Angkot Diponegoro-Balubur

Kemarin malam, saya naik angkot Cicaheum-Ledeng dari Diponegoro ke Balubur. Penumpang dalam angkot tersebut ketika saya naik hanya 4 orang. 3 duduk di belakang, dan 1 org di depan. 3 yang di belakang itu perempuan satu dan laki-lakinya 2.

Perjalanan hari itu nampak biasa saja, sampai ke tiga org yg di belakang itu turun di lampu merah Dago. Sepertinya mereka berteman, turun dalam 1 tempat yang sama, dan ada 1 orang yang ditugaskan untuk membayar.

Si pak Supir menghitung uangnya dan terjadilah percakapan ini:
“Darimana?”
“Dari Suci”
“Kirang ieu, dua setengahan”
“SAYA DUA KALI BOLAK BALIK SUCI-DAGO KE SINI BAYARNYA CUMA 2RIBU”

Sontak si supirnya bengong. Si penumpang jauh lebih galak dari dia. Dan ditanya seperti itu saja jawabnya super nyolot. Sepanjang sisa perjalanan saya daro Dago-Balubur, si pak Supir mengomel dan ngedumel. Kasihan.

Katanya:
“Atuh da wajar kalo supir mah minta lebih. Ini juga setorannya udah kurang. Mun teu boga duit sok bilang. Lebih resep kitu urang mah. Gak usah sok2 belagak bicara kayak kitu.”

Saya diam saja.
Dan dia melanjutkan:
“Pendatang itu mah, pasti. Lamun orang Bandung asli mah pasti gak gitu”

Saya langsung terkenang ke pengalaman bekerja sama dengan para pedagang jaman2nya OHU dulu. Saya sempat marah kepada provider booth karena mereka bersikap tidak profesional dan meng’gampang’kan pedagang. Listrik beberapa kali mati, meja dan kursi kurang jumlahnya, dan banyak hal lainnya yang tidak sesuai kontrak. Dan pedagang-pedagang itu ngomel, ke saya.

Kata mereka,
“Jangan karena kami orang kecil makanya kalian bisa sembarangan. Harusnya kalian dengan intelektual yang lebih tinggi dari kami bisa bersikap lebih profesional. Saya bukannya marahin adek. Tapi tolong, saya cuman kenal adek disini, jadi tolonglah adek sampaikan ke panitia yang mengurus masalah ini.”

Pedih.
Walaupun hubungan saya masih super baik dengan pedagang-pedagang ini sampai mereka memberikan saya bonus2 makanan dan minuman, tetap saja ada rasa malu dalam hati.
Mungkin sama kasusnya dengan si supir angkot itu. Dia sama sekali tidak mengharapkan jawaban seperti itu dari si penumpang. Dan kaget maksimal ketika si penumpang bicara dengan nada membentak.

Kalau ibu saya pasti udah bilang,
“Culangung kamu! Gak sopan!” Atau bahkan bisa keluar kata ‘kurang ajar’.

Yah, itulah. Mungkin supir juga salah. Tapi seharusnya kata2 seperti itu gak keluar. Seharusnya komunikasi bisa dilakukan secara baik-baik. Seharusnya sebagai kaum intelek yang mengenyam bangku pendidikan bisa lebih bijak menghadapi situasi seperti itu.

Semoga saya selalu ingat untuk mengucapkan terima kasih ke para supir angkot. Jasamu tiada tara lah pokoknya. #angkotrider

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s