Sakit hati kah?

Ibu saya pernah bilang,

Jangan pernah membuat orang sakit hati, karena hati yang sakit bisa menjadi penyebab keburukan dan kejahatan.

Iya. Selama ini saya selalu memegang teguh nasehat ibu saya. Menghindari hal-hal yang dapat membuat orang sakit hati.

Tapi siapa saya yang bisa mengatur hati orang? Siapa saya yang bisa tau apa yang terdapat di hati orang? Pikiran-pikiran apa? Asumsi-asumsi apa?

Dari kecil, saya juga sering dinasehati seperti ini,

Selalu berbuat baik sama orang lain, karena kamu pasti gak mau kan kalau dijahatin orang? Selalu perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.

Tapi, jaman sekarang ini bahkan berbuat baik pun bisa disalahartikan. Terima kasih untuk teknologi dunia maya, dimana percakapan dan komunikasi sudah mengalami degradasi makna, tentang intonasi nada. Selamat datang dunia bisu. Tidak buta, tapi bisu. Tanpa nada dan intonasi, maka makna akan mengalami penurunan arti dan komunikasi tidak akan terjadi. Orang yang kita ajak ‘berbicara’ seakan tidak menangkap maksud pembicaraan kita. Berbuat normal pun apabila hati yang diseberang sudah mengatakan sesuatu maka persepsi orang tersebut terhadap hal yang kita lakukan juga pasti beda. Persepsi yang hadir atas dasar ekspektasi yang berlebihan sesungguhnya sangat mematikan.

Jadi, dengan postingan ini saya ingin mengklarifikasi kalau saya tidak buta. Hanya saja, mungkin ekspektasi Anda berlebihan. Saya sama sekali gak ada niatan untuk menyakiti. Sama sekali. Sungguh.

Maaf untuk semua orang yang pernah atau masih sakit hati.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s