Bahagia Itu Sederhana

Hari ini ibu dan bapak saya datang ke Bandung. Walaupun anaknya kuliah dan tinggal sudah lebih dari 4 tahun di Bandung, jumlah kedatangan ibu dan bapak saya ke Bandung bisa dihitung dengan satu tangan saja, yang berarti kurang dari 5 jari, kurang dari 5x kunjungan.

Pagi ini saya menjemput ibu saya di Rumah Sakit Hasan Sadikin. Gak ada yang sakit alhamdulillah. Hanya saja ayah saya dipanggil untuk menjadi asessor untuk mengakreditasi Departemen Bedah Urologinya FK Unpad yang ada di RSHS atas nama FKUI. Asessor ini apa sebenarnya saya juga kurang paham. Mungkin sederhananya sebagai peninjau kali yah?

Proses penilaian ini katanya sih berlangsung dari jam setengah 9 pagi makanya ayah saya sudah stand by disana dari pagi. Dan karena ibu saya gak tahu jalanan Bandung, jadi saya pergi menjemput ke RSHS.

Saya selalu menyukai naik angkot pagi-pagi di hari sabtu dan minggu (kalau saya sedang di Bandung). Biasanya yang duduk di samping pak supir adalah anggota keluarganya. Benar saja, ketika saya naik angkot Cisitu-Tegalega sebelum melanjutkan naik Caheum-Ciroyom, yang duduk di samping pak supir adalah anaknya. Masih kecil. Mungkin sekitar 7 atau 8 tahun. Si anak tampak senang sekali ikut ayahnya. Mungkin bagi dia ini bentuk lain tamasya keliling kota. Si ayah juga dengan sabar menunjuki dan menjelaskan tempat-tempa yang akan mereka kunjungi. Ya, seperti kunjungan wisata, dengan si ayah sebagai guidenya. Bentuk kebersamaan juga menurut saya. Dan ya, mereka bahagia. Terlihat dengan jelas di muka si ayah dan si anak. Bahkan mereka terkadang bernyanyi bersama. Riang sekali.

Saya jadi teringat cerita teman saya, Kiki Rizki, sewaktu saya berada di Singapura kemarin. Katanya Kiki, banyak supir taksi itu sebenarnya bukan supir taksi. Mereka mengambil pekerjaan sebagai supir taksi sebagai pekerjaan sampingan, side job. Pagi-sore menjadi pegawai kantoran, malam menjadi supir taksi. Saya sungguh heran. Heran dan bertanya-tanya apakah mereka tidak capek dan butuh istirahat? Kata Kiki, mereka melakukan itu karena butuh mobil. Pajak mobil di Singapura itu sangat mahal. Kalau pun punya mobil, ada distrik-distriknya. Misal, mobil A gak boleh ke daerah B atau mobil plat dengar warna hitam hanya boleh terlihat di jalan pada hari ganjil (senin, rabu, jumat). Dengan menjadi supir taksi, mereka bebas menggunakan mobil itu kemanapun dan kapanpun. Syaratnya hanya harus menyetor 100SGD per harinya. Itu fixed price. Mau menggunakan dari pagi-malam pun tetap saja 100SGD. Nah biasanya taksi-taksi ini mereka pakai untuk mengajak keluarga jalan-jalan. Mereka puas, hanya dengan taksi. Sesederhana itu.

Hari ini saya kembali diingatkan, bahwa bahagia itu benar-benar sederhana. Selama kita masih bisa mensyukuri apa yang ada. Saya bersyukur hari ini dapat menemani ibu saya jalan-jalan, makan-makan, jajan, ngobrol, ketawa-ketawa, cerita banyak hal. Saya bersyukur hari ini mereka berdua, ayah ibu saya, datang ke Bandung. Saya bersyukur hari ini saya tidur di kamar hotel. Saya bersyukur saat ini jam 21.30 WIB dan barusan ayah saya menelepon kalau rapatnya baru selesai dan dilanjutkan besok pagi lagi. Tapi katanya, mau makan dulu karena disana gak ada makan malam (harusnya dari RSHSnya nyediain makan malam dong -__-” kasian peninjaunya kelaperan malem-malem).

Dan masih banyakkk yang harus disyukuri.

Alhamdulillah.
Iya, bahagia itu memang benar-benar sederhana.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s