tentang peran

Peran.

Sesuatu yang saya dapat sewaktu saya belajar sosiologi, di SMA dulu. Dulu iya-iya aja, dan gak berpikir bahwa peran itu bisa macam-macam. Dulu saya hanya berpikir bahwa peran itu hanya terkait profesi. Iya, hanya terkait profesi, gak lebih. Misalnya, bagaimana seorang pejabat tinggi memperlakukan bawahannya. Atau seorang ibu memperlakukan anaknya. Atau bisa juga seorang loper koran kepada pelanggannya. Hanya sebatas profesi.

Dan dulu juga, ada yang namanya ‘konflik peranan’ dimana si orang atau organisasi itu bingung akan apa yang harus dikerjakan, tentang keputusan apa yang akan dibuat karena dia memiliki peran yang semuanya merasa berkepentingan untuk didahulukan. Contohnya lagi, seorang bapak yang berprofesi sebagai kepala sekolah dan harus menghadapi anak kandungnya yang nakal yang bersekolah di sekolah tersebut.
Tapi setelah dipikir-pikir, ternyata gak hanya sebatas itu.

Tentang peran, setiap orang punya perannya masing-masing. Saya percaya bahwa setiap kali lo dipertemukan dengan seseorang, seseorang itu pasti memberikan peran buat lo. Dan si orang itu juga punya peranan. Mungkin aja memang dia ditugaskan untuk membuat lo lebih baik, atau mungkin malah sebaliknya. Mungkin juga dia dikirim sebagai pengajar dan pendidik si diri supaya menjadi pribadi yang lebih tangguh lagi. Supaya ke depannya lo bisa menjadi lebih bijak dalam melihat hidup.

Peran ini tidak terikat. Tidak pernah.
Dan tidak ada pula orang yang mempunyai peran yang sama terus-terusan. Gak ada orang yang baik sekali, dan gak ada yang jahat sekali.
Kebaikan seseorang dapat menjadi keburukan di mata orang lain. Berlaku sebaliknya, sesuatu yang dianggap buruk oleh seseorang mungkin dilihat sebagai nilai lebih yang positif di mata orang lain.
Iya seperti ini. Dan ketika diri mulai mempertanyakan kenapa harus begini dan kenapa harus begitu, kenapa harus dipertemukan dengan si ini atau si itu, kenapa harus merasakan ini dan kenapa harus merasakan itu, yakini saja kalau semuanya hanya tentang peran.
Namun walaupun semuanya hanya tentang peran, pasti kita akan tetap mengusahakan supaya mempunyai peran yang baik. Perihal bagaimana keterimanya dengan orang tersebut ya sudah bukan diri sendiri yang menentukan.
Sekali lagi, berarti memang peran kita hanya sampai disitu.

Berlaku pula untuk hal yang dirasa tidak enak, pasti nantinya akan tiba saatnya dimana lo bisa menertawakan hal-hal yang dulu lo rasa gak enak dan mensyukuri itu semua. Karena tanpa lo lewati itu semua, gak akan sampai ke fasa ini.

Kalo kata teman saya,
“Emang ya, kita bisa melihat semuanya jadi lebih indah itu ketika kita udah dikasih liat enak-enaknya. Dulu apa yang bakalan terjadi kalo gue gak ngalamin yang gak enak gak enak itu, gak mungkin gue jadi kayak gini. Gak mungkin gue ketemu banyak orang hebat. Dan gue bersyukur.”

~p.r.p.l.h.r.z

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s