Paradigma.

Lagi dan lagi tentang pola pikir.

Hari ini seharusnya saya mengikuti kuliah Filsafat Seni di Gedung Kuliah Magister Seni Rupa. Alih-alih mengikuti kuliah, saya diarahkan ke Aula Barat untuk mengikuti Seminar Seni Rupa dan Kebudayaan “A.D. Pirous dan Manfaat Seni untuk Indonesia”.

Kemarin malam, saya melakukan pembicaraan via YM dengan teman saya di Korea, @yonnyseptian. Dan dia bertanya,

Jadi, udah ketemu passion lo apa, My?

Saat ditanya seperti itu saya menjawab,

Yang jelas sih bukan kantoran atau researcher, Yon. Gw suka ngomong sama orang, tapi kayaknya kerjaan gw nantinya harus di outdoor deh. Masuk ruangan tertutup gitu sering ngerasa tertekan. Hahaha.

Ini gak bercanda loh ya, masuk lab itu bikin tertekan. Bukan cuma lab aja, masuk ruangan yang kondisinya tertutup semuanya tanpa ada jendela yang ngebuka ke luar itu bisa membuat saya tertekan. Gak kebayang kalau nanti beneran ngantor..

Ikut seminar ini semakin mengukuhkan passion saya. Saya rasa passion saya adalah segala hal yang berhubungan dengan manusia dan budayanya. Entah kenapa saya tidak tertarik kepada teknologi setertarik saya kepada budaya manusia yang menciptakannya.

Teknologi adalah tools.

bagi mereka yang percaya.

Di seminar ini pula saya bertemu dengan seorang Guru Besar ITB yang berasal dari jurusan ‘gado-gado’ karena seumur hidupnya dia pernah mengambil kuliah Teknik Mesin, Teknik Industri, Manajemen, dan akhirnya meraih nama Guru Besar dalam bidang Seni Rupa. Dia mengatakan bahwa Seni adalah suatu hal yang sangat sederhana sekaligus sulit karena memakai kata ‘kejujuran’ dalam setiap nafasnya. Dia menemukan orang-orang yang melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang hanya dari orang Seni Rupa.

Ah, sejujurnya saya merasa seperti ini.

Di seminar ini saya juga bertemu dengan sahabat saya, anak Seni Grafis 2005 ITB. Semacam temu kangen singkat tapi selalu membekas dan menginspirasi. Ketika saya menceritakan ketertarikan saya pada dunia Seni Rupa, dia mengatakan,

Seni itu seperti memanusiakan manusia ya, My? Dia seperti membangkitkan sisi humanis dari diri kita.

Saya sangat sepakat. Saya tidak tahu sejak kapan ketertarikan saya terhadap seni dan kebudayaan ini menjadi jelas. Mungkin setelah bertemu dia, atau mungkin sebelum bertemu dia. Saya tidak tahu pasti.

Belajar seni ini selalu membuat jantung saya berdebar-debar setelahnya. Seperti diberi obat pemacu jantung. Seperti perempuan yang deg-degan mau di apelin.

Ah, mungkin ini terlalu berlebihan. Tapi muka saya selalu sumringah setiap habis ngobrol dan kuliah tentang seni dan budaya.

Saya jatuh cinta.
Dan saya akan sangat tidak rela jikalau ITB melepaskan FSRD-nya.

~p.r.p.l.p.h.r.z
tulisan ini ada di draft henpon saya. tertanggal 20 maret 2012.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s