Bandung, 2 Juni 2012

Malam ini, sabtu 2 juni 2012, timeline twitter saya dipenuhi oleh berita pendukung persib yang biasa dikenal dengan nama viking, memukul kaca mobil atau ngebuat penyok mobil-mobil berplat B yang ada di Bandung. Terdapat laporan dari ujung berung, sukajadi, wastu kencana, dll. Berita ini pula yang menunda kepulangan saya dari lembang ke bandung sehabis menghadiri acara pernikahan anak dari dosen pembimbing. Yang seharusnya bisa sampai kosan jam 8 malem, ditunda sampai jam 9 malam.

Resah? Iya.

Setelah Bandung sebelumnya diramaikan oleh aksi dari orang-orang yang mengatasnamakan diri mereka sebagai geng motor, sekarang oleh aksi-aksi perusakan semacam ini. Miris.

Ini bukan perang antar kota. Gak semua kendaraan berplat B itu isinya orang Jakarta dan gak semua kendaraan berplat D itu isinya orang Bandung. Gak semua orang Jakarta jadi the jak dan gak semua urang Bandung itu viking. Itu yang saya percaya. Selalu saja saya bertemu dengan orang Jakarta yang masa bodoh dengan pertandingan Persija juga orang Bandung yang gak peduli Persib dapat brapa skor di pertandingannya.

Entah menurut anda, tapi menurut saya, aksi ini pointless.

Kalaupun mau demo sekalian, ini bisa dikatakan gak tepat sasaran.

Ini bukan perang. Bukan perang antara penduduk Jakarta dan Bandung. Lagian buat apa sih? Pride? Gengsi? Atau panasan?

Sebagai orang Jakarta yang ke Bandung untuk bersekolah, Bandung memang berubah drastis dalam kurun waktu 4 tahun ini. Macet, pasti. Volume kendaraan yang bertambah, sangat. Keamanan yang menurun drastis, iya. Yang berkembang secara positif bagi saya adalah semakin banyaknya tempat makan dan fasilitas-fasilitas untuk anak kosan, misalnya tempat cuci-laundry, foto kopi, mini market, dll.

Lidi akan menjadi sangat kuat apabila menjadi sapu lidi. Menjadi berkelompok. Jika hanya satu, ia akan menjadi mudah patah. Rapuh. Mungkin sama analoginya dengan aksi ini. Ketika berkelompok, menjadi sangat berani. Gak peduli apa dan siapa. Berpikir berdasarkan keinginan kelompok tanpa peduli esensi dibalik itu semua.

Akan selalu ada 2 kelompok orang dalam masyarakat. Si minoritas dan si mayoritas. Si mayoritas, karena menang dalam hal jumlah, maka dia mutlak mempunyai power yang lebih banyak dari pada si minoritas. Tapi percaya deh, gak selamanya mayoritas akan menjadi mayoritas. Akan ada masa dimana kalian yang mayoritas menjadi minoritas. Hanya perkara waktu dan tempat. Dan ketika kalian menjadi minoritas, kalian akan menjadi lemah. Dan berusaha untuk masuk jadi mayoritas.

Dalam hal ini, di Bandung, kalian viking mungkin menjadi mayoritas sehingga mempunyai power. Memang ini daerah kalian. Si pendatang gak punya kuasa yang cukup untuk menandingi kalian. Tapi gak selamanya perbuatan itu dibenarkan bukan? Selalu ada otoritas yang lebih tinggi.

My point is, gak ada gunanya nunjukin power mayoritas yang besar di daerah mayoritas. Beda perkara kalau power itu ditunjukkan oleh kelompok minoritas di daerah mayoritas. Perbuatan kelompok bisa berdampak fatal bagi siapa siapa saja anggota kelompok itu walaupun mereka tersebar di berbagai pelosok. Ingat dulu WTC di bom oleh teroris yang mengatasnamakan Islam dan berdampak bagi seluruh muslim di seluruh dunia? Jangan lupakan juga bahwa ada penduduk bandung yang ngebela-belain tiap pagi naik kereta bandung-jakarta untuk mencari sesuap nasi.

Yah, hanya ingin mengingatkan untuk selalu hati-hati dan waspada. Gak selamanya hidup itu di atas kan wahai kalian yang punya power? :)

Semoga bandung kembali menjadi kota yang aman tentram damai seperti pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota ini.

Cheers.
~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s