[Heart Says] Sabar dan Syukur

Seminggu ini pikiran saya dipenuhi dengan hal-hal random. Hal-hal yang sesungguhnya tidak masuk dalam kategori ‘urgent’ untuk dipikirkan saat ini. Tapi hal-hal ini tampak jauh lebih menarik daripada tesis yang begitu mendesak. Jauh lebih menarik untuk direnungkan. Dan apabila sudah masuk fasa perenungan, ini bisa berjam-jam lamanya.

Akhir-akhir ini, hal-hal random itu didominasi oleh kategori “what if”. Bukan hal-hal yang sifatnya penyesalan. Lebih kepada pemikiran akan jadi apa saya nantinya. Iya, sindrom seperti ini pernah saya alami sebelumnya. Dulu, jaman-jamannya ngerjain TA. Sekarang, masa itu berulang..

Manusia itu sifatnya sombong. Iya, semua manusia kodratnya sombong. Pongah. Jumawa. Pikiran saya selama seminggu terakhir ini adalah: apa yang akan terjadi ketika pada pagi hari kita tidak bisa membuka mata. Apa yang akan kita lakukan hari ini, sebagai hari terakhir di dunia? Kadang kita terlalu percaya diri bahwa “semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya”. Bahwa “esok kita pasti akan membuka mata lagi”. Bahwa kita ‘pasti’ hidup besok.

Entah, kalau sudah memikirkan ini, rasanya gak mau jauh-jauh dari sejadah. Gak mau jauh-jauh dari keluarga. Dan air mata menumpuk di ujung mata.

Semoga bila sudah waktunya, akan ikhlas dan dapat mengucap 2 kalimat syahadat.

Teman baik saya, Qohar, bertanya suatu malam kepada saya:
“mana yang lebih penting, my? Sabar atau syukur?”

Menurut saya gak ada yang lebih penting. Dua-duanya sama2 penting. Karena dengan selalu berpikiran positif atau bersyukur semuanya terasa mudah.

Kata dia, bersyukur lebih penting daripada bersabar. Analoginya, ada 2 orang yang sama-sama sakit kaki. Orang yang bersabar akan berkata “astaghfirullah, kenapa sih harus sakit kaki? Semoga cepat disembuhkan” dan orang yang bersyukur akan berkata “alhamdulillah yang sakit hanya kaki, coba kalau satu badan, pasti yang tidak bisa saya kerjakan makin banyak”. Sederhananya, menurut Qohar, orang yang bersyukur pasti sabar, namun orang yang sabar belum tentu bersyukur.

Kembali lagi ke masalah sudut pandang.
Alhamdulillah saya masih diijinkan untuk melihat dunia sampai saat ini. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang hebat akademis selagi saya kuliah. Alhamdulillah tesis ini belum selesai sehingga saya masih punya waktu untuk mengobrol dengan banyak warga dan masih menyandang status ‘mahasiswa’.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s