Ekspedisi Batujaya: Sebuah Prologue

Pedagang pisang berjualan pisang.
Pedagang tepung berjualan tepung.
Pedagang minyak berjualan minyak.
Dan mereka tidak pernah marah ketika apa yang mereka jual-belikan menjadi “pisang goreng”.

Itu adalah tulisan yang terdapat pada slide kuliah pada hari selasa yang lalu. Kuliah ini diadakan khusus dengan tema tentang Batujaya. Karena ini pula, dipanggil berbagai macam ahli yang akan mendukung ekspedisi Batujaya yang rencananya dilaksanakan pada tanggal 17 April mendatang.

Satu kata:

EXCITED!!

Seriusan saya baru kali ini hadir dalam satu ruang kuliah dengan berbagai macam ahli dari berbagai macam jurusan, dan mereka ikutan bicara. Semacam diskusi terbuka. Masing-masing dari mereka menjelaskan kondisi daerah Batujaya ini dalam ‘kacamata’ keilmuan mereka. Ada yang menjelaskan dari sisi geologi, geodesi, tata kota, arsitektur, sejarah, geografi, bahkan filsafat.

Dan melihat mereka berdiskusi dan berdebat kecil tentang satu hal yang sama namun dari kacamata yang berbeda itu menarik. Sangat.

Jadi apa dan dimana Batujaya itu?

Batujaya adalah satu kawasan percandian yang terdapat di Karawang Utara, diyakini sebagai peninggalan kerajaan Tarumanegara sebelum mereka pindah ke Bogor. Sebelum kerajaan Tarumanegara pindah ke Bogor, daerah kawasan percandian Batujaya ini menjadi pusat perdagangan kerajaan. Namun karena adanya pergeseran laut sepanjang 10 km maka kompleks ini sudah tidak menjadi pusat perdagangan karena sulit mengangkut barang. Akhirnya kerajaan Tarumanegara pun kembali ke pusat pemerintahannya yang berada di kota Bogor dan terjadi konflik antara ‘sunda’ dan ‘galuh’. Yang kami teliti? Situs peninggalan kerajaan ini dari sisi filsafatnya.

Seperti kompleks-kompleks situs yang lainnya, situs ini pun tidak terurus dan sedikit orang yang mau menelitinya. Ketika peneliti meneliti situs ini, mereka cenderung ‘diam’ karena tidak rela bila orang-orang tahu tentang keberadaan situs ini jika mereka belum meneliti seluruhnya.

Sebait kata pengantar pada baris atas tersebut memberi pesan bahwa untuk sebuah situs harus ada yang banyak meneliti dan dari berbagai keilmuan. Seperti pedagang pisang yang tidak marah pisangnya dibuat ‘pisang goreng’, maka pedagang tepung pun tidak boleh marah ketika tepung tersebut digunakan untuk ‘membungkus’ pisang sehingga menjadi pisang goreng. Ilmu pun demikian. Tidak boleh dimakan sendiri katanya.

Dan ekspedisi nanti akan berisi 26 orang dari berbagai macam keilmuan. Pasti akan seru sekali!

17 April 2012 nanti saya akan menjadi Indiana Jones versi cewek dalam sehari. Hahaha. Mari berekspedisi!!!! Can’t wait!

~p.r.p.l.p.h.r.z
Ps: nantikan reportasenya yaa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s