Mengeluh, dan Keluhan.

“Lo itu terlalu banyak ngeluh tau, my”
“Oh ya? Tau dari mana?”
“Kalo gak percaya, baca aja tulisan-tulisan, gambar, quotes, atau apapun yang ada di wordpress dan tumblr lo…”

Percakapan bersama si teman baik di suatu senja.
Di pergantian tahun kemarin itu saya membaca ulang semua postingan saya di wordpress, tumblr, blogspot, twitter, dan facebook. Oke buat twitter, gak segitunya juga sih sampe Januari. Jauh bangettt. Gak kekejar sama twitternya. Hahahaa. Tapi untuk wordpress, tumblr, dan blogspot iya, sampe januari 2011.

Mungkin teman baik saya ini benar. Mungkin memang saya banyak mengeluh. Dan benar, memang mengeluh itu tidak baik. Tapi entah kenapa saya puas setelah menuliskannya disini.

Menulis merupakan terapi tersendiri untuk saya setelah berdoa. Orang lain mungkin mempunyai terapinya masing-masing. Ada yang menjadi lega setelah bercerita ke sesama teman, ada yang jadi bisa tarik napas dalem-dalem dan tegap melangkah setelah beribadah, ada yang malah pergi ke luar negeri untuk traveling sambil berharap menjadi ‘segar’ sekembalinya dari melancong tersebut, dan lain sebagainya. Untuk saya, ya menulis ini. Murah meriah.

Jadi, apa ‘nilai’ atau value menulis untuk seorang saya? Penting. Sangat penting. Dulu banget saya pernah punya buku2 yang isinya coretan-coretan senang, marah, haru, tangis, dan ceria dalam bentuk cerpen, puisi, pantun, gambar, atau kadang gak berbentuk apa-apa. Just a simple note, with color. Karena saya suka menulis di atas kertas putih dengan menggunakan pensil warna atau spidol. Tampilan bukunya sendiri berbeda, dibungkus kertas kado. Satu kelas tahu kalau buku itu punya siapa.

Membaca-baca buku itu kembali, saya seperti diputarkan kisah tentang saya yang dulu, seperti potongan-potongan film. Dimana saya yang sekarang (yang lagi baca) menjadi seorang sutradaranya, bukan lagi sebagai pemeran utama. Dari situ saya bisa lihat si pemeran utamanya salahnya dimana, kurang bagusnya dimana, harusnya seperti apa, sehingga nantinya apabila adegan tersebut diulangi kembali, si sutradara (saya yang sekarang) tahu harus men-direct si pemeran utama seperti apa. Si sutradaranya ini dengan bebasnya marah, memberi pujian bahkan cacian, kadang bisa menertawakan juga. Yah, mungkin korelasinya agak ngaco ya karena dua-duanya sama-sama diperankan oleh orang yang sama. Tapi, intinya kurang lebih seperti itu.

Kembali lagi ke masalah mengeluh tadi. Orang gak selamanya bijak terus-terusan. Gak selamanya salah juga terus-terusan. Gak selamanya juga baik terus-terusan. Menyadari bahwa naik-turunnya itu merupakan sebuah life-process yang sifatnya dinamis dan continue itu yang menurut saya penting. Setidaknya penting untuk saya. Kata-kata yang menjadi kalimat-kalimat di blog ini kata-kata saya. Kelabilan saya. Curhatan saya. Keluhan saya. Nasihat yang ditulis disini pun nasihat yang saya berikan kepada diri saya sendiri. Jadi garis besarnya, tulisan ini dari saya dan untuk saya.
Misalnya nanti kalau ada yang baca trus jadi ikutan suka, itu efek samping. Kalau ada yang baca juga jadi gak suka, itu juga efek samping. Tapi saya betul-betul minta maaf kalau ada tulisan disini yang menyinggung hati. Maaf.

Kapan-kapan mau bikin buku juga ah. Untuk konsumsi pribadi tapinya. Hahaha.

Special thanks untuk si teman baik yang sudah memberikan saya banyak masukan. Terima kasih banyak juga untuk obrolan senja, tengah malam, bahkan pagi hari saat sarapan. 

~p.r.p.l.p.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s