjadi bisa kemana saja, misal saya-saya, saya-ayah, saya-ibu, saya-guru, saya-Tuhan, dll. Dan menurut om Anang juga, stress itu hanya akan terjadi apabila variabel nilai tersebut berkurang satu atau diganggu, dimana keadaannya adalah kehilangan 1 pola interaksinya. Misalnya kehilangan orang yang kita sayangi.

Ternyata benar, karakter dari suatu makhluk hidup ditentukan oleh lingkungan sekitarnya. Itu dibuktikan oleh om Anang melalui teori interaksinya ini. Sebenarnya sayang sekali om Anang tidak ingin membuka penelitiannya secara teori dan pemikiran, karena menurutnya teori dan pemikiran sifatnya adalah filosofis, tidak dapat dibagi kesembarangan orang.

Saya selalu menyenangi mengobrol bareng om Anang ini.
Semoga sehat selalu ya, Om. :”””)))

Ah iya, masih utang traktiran kalo lulus. Hahaa.

Bandung, 21 September 2012
~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s