Nasehat si teteh.

Adik saya yang paling kecil akan menghadapi ujian akhir SD. Entah mengapa sekarang nampak sulit sekali untuk masuk ke SMP unggulan atau favorit, ribet. Banyak tesnya. Anak-anak SD yang lain ribut dan heboh cari tempat bimbingan belajar ke sana ke sini.

Pikiran saya menerawang ke memori masa lalu, tentang bagaimana saya dulu. Dulu saya tidak pernah ikut bimbingan belajar selama SD masuk ke SMP. Bukan karena tempat bimbel belum menjamur seperti saat ini, tapi karena tidak ada dananya dan saya tidak berani minta untuk dimasukkan ke bimbingan belajar macem-macem itu. Sempat ada rasa minder karena teman-teman saya bimbel dimana-mana, bahkan kadang sampai 2 tempat sekaligus. Saya? Tidak sama sekali. Takut? Iya. Takut sekali. Takut mereka dapat sekolah dan saya tidak.

Ibu saya bahkan sempat menakut-nakuti bahwa apabila saya tidak masuk ke SMP ungggulan atau favorit, maka saya akan di sekolahkan ke sekolah dekat rumah yang paling saya gak mau. Haha. Ini mungkin trik dari ibu saya, tapi membuat saya termotivasi.

Adik perempuan saya tidak mau mengikuti bimbingan belajar apapun selain yang ditawarkan di sekolah. Bukan karena tidak ada dana dan semua yang serba terbatas, tapi karena malas dan tidak ada teman barengan buat les. Semua teman-temannya les, tapi jauh dari rumah dan sekolah. Akhirnya dia memutuskan untuk belajar di rumah sama saya setiap hari jumat-minggu. Saya menyanggupi.

Masalah mulai muncul karena dia bukan tipe orang yang disiplin. Cenderung mood-moodan. Disaat belajar, ada saja distraksinya. Musik lah, film lah, makan lah. Ya memang tidak bisa disalahkan juga, karena tempatnya di rumah jadi dia cenderung lebih santai. Tapi saya pikir tidak bisa seperti ini. Bayangkan untuk menunggu dia mau belajar saja saya sampai ketiduran.

Motivasi. Satu kata, tapi semua orang harus punya.

Akhirnya suatu hari saya, adik saya, dan ibu saya ngobrol di meja makan. Membicarakan tentang sekolah si adik. Dan pikiran saya kembali berkelana ke masa lalu, dan menanyakan satu hal, apa. Apa motivasi saya dulu sehingga saya bisa lulus dengan NEM paling tinggi di SD saya dan se kecamatan di Duren Sawit juga diterima di 2 tempat, SMP unggulan dan SMP favorit sekaligus tanpa mengikuti bimbingan belajar satu pun.

Jawabannya cuma satu, DISIPLIN.

Tenyata dulu saya sangat disiplin dan strict kalo udah soal belajar. Semua biku soal-soal saya kerjakan. Dari SD saya sudah terbiasa untuk bangun jam 3 pagi. Solat tahajud jam 3 kemudian belajar sampai subuh, tidur lagi stengah jam kemudian mandi, sarapan, dan siap-siap ke sekolah. Terus seperti itu. Pulang sekolah juga belajar. Malam tidak belajar, jadwalnya nonton TV atau baca buku cerita.

Dan satu yang membuat itu menjadi kebiasaan yang terus saya lakukan adalah,

Kalau merasa malas atau bosan atau capek, maka bayangkan apa yang teman-teman saya lakukan saat ini. Masih mau kalah? Kalau mereka belajar sampai jam 11 malam di tempat bimbel, saya juga bisa tapi di rumah. Sama saja.

Pada akhirnya semua hanya tinggal efektivitas dari sebuah waku yang relatif. Kapan berhenti. Kapan memulai. Terus belajar dan bekerja. Atau menyerah kalah karena satu kata, capek.

Pada akhirnya, nasihat ini buat saya juga. Walaupun adik saya langsung menjadi giat belajar dan aktif menanyakan segala hal kepada saya, saya tetap merasa nasihat ini saya keluarkan untuk diri saya sendiri. Yah, kembali harus melakukan self-motivation. Haha.

Sampai bertemu di Sabuga, 13 Juli 2012!!!

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s