“Kamu tuh cocok tau jadi dosen”

Itu yang dikatakan oleh teman baik saya suatu waktu. Dia bertanya, setelah saya lulus mau ngapain. Lanjut sekolah lagi atau tidak. Kenapa menolak tawaran untuk PhD ke Perancis padahal kalau di-oke-in bisa langsung berangkat. Saya menjawab, saya mau kerja. Mau tahu lingkungan industri seperti apa. Saat ini perasaan saya untuk sekolah itu: capek. Senang mengikuti kuliah, ujian bisa, tapi gak suka nge-lab. Lagipula orangtua sudah menyuruh supaya saya pulang, tinggal, dan kerja di Jakarta. Kemudian dia bertanya lagi mau kerja dimana, di tempat seperti apa, pekerjaan macam apa yang saya mau.

Kemudian tercetuslah perkataan itu..
“Kamu tuh cocok tau jadi dosen. Udah jadi dosen aja, my.”

Dosen.
Pengajar dan pendidik sekaligus.
Saya berminat, tapi tidak untuk saat ini.
Masih banyak hal yang mau saya coba, masih mau eksplorasi ke banyak bagian.

Tapi kalau boleh berimajinasi tentang si saya yang jadi dosen inginnya menjadi dosen yang tidak kaku. Harus bisa menjadi pengayom dan penyambung lidah mahasiswanya. Harus mau juga belajar dari mahasiswa. Harus mau berdiskusi dan kompromi. Saya mau membuat suasana kelas seperti kelas yang saya ikuti saat ini di jurusan Seni Rupa (saya masih Teknik Elektro kok, tenang saja). Kuliah seni ini, seidealnya bayangan kelas dan dosen versi saya. Sungguh open mind. Dan diskusi mengalir lancar. Senioritas tetap ada, tapi dosen hanya sebagai “orang yang kebetulan tahu lebih dulu dan merasakan lebih dulu” bukan orang yang segala tahu. Oh ya, satu lagi. Akan ada kuliah lapangan. Dan bulan depan untuk mata kuliah ini, kuliah lapangan saya ke situs peninggalan kerajaan Tarumanegara di Batujaya kabupaten Karawang. Sooo excited.

Ingin ngebuat mahasiswa yang nantinya mengikuti kuliah saya ketika kuliah selesai selalu keluar kelas dengan hati yang berdebar-debar karena senang. Perasaan suka cita sama seperti yang saya rasakan ketika mengikuti kuliah ini. Keluar kelas dengan senyum mengembang karena terpuaskan semua rasa ingin tahu. Dan kata teman-teman elektro saya yang lain, muka saya berbinar-binar. Gak mau bolos sehari pun karena akan merasa rugi, rugi karena gak mendengar cerita dan mendapatkan pelajaran seru setiap harinya. Kelas dan kurikulum seperti itu lah yang nantinya akan saya bangun ketika beneran jadi dosen. Rasanya tidak akan sesulit itu untuk membuat lingkungan seperti ini, karena saya tahu persis rasanya seperti apa. Nantinya mungkin metodenya yang akan diubah.

Jadi mau menjadi dosen? Mungkin. Siapa tahu nanti. Tapi mata kuliah apa yang akan saya ajar ya? Rasanya bukan yang berhubungan dengan keteknikan deh. Hahahaa..

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s