Antara pertemanan dan profesionalitas: sebuah etika.

Baru saja merasakan betulnya peribahasa ini:

Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akhirnya jatuh juga.
Akan ada kebohongan lainnya di balik kebohongan.
Sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai pada akhirnya akan tercium juga bau busuknya.

Semuanya saya alami sekaligus, pada saat yang bersamaan.

Saya sungguh belajar banyak dari masalah yang saya hadapi saat ini. Gak mungkin juga saya menceritakan disini. Tapi yang pasti, buat teman-teman yang berpikir untuk berbohong sekali saja, perlu ingat bahwa lingkaran pertemanan itu nyata. Itu ada. Dan sudah selayaknya jangan pernah meremehkan lingkaran pertemanan itu.

Sebagai ilustrasi, si A mempunyai hutang kepada si B dalam jumlah yang bisa dibilang cukup besar. Untuk membayar si B, si A menghutang kepada si C. Kepada si C, si A bilang kalau itu untuk membantu dirinya karena kebetulan ATM panitianya dihilangkan oleh si A. Jadi uang itu untuk membayar keperluan acara. Tapi ternyata belum juga dibayarkan kepada si B malahan sudah ada hutang lagi kepada si C. Dan bukan hanya B dan C saja yang dihutangi, tapi juga D, E, F, dan seterusnya. B, C, D, E, F berteman baik. Ada yang berteman karena kenal satu kampus dan ada juga karena satu SMA.
Si C bingung, karena A menjanjikan akan membayar, tapi sampai waktu yang ditentukan datang ternyata tidak ada transfer ke nomor rekening si C. Akhirnya si C mencari si A melalui si B dengan asumsi si B dan C satu kampus. Ternyata *jrengg*, disinilah terbuka semua-muanya.

Suatu waktu semuanya terbongkar, dan ketika terbongkar masih saja si A mengelak dengan melakukan kebohongan lainnya.

Lingkaran pertemanan, seriusan jangan pernah meremehkan hal ini. Mungkin tidak akan terlihat secara kasat mata. Seperti contoh diatas, ternyata B dan C berteman karena satu angkata di SMA, B dan C berteman karena si C merupakan kakak kelasnya. Kemudian terhadap yang lain, kenal karena satu komunitas.

Untuk si A, saya menyayangkan dengan sangat. Kasihan. Kenapa sih harus bohong? Bukannya paling indah itu jujur. Apa susahnya jujur? Dengan jujur kan gak perlu mengarang kebohongan kan? Iya kalau inget bohongnya apa aja, tapi selama ini udah kebongkar banyak banget yang ketauan gak sinkron.

Pertemanan sih pertemanan, tapi profesional juga harusnya iya. Memupuk kepercayaan itu sulit. Walaupun atas nama pertemanan, dan dia berjanji misalnya gak akan melakukan ini lagi tetap saja saya akan sulit unutk percaya lagi. Buktinya kuat, usut punya usut, memang dari SMP kelakuan dia seperti ini. Tentang hutang dan selalu ‘kabur’, gak bisa dihubungi via apapun, selalu menghindar dan mempersiapkan beribu macam alasan.

Untuk kedepannya saya gak akan mau ikut campur urusan si A lagi. Dan gak akan percaya apapun yang keluar dari mulut dia. Sungguh.

Jadi pelajaran banget banget banget untuk si saya.

Semoga kedepannya saya gak ketemu lagi sama orang macem begini ini. Dan semoga juga saya gak menjadi seperti dia.

Amin.

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s