Live the Life to the Fullest

Bandung, 5 Agustus 2011. Jam 3 dini hari.

Sampai sekarang, sering banget bertanya-tanya dalam hati:

“Apa ya rasanya jadi dokter yang setiap harinya harus berhadapan dengan hidup-matinya orang lain?”

Melihat ayah saya yang setiap minggunya gak pernah absen dari operasi, kecil sampai besar, ESWL sampai transplantasi, pulang-pulang sampai rumah selalu tersenyum walaupun terlihat capek. Selalu memaksa mendengar cerita anak-anaknya ketika dirumah walaupun pekerjaan di rumah sakit membuat stress.

Pressure dilingkungan kayak gitu pasti gede banget ya. Walaupun saya gak berada di ‘ring 1’nya, tapi keseringan lihat file video-video operasi ayah saya ditambah lagi suka banget sama film-film yang mengangkat dokter dan rumah sakit sebagai inti ceritanya betul-betul semakin membuat bertanya-tanya: seperti apa sebenarnya?

Apalagi kalau ada adegan dimana si dokter punya semacam konflik batin di dirinya sendiri. Terus ketika di rumah, SWAP. Ganti deh jadi happy-mode dan ‘baik-baik aja’ ketika ditanya ‘gimana kerjaan hari ini?’.

Bayangin aja, konflik seperti itu bisa jadi dialami setiap hari. Antara keberanian melakukan tindakan juga keberanian untuk berhadapan ‘face-to-face’ terhadap keluarga pasien. Kata adik saya yang masih menempuh pendidikan dokter, ini ada mata kuliahnya sendiri. Setiap dokter diajarkan mataa kuliah EMPATI. Dan ada kode etik bahwa sesulit apapun itu, hukumnya adalah haram untuk menangis di depan keluarga pasien. Makanya ada kode etik juga kalau ada keluarga dokter yang sakit dan diharuskan dilakukan tindakan hidup-atau-mati gak boleh dilakukan oleh dokternya, harus oper ke koleganya.

Gila. Untung saya bukan dokter. Dokter yang cengeng gini gimana bisa berhadapan sama keluarga pasien. Saya rasa saya gak akan sanggup. Ngeliat muka keluarga pasien aja kadang sendu sendiri.

They, doctors, definitely have the biggest heart in the world.

Hari ini, saya menonton beberapa episode dari Scent of the Woman. Drama korea. Dan drama ini sukses meninggalkan kontemplasi besar dalam pikiran saya:

Apa yang akan lo lakukan jika lo hanya punya waktu 6 bulan untuk hidup? Apa yang akan lo lakukan untuk membuatnya berarti? Apa arti kebahagiaan? Apa yang akan lo lakukan untuk mewujudkan ‘live the life to the fullest?’

Menjadi dokter, keluarga dokter, pasien, maupun keluarga pasien pasti sama susahnya. Sama-sama memegang peranan penting. Dan selalu ada yang dikorbankan.

Percakapan jaman SMP dulu antara saya dan ayah:
“Pernah ada yang meninggal waktu ayah tanganin?”
“Pernah.”
“Sedih gak?”
“Hmm.. Sedih, pasti. Tapi ketika usaha sudah dilakukan semaksimal mungkin namun hasilnya gak sesuai harapan, cuma bisa ikhlas.”
“Emang gampang ya? Buat ikhlas?”
“Nggak. Setiap hari belajar. Setiap hari rasa ikhlas itu makin besar. Setiap pasien berbeda. Tapi yang mereka suka lupa, dokter itu bukan Tuhan. Kita bekerja dengan kapasitas masing2. Peningkatan quality of life, bukan menghidupkan orang.”

Quality of life. Hmmm… Itu tergantung dari kita memandang hidup ini seperti apa gak sih. Berkualitas atau tidak berkualitas, subjektif.

Live the life to the fullest. Ketika lo ngerasa waktu yang lo punya itu limited mungkin akan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Toh memang kenyataannya waktu kita emang limited. Sayangnya, sampai kapannya itu yang kita gak akan pernah tahu.

“Kita semua pura-pura sibuk. Tapi sebenarnya kita hanyalah orang-orang yang sedang menunggu.” – Kuntawiaji

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s