Let’s Call it a Day!!

Jakarta, Kamis 28 Juli 2012.

Hari ini, kamis 28 Juni 2012, boleh jadi merupakan hari ter-gak-banget sekaligus ter-iya-banget untuk saya.

Diawali dengan kekesalan yang teramat sangat kepada salah satu travel langganan pada pagi hari. Call centre dari travel salah ngasih jam keberangkatan. Mas2 call centre-nya bilang kalau jam berangkatnya adalah jam 7.45 WIB. Saya datang 7.43 WIB, dan apa an terjadi sodara-sodara? Travelnya udah berangkat. Iya, si mas-nya salah ngasih jadwal keberangkatan. Dan mbak di receptionist tidak banyak membantu. Dia menyalahkan call centre yang katanya “mngkin masih anak baru, mbak. Mohon maaf. Tapi berikutnya kita ada lagi kok jam 8.40. Gimana mbak kalau jam segitu?”. Saya yang buru-buru, kesel banget mendengar respon seperti ini, tapi ya saya bisa apa juga. Lagipula udah niat puasa hari ini jadi tahan aja kesel dan marahnya. Yowes, nrimo.

Travel akhirnya berangkat jam 8.40. Sampai di Pulo Mas jam stengah 12 siang. Sepanjang perjalanan gak enak banget. Di deretan belakang saya, duduk seorang nenek bersama anak perempuannya serta 2 orang cucunya. Cucu-cucunya gak bisa diam, dan mereka menendang-nendang kursi saya. Mual? Jelas.

Lega banget ketika travel sampai ke pool-nya. Akhirnya bisa turun juga. Kemudian saya menuju La Piazza karena janjian sama orang disana. Sampai La Piazza jam 12 siang. Janjiannya skitar jam setengah 2 siang.
Sekitar jam 1 siang, orang ini BBM, minta maaf karena gak bisa datang jam 2 siang karena ada urusan mendadak. Dia menyarankan untuk bertemu jam 8 malam di tempat yang sama. Saat itu saya berpikir, kalau pulang dulu pasti saya malas keluar rumah lagi. Jakarta panas banget siang ini. Saya melirik jam, sudah jam stengah 2 siang. Saya memutuskan untuk menunggu saja sambil melihat-lihat sekeliling.

Setelah sholat dan berlama-lama di mushola, saya keluar untuk ke WC. Di WC ini ternyata saluran untuk *maaf* cebok itu rusak jadinya air bersih itu keluarnya gak beraturan, membasahi jeans yang saya pakai. Basahnya itu gak beraturan, tapi basah banget. Antara kayak orang ngompol atau emang kesiram sengaja. Warna jeans itu coklat muda. Bukan warna yang akan terlihat bagus bila basah. Bingung. Malu. Parah sih ini.

Saya berpikir, harus banget cari tempat yang dingin trus gak diperhatikan banyak orang dan itu minimal selama 2 jam. Ga mungkin saya masuk ke cafe atau restoran karena kan harus pesan makan/minum sedangkan saya puasa. Akhirnya saya memutuskan satu tempat: BIOSKOP! Brilian kan? Hahahaa.

Jam 2 lewat saya beli tiketnya. Saya memutuskan untuk menonton ‘Di Timur Matahari’ dibandingkan dengan ‘Mama Minta Pulsa’, ‘Bangkit Dari Kubur’ dan ‘Ambilkan Bulan, Bu’. Selain karena saya suka film-film buatan om Ari Sihasale, DTM ini paling cepat mulainya: jam setengah 3. Saya butuh masuk dalam ruangan ini secepatnya. Supaya si celana juga cepat keringnya.

Ketika beli tiketnya, mbak2 tiketing itu meminta saya pilih tempat duduknya. Saya lihat, teater itu masih kosong melompong. Gak ada tanda bulatan merah sama sekali yang menandakan sudah ada orang yang memesan. Saya beli 1 tiket akhirnya. Kemudian duduk membelakangi pintu masuk dan asik dengan buku saya. Saya menyengajakan untuk datang terlambat, karena takut. Iyalah ya, sendirian di satu bioskop gede. Nonton impulsif sendirian tanpa teman yang dikenal, mungkin sering, tapi sendirian satu bioskop? Sedih sih pasti.

Tapi karena butuh, ya mau gimana lagi.

Ini nih, tiket masuk yang bikin shock waktu keluar teater :”)

Saya telat 5 menit kayaknya. Pintu di jaga oleh 2 orang. Satu laki-laki dan satu perempuan. Melihat nomor tiket saya, mereka berkata:

Mbak: eh ini mau masuk.
Mas: *merobektiket* mbak (bilang ke saya), nanti kalau tempatnya udah ada yang ngisi, mbak boleh suruh dia pindah.
Saya: *bingung, lah bukannya cuma saya ya?*
Mbak: nomor E9 itu. Ada orangnya tadii. Udah ada yang dudukin.
Mas: wah mbak (bilang ke saya), mbak pilih aja deh tempat duduk yang paling nyaman buat mbak. Terserah mbak aja mau duduk dimana yah.
Saya: *makin bingung, tapi males nanya, langsung iya-in aja biar cepet*

Benar, ketika saya masuk, teaternya sudah banyak orang. Film sudah mulai. Dan lampu sudah dimatikan. Posisi E9 itu sebenarnya strategis banget. Ditengah-tengah. Nyaman deh. Tapi karena gelap dan tulisannya gak keliatan, saya ikutin aja saran mas-nya. Cari yang nyaman, dalam hal ini: yang paling dekat dan paling wajar gambarnya untuk nonton. Saya masih berpikir mungkin karena ini masih musim liburan jadi banyak anak kecil yang ikutan nonton.

Cerita tentang filmnya di postingan terpisah yaa..

Ketika filmnya selesai dan lampu mulai menyala, saya baru bisa memperhatikan sekeliling. Banyak anak kecil. Mungkin karena masih liburan sekolah pikir saya makanya anak kecilnya banyak. Kemudian mata saya melanjutkan melihat sekeliling lagi, dan menemukan banyak orang papua juga yang nonton.

“Rambut keriting. Kulit hitam.” — Kalau kata lagunya.

Saya menunggu sampai creditnya selesai baru keluar dari teaternya.

Begitu saya keluar, kaget. Ternyata seluruh pemain Di Timur Matahari itu berbaris rapih di pintu keluarnya. Iya, BARIS. Sambil menyanyikan lagu-lagu film tersebut. Shock. Banget. Semua pemainnya. Dari mulai anak-anak kecil itu, sampai Mbak Laura Basuki, Mas Lukman Sardi, Om Ari Sihasale, sampai Tante Nia Zulkarnaen. Ada!

Premier? Yang pasti bukan, karena film ini sudah tayang sejak tanggal 14 Juni dan saya menonton tanggal 28 Juni. Mungkin nonton bareng kali ya? Tapi masih heran kenapa teater itu kosong sewaktu saya pesan dan si mbak-nya gak bilang apa-apa.

“Terima kasih yaa sudah menonton” — Lukman Sardi

“Kasih tahu teman-teman yang lain yaa. Supaya mereka tahu bahwa kita masih punya Papua dan keadaannya masih jauhhh dibanding Jawa” — Nia Zulkarnaen

Yeah. Let’s call it a day! Lucky me! Alhamdulillah. Walaupun apes di awal, ternyata akhirnya menyenangkan. Tangan gemeteran parah waktu minta foto bareng akibat masih shock keluar teater ketemu semua pemainnya.

Pengalaman begini, langka.

Gading, 28 Juni 2012

Dengan pemain dan tim Di Timur Matahari

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s