Daniel a.k.a Kang Dadan

Ada satu pembicaraan yang mau saya bagi. Ini terjadi 2 hari yang lalu. Hari Sabtu, siang sekitar jam setengah 1.

Saya bertemu dengan bule ini di Kelapa Gading. Kenalan. Dan katanya namanya Daniel. Warga negara Inggris, dari kota Manchester. Umurnya sekitar 28 tahun. Hidung mancung, matanya berwarna coklat jernih.

Yang menarik disini adalah saat saya bertemu dengan dia, dia mengenakan baju batik berwarna merah. Setelah ngobrol, saya baru tau kalau dia baru 4 bulan di Indonesia. Mengajar sebagai guru bahasa Inggris tapi belajar juga tentang sejarah dan perpolitikan bangsa Indonesia. Daniel ini mengingatkan saya dengan guru bahasa Inggris waktu saya les di Bandung. Yang satu orang Washington, satunya orang Hawaii. Seingat saya, saya pernah juga menceritakan guru saya itu di blog ini tapi karena ngetiknya pake HP jadi gak bisa mencari postingan saya yang dulu. Kemiripan yang terjadi antara mereka bertiga adalah mereka sama-sama bilang,

I fit in everything that Indonesia has.

dan mereka gak mau kembal ke negaranya. Daniel ini bilang kalau negara dan kotanya terrible. Guru saya yang orang Hawaii itu juga pernah bilang “saya heran kenapa masih banyak orang yang mau liburan ke Hawaii. Kalian tau? Hawaii itu penuuhhhhh dengan orang-orang sampai kalian tidak bisa bernapas. Pantai kalian jauh lebih indah.”

Daniel saat ini sedang belajar kebudayaan Indonesia. Dia mulai mencari kemiripan penduduk satu suku. Tapi, dia takjub sekali dengan kenyataan bahwa Indonesia itu beragam. Tebakan dia bahkan saya ini orang Padang padahal bukan dan sejauh yang saya tau saya tidak ada keturunan Padang. Ini yang membuat Indonesia menjadi menarik dimatanya.

Setelah satu jam, masing-masing dari kami pamit dan mengucapkan terima kasih. Saya kembali dibuat takjub dengan kenyataan bahwa dia gak mau dipanggil ‘Daniel’ tapi maunya dipanggil ‘Kang Dadan’. Ini lucu banget ketika bule ini ingin dipanggil dengan sebutan ‘Kang’. Aneh.

Kemudian saya menjadi ingat perkataan dosen saya bahwa sewaktu dia pergi ke Belanda dengan niatan untuk bertemu professor ternyata professor tersebut beserta 6 orang temannya yang lain pergi ke Indonesia dan masing-masing professor itu membawa 30 murid Ph.D untuk melakukan riset di Indonesia. Semua hal tentang Indonesia diteliti oleh mereka. Dari mulai sistem perairan dan irigasi, sistem pernikahan, rumah adat, subak, dll dst dsb.

Kemudian ada lagi temannya ayah saya yang merupakan professor di Jerman. Dia mempunyai museum Asmat yang diklaim terbesar di dunia bahkan Indonesia pun kalah besar dan lengkap. Setahun minimal 2 kali dia pergi dan tinggal dengan suku Asmat selama 2 minggu per kunjungan. Masyarakat sana menerima dia dengan senang hati. Museumnya di Moenchen Gladbach.

Jangan tunggu sampai orang lain yang memaknai budaya kita.

Itu benar. Rasanya jleb banget ketika mereka tahu lebih banyak tentang kita. Walaupun kembali lagi bahwa yang namanya budaya itu tidak bisa dijadikan hak milik. Budaya adalah manusia. Manusia adalah budaya. Dimana pun kita menetap, disitulah asimilasi budaya akan terjadi. Kita yang menjadikan Malaysia dengan sebutan ‘saudara serumpun’ itu pun tidak bijak karena mereka hanya serumpun dengan orang Melayu saja yang mana terdapat di Riau dan Kepulauan Riau. Apakah mereka serumpun dengan masyarakat di Papua? Tidak.

Itulah sebabnya mengapa kita harus mempelajari budaya sampai ke akarnya, sampai ke filosofinya. Bukan hanya dengan anggapan ‘sudah dari sananya’ atau ‘biasanya juga begini’. Walaupun tradisi adalah budaya, tapi budaya bukanlah tradisi. Tradisi adalah bagian kecil dari budaya.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s